<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530</id><updated>2012-01-21T00:52:46.713-08:00</updated><category term='[Next]'/><category term='[Tipping Point]'/><category term='Film'/><category term='Buku'/><category term='Koral Terserak'/><category term='Menurutku...'/><category term='No-smoking Area'/><title type='text'>Pulau Captiva</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>37</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-8223515374304001572</id><published>2010-04-04T18:43:00.000-07:00</published><updated>2010-04-04T18:49:15.535-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='No-smoking Area'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menurutku...'/><title type='text'>Balada Orang-orang Kalah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/S7lBcUe2hCI/AAAAAAAAAJ8/9WJ9Ulpmuuw/s1600/just+quit+it.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 122px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/S7lBcUe2hCI/AAAAAAAAAJ8/9WJ9Ulpmuuw/s200/just+quit+it.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5456464378326320162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Riwayat di sekitar rokok selalu berisi kisah tentang orang-orang kalah. Belum lama berselang, Mujiati, ibunda dari Malang yang punya seorang balita pecandu rokok, menyatakan penyesalannya menyikapi kebiasaan buruk buah hatinya itu. Istri kuli bangunan itu hanya bisa pasrah. Sama dengan penyesalan Kariso, pemilik kios bensin di Depok yang harus kehilangan istri dan seorang anaknya, saat kios bensin miliknya meledak. Sebatang rokok di mulut Kariso adalah sumber malapetaka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujiati dan Kariso hanyalah segelintir dari 70 persen penduduk Indonesia (sekitar 84,7 juta jiwa) yang hidupnya dibuat morat-marit lantaran kebiasaan merokok. Penghasilan yang tidak seberapa, yang diperoleh dengan susah payah, harus tersedot ke pundi-pundi para pengusaha rokok kaya raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang sulit dimengerti jika pemerintah ambigu menghadapi industri madat ini. Keengganan meratifikasi FCTC hanya makin memperjelas betapa pemerintah telah bertekuk lutut alias kalah telak pada kemauan industrialis rokok dunia (ingat, Sampoerna adalah milik Philip Morris dan Bentoel kepunyaan BAT), yang menjadikan bangsa padat penduduk ini sebagai pasar paling menggiurkan. Kalau yang dijadikan alasan adalah pendapatan dari cukai rokok, alangkah naifnya. Itu refleksi dari kemalasan berfikir karena sesungguhnya Indonesia terlalu kaya untuk hanya bertumpu pada sejumput komoditas. Ada begitu banyak jalan terbuka andai saja pemerintah mau dan berani memulainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat DPR akhirnya mengesahkan RUU Kesehatan bulan September 2009 lalu, publik sempat digegerkan oleh hilangnya satu ayat pada pasal 113, yang memuat tentang masuknya tembakau dan produk turunannya sebagai zat adiktif yang berbahaya. Ada tiga anggota DPR yang dilaporkan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas raibnya ayat tembakau itu. Yang lebih mengejutkan, ketiganya adalah wanita alias seorang ibu. Jika mereka terbukti secara sengaja melakukannya, yakin mereka adalah ibu-ibu yang kalah membela nuraninya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deretan daftar orang-orang kalah itu masih bisa ditarik lebih panjang lagi. Seorang ayah yang masih merokok sudah pasti harus mengakui kekalahannya karena ia lebih memihak share holder industri candu dibanding anak-anaknya sendiri. Seorang guru yang merokok amatlah palsu kata-katanya saat ia meminta muridnya mengamalkan hidup bertenggang rasa. Seorang ulama yang merokok pantas merenungi kekalahannya karena ia lebih cinta dunia dari pada ajaran mulia memelihara kesehatan tubuh anugerah Tuhannya. Seorang pria tak pantas merasa menjadi pria sejati bila masih bersembunyi di balik imaji palsu yang ditawarkan iklan-iklan candu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2010 ini diharapkan DPR bisa mengagendakan pembahasan RUU Pengendalian Dampak Tembakau, termasuk di dalamnya larangan iklan rokok. Salut, andai saja benar RUU itu bisa segera diundangkan, diikuti disiplin pelaksanaannya. Jakarta International Java Jazz Festival 2009 lalu bisa berlangsung sukses tanpa sponsor industri rokok. Sepakbola Indonesia yang didanai rokok buktinya justru malah ribut melulu. Jadi, kenapa musti takut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-8223515374304001572?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/8223515374304001572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2010/04/balada-orang-orang-kalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/8223515374304001572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/8223515374304001572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2010/04/balada-orang-orang-kalah.html' title='Balada Orang-orang Kalah'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/S7lBcUe2hCI/AAAAAAAAAJ8/9WJ9Ulpmuuw/s72-c/just+quit+it.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-4819734073066384605</id><published>2010-03-02T20:03:00.000-08:00</published><updated>2010-03-04T17:00:16.239-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Belajarlah Hingga ke Lubuk Kepala Anjing</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/S43iUIn-mnI/AAAAAAAAAJs/3SiSMMh1H7o/s1600-h/what_the-_dog_saw.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 124px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/S43iUIn-mnI/AAAAAAAAAJs/3SiSMMh1H7o/s200/what_the-_dog_saw.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444256360101223026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Andai saja Malcolm Gladwell bersikeras memenuhi impiannya menjadi pengacara, atau tetap nekat (setelah ditolak delapan belas kali) melamar kerja ke biro iklan, bisa jadi penulis berambut kribo itu justru tidak akan begitu dikenal di sini. Untung saja nilai sarjananya kurang bagus, hingga ia tak perlu kuliah pasca sarjana, dan memutuskan untuk menulis -- pekerjaan yang menurutnya berat, serius, tetapi juga asyik, dan dari situ ia membuka mata banyak orang melalui buku-buku larisnya,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; The Tipping Point, Blink!, Outliers&lt;/span&gt;, dan buku terbarunya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;What the Dog Saw&lt;/span&gt; (PT Gramedia Pustaka Utama, Januari 2010, 457 halaman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku keempat dengan judul menggelitik itu berisi kumpulan tulisan MG di majalah The New Yorker sejak tahun 1996. Dipilih berdasarkan kriteria terfavorit menurut penulisnya sendiri, buku ini sekaligus menguak sedikit dapur kreatif MG, sesuatu yang telah lama mengundang penasaran para pembacanya (dan mungkin juga para penulis lainnya). Di mana Anda mendapatkan ide, begitu MG kerap ditanya. Pertanyaan yang ternyata sulit dijawab oleh seorang penulis produktif seperti MG, apalagi buat penulis yang sering kebingungan mendapatkan ide. “Kuncinya,” demikian MG akhirnya memberikan saran, ”meyakinkan diri sendiri bahwa semua orang dan segala hal punya cerita.” Sayangnya,  untuk menumbuhkan keyakinan ini ternyata tidak mudah, karena “naluri kita sebagai manusia adalah menganggap sebagian besar hal tidak menarik.....jika mau menjadi penulis, Anda harus melawan naluri itu saban hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, seperti mengukuhkan pendapat tadi, mengalirlan kisah tentang orang-orang yang oleh MG disebut para genius minor. Alih-alih menceritakan tokoh yang kerap disebut namanya dalam sejarah, di bagian satu buku ini MG mengangkat cerita tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sales person&lt;/span&gt; alat rumah tangga yang pantang menyerah, pencipta saos tomat yang jeli, penulis iklan produk pewarna rambut, penemu pil KB, pelatih anjing dan mungkin satu-satunya kisah tokoh yang ‘agak terkenal’, adalah kisah tentang Nassim Taleb, seorang pemain di bursa saham sekaligus penulis buku laris &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Black Swan&lt;/span&gt;. Dengan semangat ‘semua orang punya cerita’, lahirlah kisah-kisah yang akan membuat kita terpukau dan mulai menyetujui tip dari MG tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh kisah tentang pawang anjing bernama Cesar Millan, yang judul tulisannya dijadikan judul buku ini. Lelaki Meksiko itu menyeberang dari Tijuana ke San Diego, membawa serta bakatnya sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;el Perrero&lt;/span&gt; (‘bocah anjing’), memulai kerja di salon perawatan anjing hingga memiliki bisnis sendiri, Dog Psychology Center, pusat penanganan anjing-anjing bermasalah. Awalnya, MG memang bercerita tentang Millan dan seluk beluk pekerjaan seorang pawang anjing. Kemudian ia mengulasnya dari sudut pandang seorang ahli antropologi yang meneliti bagaimana sebenarnya anjing memandang manusia. “Anjing benar-benar tertarik kepada manusia,” kata kata sang antropolog. “Tertarik sampai ke tingkat terobsesi. Bagi anjing, Anda adalah bola tenis raksasa yang bisa berjalan.” Dari situ MG lalu memasukkan pendapat dua ahli lain. Kali ini ahli perilaku dari University of Wisconsin yang pernah menulis tentang interaksi manusia dengan anjing dan seorang lagi pakar gerakan dan ketua jurusan tari dari University of  Maryland.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan dari kedua pakar ini membawa kisah Cesar Millan bergerak ke uraian menarik tentang bahasa tubuh, bagaimana ‘membaca’ seseorang dari gerakan-gerakan anggota tubuhnya, bagaimana sikap tubuh seseorang tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang tersimpan di lubuk hatinya -- sesuatu yang kemudian bisa ‘dibaca dengan baik’ oleh seekor anjing. MG menutup kisah ini dengan menyinggung ironi seputar hubungan antara manusia dan anjing, saat kedekatan mereka itu justru mulai merusak hierarki hubungan yang seharusnya, saat manusia bisa lebih dekat dengan seekor anjing dibanding manusia lain, sesuatu yang pernah terjadi pada diri Cesar Millan, pria yang mampu memahami anjing-anjing bermasalah namun gagal memahami orang terdekatnya sendiri: istrinya! Begitulah cara MG ‘mengajari’ kita cara menemukan ‘permata terserak’ di antara batuan yang sering luput dari perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terkait dengan ‘segala hal punya cerita’, di bagian kedua dan ketiga buku ini MG menampilkan beberapa kisah seputar kekeliruan manusia memahami informasi yang membanjir di sekitar mereka. Kecenderungan membuat generalisasi, prediksi dan teori-teori, menjadi perhatian di bagian ini (tema yang dibahas lebih mendalam oleh Nassim Taleb di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Black Swan&lt;/span&gt;). Informasi yang melimpah dan mudah didapat dengan bantuan berbagai perangkat teknologi canggih rupanya membawa persoalan tersendiri. Contoh paling menarik untuk kasus ini adalah kegagalan intelijen AS mengantisipasi serangan teroris 9/11. Penyebabnya bukan karena informasi yang kurang! Divisi kontrateroris FBI mendapat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;enampuluh delapan ribu &lt;/span&gt;petunjuk yang belum ditelusuri sejak 1995. Termasuk di dalamnya transkrip percakapan dua orang anggota al-Qaeda yang belakangan (setelah kejadian 9/11) tampak sangat meyakinkan sebagai percakapan untuk merencanakan serangan itu. Masalahnya, tak semua petunjuk itu bisa dibuktikan kebenarannya. Kalau pun benar, belum tentu relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pada buku-buku sebelumnya, melalui tulisan-tulisan singkat di buku ini MG juga banyak menyentil berbagai persoalan yang sudah dianggap ‘selesai’, dengan menampilkan argumen yang boleh dibilang melawan arus. Misalnya saja pada kasus Enron, perusahaan raksasa energi AS, yang menyeret pendirinya,  Jeffrey Skilling, ke pengadilan federal atas tuduhan penipuan. Skilling dinyatakan bersalah karena berbohong kepada para investor mengenai berbagai aspek bisnis Enron. Ia dijatuhi hukuman 24 tahun penjara, salah satu hukuman terberat yang pernah dijatuhkan kepada pelaku kejahatan kerah putih. Benarkah Skilling bersalah? Tidak sesederhana itu ternyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti tuduhan jaksa, Skilling dinyatakan bersalah karena dianggap menyembunyikan berbagai informasi penting dari para investor, termasuk kebenaran menyangkut kondisi keuangan perusahaan. Benarkah Skilling menyembunyikan ‘sesuatu’? Paling tidak ada dua hal yang menyebabkan pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. Pertama, sebagai perusahaan publik, Enron selalu mempublikasikan laporan keuangan mereka yang bisa segera dianalisis oleh para pemerhati investasi di Wall Street, termasuk para wartawan ekonomi. Sebelum Enron dinyatakan bangkrut, seorang wartawan Wall Street Journal bernama Jonathan Weil pernah menelisik laporan keuangan Enron, dan mengangkatnya dalam salah satu tulisannya. Ketika Weil meminta komentar kepada para pejabat Enron, mereka dengan terbuka mengajaknya berdiskusi. Jadi, informasi mana yang disembunyikan Skilling?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua, berkaitan dengan rumitnya informasi di zaman ketika berbagai model bisnis tidak mudah lagi dipahami oleh sembarang orang, bahkan oleh orang dalam perusahaan sendiri. Dalam kasus Enron, pengungkapan aspek-aspek bisnis perusahaan itu melibatkan dokumen setebal tiga juta halaman. Upaya paling maksimal untuk meringkasnya, menghasilkan dokumen setebal seribu halaman spasi tunggal yang tetap tak mudah dipahami. Jonathan Macey, profesor hukum Yale, mengatakan bahwa dalam kasus Enron, tidak ada kebenaran yang tersembunyi. Tahun 1998, tiga tahun sebelum kebangkrutan Enron, kata Macey, enam orang mahasiswa Cornell University membuat tugas yang menganalisis laporan keuangan Enron. Mereka menganalisis setiap tiap cabang bisnis Enron, menggunakan berbagai alat statistik yang dirancang untuk mencari pola dalam performa keuangan perusahaan, meneliti berhalaman-halaman catatan kaki, mengajukan banyak sekali pertanyaan. Dan hasilnya, persis dengan kesimpulan yang dibuat wartawan Wall Street Journal menjelang kebangkrutan Enron tahun 2001, bahwa saham Enron &lt;span style="font-style: italic;"&gt;overpriced&lt;/span&gt;. Jadi, atas dasar apa tuduhan jaksa terhadap Skilling dibuat? Benarkah masalah sesungguhnya bukan karena ada informasi yang disembunyikan, tetapi justru karena begitu banyak informasi yang tersedia—yang sayangnya gagal dipahami para investor?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak pemaparan pendapat MG di buku ini, anda boleh saja tidak setuju, atau mungkin tidak yakin--mengingat pada buku-buku sebelumnya MG mengulas satu topik dalam satu buku penuh, hingga tulisan-tulisan di buku ini jadi terasa amat pendek. Tidak masalah. Sebagaimana diungkapkan MG di bagian pengantar, bahwa tulisan yang bagus dinilai berhasil bukan dari kekuatannya untuk meyakinkan pembacanya, tetapi dinilai dari kemampuannya membuat orang lain merasa terlibat, berpikir dan memahami kilasan pikiran penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini berisi 19 tulisan yang bisa dipilih secara acak tanpa harus berurutan. Ini adalah kumpulan kisah petualangan yang diramu MG untuk menyentil, membuat orang berani mempertanyakan kembali narasi yang sudah dianggap final, dan pada akhirnya mendorong untuk ‘bertualang’ menelusuri sisi-sisi tersembunyi setiap peristiwa, mencari jawaban, kalau perlu sampai ke lubuk kepala seekor anjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-4819734073066384605?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/4819734073066384605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2010/03/belajarlah-hingga-ke-lubuk-kepala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/4819734073066384605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/4819734073066384605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2010/03/belajarlah-hingga-ke-lubuk-kepala.html' title='Belajarlah Hingga ke Lubuk Kepala Anjing'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/S43iUIn-mnI/AAAAAAAAAJs/3SiSMMh1H7o/s72-c/what_the-_dog_saw.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-2985972470341375969</id><published>2010-01-24T16:50:00.000-08:00</published><updated>2010-01-31T17:16:33.189-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Layang-layang Terakhir Amir</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Yang terjadi saat menerbangkan layang-layang, pikiranmu melayang bersamanya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/S2YpDJOfFJI/AAAAAAAAAJU/Kd0YlqZWEg8/s1600-h/kite_runner.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 102px; height: 160px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/S2YpDJOfFJI/AAAAAAAAAJU/Kd0YlqZWEg8/s320/kite_runner.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5433075134462104722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bayangkan seorang anak yang menerbangkan layang-layang di hari cerah berangin. Lembaran kertas tipis yang dilukis warna-warni – dibentuk oleh rangka kecil dari bambu yang diraut hati-hati, melayang megah di tengah warna biru bersih, di antara belasan layang-layang lain. Ia akan dengan gampang merasakan sensasi kecil ini: sebentuk representasi yang terbang gagah, terhubung dengannya melalui seutas benang yang terrentang tegang, dengan begitu ia bisa menarik atau mengulur, mengambil jarak seperlunya kapan pun ia mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Layang-layang menjadi alegori yang menarik di tangan Khaled Hosseini (KH) dalam &lt;i style=""&gt;Kite Runner&lt;/i&gt; (Penerbit Qanita, PT Mizan Pustaka, cet. III Mei 2008, 490 hlm) untuk menjelaskan bagaimana manusia terkait dengan manusia lain dan segala sesuatu di sekitarnya. Amir, tokoh utama kisah ini, seperti umumnya belia &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Afghanistan&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; lainnya, adalah penggemar layang-layang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bersama sahabat sebayanya, Hassan, mereka tak pernah lalai mengikuti turnamen layang-layang di Kabul setiap musim dingin tiba. Amir dibesarkan oleh seorang ayah, Baba, yang kaya dan duda, sementara Hassan tak lain adalah anak pembantu laki-laki keluarga Amir, Ali. Melalui &lt;i style=""&gt;Kite Runner&lt;/i&gt;, KH menampilkan tarik ulur yang memukau antara Amir dan tiga ‘layang-layang’ di tangannya: Hassan, Baba dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Afghanistan&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Persahabatan Amir dan Hassan adalah hubungan pertemanan biasa antara dua orang anak dengan kenakalan masa kecil mereka. Kasih sayang antara keduanya tak bisa ditutup-tutupi. Amir senang membacakan buku-buku cerita kepada Hassan yang buta huruf. Saat Amir mulai gemar menulis cerita, Hassanlah penggemar pertamanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hassan, dengan keluguan seorang yang tidak mengenyam bangku sekolah, kerap membuat repot Amir dengan pertanyaan-pertanyaan bernas. Simaklah kisah ketika Amir membuat cerita tentang seorang pria yang menemukan cangkir ajaib yang mampu mengubah tetesan air mata menjadi butiran mutiara. Pria miskin itu sampai harus membunuh istri tecintanya demi bisa terus menangis dan mendapat mutiara dari airmatanya. Hassan dengan polos bertanya,”...mengapa pria itu harus membunuh istrinya? Mengapa dia harus merasa sedih untuk mengucurkan air matanya? Bukankah lebih mudah kalau dia menghirup aroma bawang merah?”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hubungan dua bersahabat itu bukannya tanpa masalah. Sentimen etnis yang tajam sering menempatkan Amir pada posisi yang sulit. Ia seorang Pashtun, etnis mayoritas di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Afghanistan&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, sementara Hassan berasal dari suku Hazara, suku minoritas yang nyaris dianggap paria. Bergaul dengan seorang Hazara menerbitkan pandangan kurang simpati dan cenderung melecehkan. Di hadapan kawan-kawannya, Amir enggan mengakui Hassan sebagai temannya, walau di kedalaman hatinya ia menyayangi Hassan. Namun masalah paling serius dalam persahabatan mereka adalah kecemburuan. Di mata Amir, ayahnya memperlakukan Hassan terlampau istimewa. Kecemburuan itu menodai tangan Amir dengan fitnah yang memutus hubungannya dengan Hassan, layang-layang pertamanya. Hassan dan ayahnya pergi meninggalkan rumah Amir.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika Soviet melakukan invasi ke &lt;st1:country-region st="on"&gt;Afghanistan&lt;/st1:country-region&gt;, Amir dan ayahnya mengungsi ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Pakistan&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, dan kemudian terbang ke Amerika. Hubungan Amir dan layang-layang keduanya putus. Hampir sepanjang novel itu KH tidak menunjukkan kaitan istimewa antara Amir dan negerinya selain hubungan yang lebih bersifat promordial. Amir seakan-akan lebih nyaman berada di kampung halaman keduanya, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;San Francisco&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Di kampung halaman keduanya itu, Amir berharap mendapatkan kasih sayang seutuhnya dari Baba, layang-layang ketiganya, tanpa perlu dibayangi kecemburuan. Bagi Baba, Amerika adalah hadiah terakhir yang bisa ia berikan kepada Amir. Bagi Amir, Amerika adalah tempat mengubur kenangan dan melupakan dua layang-layang yang telah lepas dari tangannya. Mungkin keinginan Amir melupakan semua kenangan itu, secara menyedihkan, akan sempurna saat ajal menjemput Baba--pria yang luar biasa cintanya kepada Afghanistan, pria yang sebelum mengungsi keluar dari negeri itu menyempatkan diri membawa sejumput tanahnya. Namun, di saat ketiga layang-layang itu telah putus, Amir justru harus kembali ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Afghanistan&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dari titik inilah KH menempatkan Amir layaknya seorang anak yang harus mengejar layang-layang putusnya. Melalui tokoh Rahim Khan, teman ayahnya sekaligus sahabat masa kecilnya, Amir dihadapkan pada alasan di balik keharusan itu. Hassan telah mati saat Taliban berkuasa di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Afghanistan&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Negeri itu pun telah luluh lantak akibat perang berkepanjangan. Tapi Amir harus kembali ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; untuk menjemput layang-layang terakhirnya, seorang anak bernama Sohrab.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sohrab adalah anak Hassan. Secara mengejutkan Amir diberi tahu bahwa Baba, ayahnya, duda kesepian itu pernah ‘mendekati’ istri pembantunya suatu kali, menjadikan Hassan saudara satu ayah dengannya. Dengan kata lain, Sohrab adalah layang-layang sempurna yang mewakili sosok Hassan, Baba, dan tentu saja &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Afghanistan&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Bukankah dalam tubuh Hazara itu juga mengalir darah seorang Pashtun?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Kite Runner&lt;/i&gt; adalah novel pertama yang melejitkan nama Khaled Hosseini. Pujian dari berbagai media memang pantas dialamatkan kepada karya ini diiringi sukses penjualan yang mencapai jutaan kopi. Namun di balik itu, tidak mudah rasanya membaca novel ini tanpa memikirkannya sedikit ‘politis’. Nama-nama seperti &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Afghanistan&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, Taliban, maupun Pashtun (dan Hazara), adalah nama-nama yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari konteksnya. Sebagai karya fiksi, konteks dalam penyebutan nama itu memang tidak sekaku dalam karya non-fiksi. Misalnya saja ketika KH menggambarkan Taliban tentu tak bisa disamakan dengan gambaran Yvonne Ridley, wartawati Inggris yang pernah merasakan penjara Taliban (Anton Kurnia, Dari Penjara Taliban Menuju Iman, Penerbit Mizan, cet. 1 Maret 2007, 186 hlm).&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Barangkali ini yang kemudian memunculkan kritik kepada KH lantaran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ketika &lt;st1:country-region st="on"&gt;Afghanistan&lt;/st1:country-region&gt; dikuasai Soviet, dilanda perang saudara hingga Taliban berkuasa, ia tidak sedang berada di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, tidak mengalaminya. KH sendiri mengakui kekurangan ini seperti diungkapkan dalam wawancara tertulisnya dengan wartawati Tempo, Angela Dewi. Meski begitu, dalam wawancara lain ia mengungkapkan bahwa pengalaman masa kecilnya di Kabul, bermain layang-layang, dan beberapa hal yang digambarkan agak detil di bagian awal novel ini, telah membawanya kembali ke Afghanistan (di bagian akhir novel ini Amir berkata, “Kau bisa menjauhkan orang Afghan dari Paghman, tetapi kau tidak akan bisa menjauhkan Paghman dari orang Afghan”, mungkin sedikit banyak menjelaskan perihal kepulangan KH itu).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;KH tidak menyembunyikan keprihatinannya setelah lebih dari dua puluh tahun tidak menginjakkan kaki di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Afghanistan&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Negeri itu memang butuh perhatian, dan sepertinya KH berusaha mengusiknya melalui karya ini, semacam karikatur untuk sebuah headline berbunyi “Afghanistan Butuh Dukungan Internasional Hingga 15 Tahun Mendatang”. *&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;*) Diungkapkan oleh Hamid Karzai dalam wawancara dengan BBC &lt;st1:city st="on"&gt;London&lt;/st1:city&gt; beberapa saat sebelum konferensi yang membahas krisis &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Afghanistan&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; beberapa waktu yang lalu. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-2985972470341375969?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/2985972470341375969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2010/01/layang-layang-terakhir-amir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/2985972470341375969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/2985972470341375969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2010/01/layang-layang-terakhir-amir.html' title='Layang-layang Terakhir Amir'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/S2YpDJOfFJI/AAAAAAAAAJU/Kd0YlqZWEg8/s72-c/kite_runner.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-2944849510705094355</id><published>2009-12-31T18:44:00.000-08:00</published><updated>2010-01-01T17:19:03.436-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Sang Pemenang Pulang Bertualang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sz1h80DUfzI/AAAAAAAAAI8/ORvv4f6_kEg/s1600-h/The+Winner+Stands+Alone.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 146px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sz1h80DUfzI/AAAAAAAAAI8/ORvv4f6_kEg/s320/The+Winner+Stands+Alone.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421597223816560434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Barangkali benar, musuh terbesar manusia saat ini adalah televisi. Baiklah, berdiri sejajar di sebelahnya, sekutu terdekatnya, media cetak. Keduanya berperan besar dalam merekonstruksi realitas berdasar keinginan segelintir pengkhotbah fetishisme, dan menampilkan hasilnya dalam kemasan memikat, mulus, gemerlap. Masuk akal bila bungkus menjadi segalanya, ia bahkan lebih penting daripada isi, itu pun jika isi masih diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, di mana-mana bungkus selalu dimaksudkan untuk menutupi, mengelabuhi atau menggoda. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kitsch&lt;/span&gt;, menurut istilah Kundera. Karena ia tidak ditujukan untuk merepresentasikan isi. Tapi ia bahkan lebih gaduh. Karena itulah ia menjadi menarik ketika ditampilkan di layar televisi atau direproduksi besar-besaran di media cetak. Jutaan orang dibuat terkesima, terbuai, dan secara tak sadar berusaha menjadi bagian dari hiruk pikuk itu. Dalam konteks budaya ‘kemasan’ inilah novel Paulo Coelho, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Winner Stands Alone &lt;/span&gt;(Gramedia Pustaka Utama, Juli 2009, 468 halaman) menjadi menarik untuk disimak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil setting kota kecil Cannes saat berlangsung festival film tahunan, Coelho mempertemukan tokoh-tokohnya, tidak hanya para pengusaha dan seniman film, tetapi juga – dalam novel ini – orang-orang yang rela mengorbankan apa pun, bersaing dengan sesamanya, untuk bisa menjadi bagian dari sirkus besar itu. Ada Gabriel, mantan pemain drama sekolah yang berambisi besar menjadi seorang aktris film. Maureen, sineas pemula yang sudah mempertaruhkan segalanya untuk membuat sebuah film yang akan ditawarkan ke seorang distributor kenamaan. Dan Jasmine, model kulit hitam yang mulai naik daun dan menjadi incaran desainer kelas dunia. Coelho menguliti sisi-sisi kehidupan tokoh-tokoh itu dengan menarik untuk menegaskan betapa kemegahan yang ditampilkan selama dua belas hari festival itu tak lebih kulit terluar yang menutupi kepalsuan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah ambisi para tokoh yang berkecamuk itu, Coelho menyatukannya melalui tokoh Igor, seorang pengusaha telekomunikasi Rusia, yang datang ke Cannes dengan agenda tersendiri: mendapatkan kembali cinta Ewa, mantan istri yang kini menjadi pasangan hidup Hamid, seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;couturier &lt;/span&gt;ternama. Cara yang ditempuh Igor memang mengerikan: ia melakukan pembunuhan di tengah hingar bingar festival dengan harapan akan menarik perhatian Ewa. ‘Aku akan menghancurkan dunia sampai istriku sadar betapa berartinya dia bagiku dan bahwa aku siap mengambil risiko apa pun untuk mendapatkannya kembali.’ Pengusaha kaya Rusia yang pernah mengenyam ‘pendidikan’ medan perang Afghanistan itu tanpa kesulitan mengakhiri hidup para korbannya dengan berbagai cara yang mengejutkan dan sangat rapi. Satu per satu korban jatuh di tangan Igor, satu per satu dunia ia hancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ironi lain yang ditampilkan Coelho melalui novelnya: di tengah arus budaya kemasan, serba permukaan, dangkal, kematian pun tak lebih dari persoalan yang juga dangkal dan banal. Kasus pembunuhan sekedar bumbu pedas berbentuk breaking news di sela-sela liputan perhelatan serba glamor. Kematian, apalagi dengan cara yang ‘tak wajar’ adalah komoditas menggiurkan bagi media, terutama jika itu menyangkut seorang tokoh publik. Bahkan seorang inspektur polisi pun berkepentingan menjadikan pengusutan kasus ini untuk popularitas pribadinya. Motif dan ritual pembunuhan yang dilakukan Igor pun tak kalah absurd: selepas satu pembunuhan ia lakukan, ia mengirimkan SMS ke Ewa, memberitahukan bahwa ‘aku sudah menghancurkan satu dunia untukmu...’ Seremeh itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentetan pembunuhan yang dilakukan Igor ini mengingatkan pada kasus yang sama yang dilakukan Zodiac. Hingga kini kasus Zodiac dianggap tidak terpecahkan (kisahnya diangkat ke layar film tahun 2007 oleh sutradara David Fincher). Sama halnya dengan Igor, Zodiac juga melakukan pembunuhan nyaris tanpa ciri khusus sebagaimana umumnya kasus pembunuhan berantai. Satu hal yang selalu dilakukan Zodiac sebelum (atau sesudah) pembunuhan adalah menulis pesan ke media massa. Ia mengancam agar pesan itu mendapat tempat terhormat di koran atau sebaliknya ia akan melakukan pembunuhan berikutnya. Sungguh miris bila mengetahui bahwa pembunuh tengik itu melakukan kekejian semata karena ingin menjadi bagian dari berita di koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat untuk ‘mengapung’ di permukaan dan terlihat oleh media menjadi perhatian Coelho. Melalui Gabriela, tokoh yang mengambil porsi cukup banyak di novel ini dan ‘dibiarkan hidup’ hingga akhir, Coelho menampilkan galau orang-orang yang dalam realitas bentukan media dikukuhkan sebagai orang sukses, dianggap pemenang dalam kancah persaingan. Dalam sebuah ‘dialog pengukuhan’ Gabriela sebagai pemenang audisi untuk sebuah peran di film, sutradara film itu memberikan sedikit penegasan: ’Jadi...kau akan hidup bak jutawan dan bisa berlagak bagai bintang besar, tapi ingat satu hal: tidak ada yang nyata...’ Ia juga menggarisbawahi konsekuensi penandatanganan sebuah kontrak ‘ sebelum kau membubuhkan tandatangan, dunia ini milikmu sendiri dan kau bisa berbuat sesuka hati, tapi begitu kau menandatangani kontrak, kau harus melepaskan semuanya.’ Bukan hal yang baru bahwa sejak saat itu kehidupan seorang ‘Gabriela’ tergantung pada citra yang kelak akan didiktekan untuknya dan menjadi selubung cantik saat berada di depan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang bukan cerita dengan logika sebuah novel thriller atau detektif. Gaya bertutur Coelho yang ‘adem’, kadang seperti mengajak untuk merenung (mengingatkan pada novel Sang Alkemis), dan masuk ke kedalaman pikiran seorang Igor, satu-satunya tokoh yang punya cara sendiri dalam melihat fenomena Cannes. Makanya, tak mengejutkan ketika Igor ‘diselamatkan’ dari absurditas pembunuhan acaknya (justru) melalui kemunculan bayangan gadis beralis hitam yang menjadi korban pertamanya. Sosok yang bahkan secara fisik tak nyata ini mampu mengubah orientasi pencarian Igor di belantara Cannes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini Coelho seakan ingin mengatakan bahwa sang pemenang mendapatkan ‘hadiahnya’ justru ketika ia memutuskan untuk melepaskan ‘buruannya’. Rela menukar hasrat fetisnya demi sebuah kedalaman. ‘Jiwa kita menderita, sangat menderita, saat kita memaksanya untuk menjalani kehidupan yang dangkal. Jiwa kita menyukai segala sesuatu yang indah dan dalam.’&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-2944849510705094355?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/2944849510705094355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/12/sang-pemenang-pulang-bertualang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/2944849510705094355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/2944849510705094355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/12/sang-pemenang-pulang-bertualang.html' title='Sang Pemenang Pulang Bertualang'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sz1h80DUfzI/AAAAAAAAAI8/ORvv4f6_kEg/s72-c/The+Winner+Stands+Alone.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-1592032212849331679</id><published>2009-11-29T18:01:00.000-08:00</published><updated>2009-11-29T23:21:21.792-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Sejarah Dan Lain-lain Dalam Sebotol Acar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SxMuyljiLpI/AAAAAAAAAI0/5shDaCwreqw/s1600/MC.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 118px; height: 181px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SxMuyljiLpI/AAAAAAAAAI0/5shDaCwreqw/s320/MC.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409719024011587218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di manakah seharusnya menempatkan sebuah fiksi di antara sekumpulan realitas? Apa yang terjadi saat sejumlah kejadian (yang dianggap) nyata diawetkan di atas selembar kertas koran atau dalam buku-buku sejarah? Bayangkan andai kemudian di atasnya tertumpuk potongan/kliping cerita pendek atau buku novel yang telah kehilangan sampul. Bagaimana selanjutnya memisahkan fiksi dan yang non-fiksi dari tumpukan itu? Atau meminjam istilah Sapardi, yang mana berita yang mana cerita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu tidak penting barangkali. Bahkan untuk novel karya Salman Rushdie, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Midnight’s Children&lt;/span&gt; (PT Serambi Ilmu Semesta, Agustus 2009, 689 halaman), yang diakui penulisnya, begitu dekat dengan perjalanan hidupnya, dan sejarah India sebagai latarbelakang. “Di barat orang cenderung membaca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Midnight’s Children&lt;/span&gt; sebagai novel fantasi, sedangkan di India orang memandangnya novel realis, hampir menyerupai sejarah.” Ini tentu disadari sepenuhnya oleh Rushdie, misalnya saat ia memasukkan nama-nama tokoh di dunia nyata –baik di kehidupan pribadi maupun tokoh nasional-- ke dalam novelnya, seakan tak ada nama lain yang lebih pantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu. Simaklah bagaimana Rushdie membuka novelnya dengan tarian indah di ruang sempit antara berita dan cerita,” Aku dilahirkan di Bombay...pada suatu masa. Tidak, itu tidak cukup, kita tidak bisa menghindari tanggal: Aku lahir di Rumah perawatan Dokter Narlikar pada 15 Agustus 1947; Dan jam berapa? Jam juga penting. Baiklah kalau begitu: pada malam hari. Tidak, ini perlu ditambahkan... Persis saat tengah malam, sebenarnya. Kedua jarum jam merapatkan telapak tangannya dalam sambutan hormat saat aku datang.” Keseluruhan novel itu sendiri adalah penuturan tokoh Saleem Sinai (sulit untuk tidak menisbahkannya sebagai Rushdie) dengan gaya setengah mendongeng kepada sang "penyimak", Padma (baiklah, di kehidupan nyata, salah satu istri Rushdie juga bernama Padma, sekalipun mereka menikah jauh setelah novel itu ditulis), sebagaimana Syahrazad mendongeng untuk Pangeran Syahriar di Kisah Seribu Satu Malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka beginilah inti dari ‘dongeng’ Saleem kepada Padma. Tanggal 15 Agustus 1947 baru mulai bergulir ketika dua orang bayi lahir di tempat yang sama, di waktu tengah malam yang sama. Seorang perawat yang sedang dirundung masalah secara sengaja menukar label nama kedua bayi tersebut, “memberi bayi yang miskin kehidupan istimewa dan menghukum anak keluarga kaya dengan akordion dan kemiskinan...” Tepat pada waktu yang sama juga, Jawaharlal Nehru memproklamirkan kemerdekaan India dari Britania Raya. Dua orang bayi lahir dan menjadi cermin bagi kutub-kutub sebuah negeri “yang semacam mimpi”, kaya-miskin, hindu-islam, sipil-militer, pusat-pinggiran, barat-timur, dst. Ketegangan antara kutub-kutub itu mewujud dalam kehidupan Saleem (dan alter egonya, Shiva) karena anak-anak yang lahir tepat tengah malam bersamaan dengan kelahiran sebuah negara merdeka “adalah juga anak-anak waktu: berayahkan sejarah..” Lewat penuturan tokoh Saleem, satu diantara ratusan anak-anak tengah malam, potret perjalanan India --  “sebuah fiksi kolektif yang di dalamnya segala sesuatu adalah mungkin”, ditampilkan. Dan pembaca seperti diajak melihat adegan-adegan yang dihasilkan dari proses zoom in terhadap narasi besar sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama berisi gambaran leluhur Saleem hingga saat-saat menjelang kelahirannya. Bagian kedua, bagian terbesar dari novel ini, menceritakan kelahiran Saleem (dan India), masa sekolahnya (euforia India muda, pemilu, rencana pembangunan lima tahun), persaingannya dengan Shiva di Midnight Children Conference (pertikaian India-Pakistan), hijrah ke Pakistan (kekalahan India dari China di Himalaya dan gencatan senjata), kematian kakeknya, Aadam Aziz (kematian ayah India, Jawaharlal Nehru), hingga musnahnya keluarga Saleem akibat perang (akhir perang India-Pakistan). Bagian ketiga mengisahkah kembalinya Saleem ke India, di saat Partai Kongres Baru dan Indira Gandhi berkuasa, sampai pertemuannya dengan perawat -- yang pernah menukar ‘nasibnya’ dengan Shiva, dan Padma, kepada siapa biografi ini dituturkan oleh Saleem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian akhir novel ini pula, Saleem menuturkan bagaimana sejarah yang diawetkan serupa acar dalam botol-botol itu – tiga puluh jenis acar mewakili tiga puluh bab kisah autobiografis – bisa saja tidak persis seperti itu. “Terkadang, dalam sejarah versi acar, ...aku harus merevisi dan merevisi, meningkatkan dan memperbaikinya, tetapi tidak ada waktu maupun energi. Aku terpaksa menawarkan kalimat keras kepala ini saja: Itulah yang terjadi karena memang demikianlah yang terjadi.” Dengan kata lain apa yang ada dalam botol-botol acar itu bisa saja sejarah, dan bisa dongeng, bisa juga campuran tertentu dari keduanya. Lalu bagian mana yang nyata dan bagian mana yang bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu tidak penting lagi barangkali, sungguh pun ada beberapa pihak yang pernah terlanjur gerah sesaat setelah menyimaknya. Indira Gandhi, semasih berkuasa tahun 1984, pernah melayangkan keberatan atas kalimat di bab 28 novel ini yang dinilai sebagai fitnah. Masalah ini memang tidak sampai meruncing ke pengadilan, dan kalimat kontoversial itu akhirnya dicabut dari novel ini. Terlepas dari itu, novel ini memang lebih mudah dinikmati sebagai catatan subyektif seorang saksi sejarah tanpa perlu ada keharusan untuk melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alignment &lt;/span&gt;dengan catatan sejarah yang dianggap resmi. Dengan begitu akan terbuka semua alternatif pemaknaan atas narasi yang ditawarkan oleh Rushdie. Juga kekayaan literer yang mengalirkan berbagai sugesti (sinisme dalam kritik sosial, misalnya) sesuai bumbu yang  ditambahkan Rushdie ke dalamnya. Dalam istilah Rushdie, semua itu adalah acar, tak lebih dan tak kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Midnight’s Children&lt;/span&gt; adalah salah satu karya terpenting Rushdie, kalau bukan yang terbaik. Dinobatkan sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Booker of Bookers Prize Winner&lt;/span&gt; tahun 1993 dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Best of The Booker Prize Winners&lt;/span&gt; tahun 2008, penghargaan khusus untuk sastra berbahasa Inggris di seluruh Inggris Raya, menunjukkan bahwa karya ini bisa mengatasi proses pelapukan oleh zaman, setidaknya sampai lebih dari 25 tahun sejak pertama kali diterbitkan. Cara bertutur Rushdie yang unik, ‘percaya diri’, dan segar bisa dinikmati pembaca dengan baik berkat penerjemahan yang bagus oleh Yuliani Liputo. Andai saja versi terjemahan ini dicetak dengan material yang lebih bagus tentu akan lebih representatif untuk sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;masterpiece&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-1592032212849331679?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/1592032212849331679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/11/sejarah-dan-lain-lain-dalam-sebotol.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/1592032212849331679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/1592032212849331679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/11/sejarah-dan-lain-lain-dalam-sebotol.html' title='Sejarah Dan Lain-lain Dalam Sebotol Acar'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SxMuyljiLpI/AAAAAAAAAI0/5shDaCwreqw/s72-c/MC.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-1172269936697592615</id><published>2009-10-12T03:10:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T22:03:48.681-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Sarapan Bersama Capote</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/StMA3q23lDI/AAAAAAAAAIc/Zdiqo9-zJRI/s1600-h/BreakfastAtTiff.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 124px; height: 196px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/StMA3q23lDI/AAAAAAAAAIc/Zdiqo9-zJRI/s200/BreakfastAtTiff.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391654135289844786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mencari tempat sarapan yang asyik di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;New York&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;? Tanyakan kepada Holly Golightly, maka jawabannya adalah toko perhiasan Tiffany. Datanglah pagi hari saat toko itu masih tutup. Kalau beruntung, kita akan menjumpai sosok langsing cantik sedang mengunyah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;croissant&lt;/span&gt;, menyesap kopi dari gelas kertas sambil matanya yang tertutup kacamata hitam besar itu tak puas-puas menatap etalase. Jangan hanya terpesona oleh tubuh ramping sesehat sereal sarapan, yang meruapkan kesegaran sabun dan lemon, dan semburat merah jambu di pipinya. Karena di hadapan kita Holly akan terbuka seperti sebuah buku cerita. Semakin lama kita terbuai kisahnya, semakin berat kita menanggung risiko untuk jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tak penting benar apakah kisah itu nyata atau bualan belaka. Semuanya sama saja, mantera hipnotis yang akan membuat para pria termehek-mehek mengharapkan cintanya. Benarkah itu cinta? Novel pendek Truman Capote, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Breakfast at Tiffany’s&lt;/span&gt; (PT Serambi Ilmu Semesta, Februari 2009, 163 halaman), tidak persis menjawab pertanyaan itu. Sekilas novel ini sekedar berisi penuturan tokoh ‘aku’ (dalam versi film bernama Paul Varjak) tentang Holly Golightly, wanita penghibur kelas atas yang ia ‘cintai’ namun, sebagaimana para pria lainnya, ia gagal memilikinya. Paul bukanlah dari golongan pria yang ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mampu membayar &lt;/span&gt;&lt;st1:place style="font-style: italic;" st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;puluh dolar untuk ke toilet&lt;/span&gt;’. Kedekatannya dengan Holly semata karena tempat tinggalnya yang satu apartemen plus wajahnya yang mirip saudara kandung Holly, Fred.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/StMCLVkffgI/AAAAAAAAAIk/okIrzolA4fc/s1600-h/BAT01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 125px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/StMCLVkffgI/AAAAAAAAAIk/okIrzolA4fc/s200/BAT01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391655572684635650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kalau menyimak bagaimana Holly memperlakukan para pria (dan dicintai dengan berbagai cara oleh para penggemarnya), barangkali novel ini melulu cerita mengasyikkan tentang ‘taktik bisnis’ Holly untuk mempertahankan hegemoninya atas laki-laki. Tapi melalui Breakfast at Tiffany’s rasanya Capote seperti sedang mengolok-olok kegamangan manusia menghadapi keinginan (dan perasaannya) sendiri. Dengan memasang tokoh-tokoh serba karikatural (terlihat lebih jelas dalam versi film-nya), Capote leluasa menceritakan kegamangan itu, kadang dengan kalimat yang menggelitik. Misalnya saat Holly, waktu berusia 14 tahun, dilamar oleh dokter hewan 50-an tahun yang telah menyelamatkannya dari kepapaan, Holly dengan ringan berkata, ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tentu saja kita akan menikah. Aku belum pernah menikah...&lt;/span&gt;’ Semudah itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Simak juga bagaimana misalnya Joe Bell, salah seorang penggemar berat Holly, mengungkapkan perasaannya: ’&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tentu saja aku mencintainya. Tapi bukan berarti aku ingin menyentuhnya.. Bukannya aku tidak pernah memikirkan sisi yang itu. Bahkan bagi orang seumurku, aku akan berumur enam puluh tujuh.... semakin tua diriku, sisi yang itu semakin mengisi pikiranku...&lt;/span&gt;’ Beberapa kali tokoh ‘aku’ kesulitan menafsirkan sikap Holly. Menyaksikan Holly sarapan di depan Tiffany’s terasa sama menyedihkannya dengan melihat para pria mengharap remah-remah cinta dari seorang wanita penghibur.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tema cerita seperti ini juga disinggung penulis lain seperti Milan Kundera melalui The Unbearable Linghtness of Beings (Fresh Book, Jakarta 2007, 455 halaman). Hanya saja, Kundera membicarakannya dengan cara ‘lebih serius’. Baginya, wajar bila manusia sering tidak yakin dengan apa yang diinginkannya, ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;...karena manusia hanya mempunyai satu kehidupan, sehingga tidak dapat dibandingkan dengan kehidupan lain yang pernah dijalani...&lt;/span&gt;’ Sekalipun tiap manusia sudah mempunyai semacam tugas/garis hidup (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;es muss sein&lt;/span&gt;) masing-masing, ada kalanya sepanjang perjalannya mereka menemukan semacam kebetulan-kebetulan (tak terduga), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;coinsidence &lt;/span&gt;yang sering membuat gamang. Sayangnya, manusia tak bisa ber-eksperimen untuk menguji apakah mereka harus mengikuti keinginan/perasaannya atau tidak, demikian Kundera.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Berbeda dengan versi film-nya yang dibuat happy ending (dan bagi Capote itu sebuah pengkhianatan), novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Breakfast at Tiffany’s&lt;/span&gt; ditutup lebih cantik justru dengan membiarkan Holly mengembara mengikuti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;es muss sein&lt;/span&gt;-nya. Tak jelas apakah di Brazil atau di salah satu sudut Afrika. Yang pasti tidak sesederhana nasib kucing peliharaan Holly yang sudah punya tuan baru, sekalipun tokoh ‘aku’ berharap Holly pun menemukan tempatnya yang tepat. Mungkin bagi Capote, ending yang tuntas seperti versi film-nya akan menyederhanakan novel pendek ini menjadi sekedar sebuah cerita. Bukan sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;statement&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-1172269936697592615?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/1172269936697592615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/10/sarapan-bersama-capote.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/1172269936697592615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/1172269936697592615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/10/sarapan-bersama-capote.html' title='Sarapan Bersama Capote'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/StMA3q23lDI/AAAAAAAAAIc/Zdiqo9-zJRI/s72-c/BreakfastAtTiff.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-3253480486314399841</id><published>2009-09-09T22:26:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T22:42:03.810-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='[Tipping Point]'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Menelisik Titik Lenting</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SqiRgI2D29I/AAAAAAAAAIU/nJWjXTZeRdo/s1600-h/Tipping_Point.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SqiRgI2D29I/AAAAAAAAAIU/nJWjXTZeRdo/s200/Tipping_Point.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379709736210127826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah merek yang nyaris masuk liang lahat tiba-tiba bangkit bahkan menemukan kembali kejayaannya gara-gara ulah iseng sekelompok anak muda yang ingin tampil beda. Merek yang beruntung itu adalah Hush Puppies. Akhir tahun 1994 Wolverine, perusahaan yang membuat Hush Puppies, sudah mempersiapkan ‘pemakaman’ bagi merek itu dengan merencanakan penghentian produksi sepatu kulit klasik Hush Puppies. Namun niat itu urung dilaksanakan lantaran mereka melihat sebuah keajaiban. Beberapa remaja iseng yang ingin tampil beda memakai sepatu Hush Puppies yang sudah ketinggalan jaman. Keisengan ini diikuti oleh remaja lainnya sampai kemudian menyebar tak terkendali. Toko sepatu loak yang menjual Hush Puppies diserbu pembeli. Seorang perancang adi busana bahkan menjadikannya salah satu pelengkap koleksi musim semi. Pesanan sepatu baru pun mendadak mengalir ke pabrik Wolverine bagai air bah. Hanya dalam kurun dua tahun Hush Puppies kembali sehat wal afiat. Sebuah tindakan kecil tanpa sengaja itu telah menyelamatkan sebuah merek besar dari kematiannya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kecil itu esensiil, kata Arifin C Noer saat menjelaskan nama kelompok teaternya (Teater Ketjil). Tak banyak yang seperti Arifin, mau memberi perhatian pada hal-hal kecil, apalagi ketika berbicara tentang ide-ide besar, perubahan-perubahan besar. Contoh di atas adalah kisah pembuka dari buku Tipping Point, tulisan Malcolm Gladwell (PT GPU, 2007). Sub judul buku ini, Bagaimana Hal-hal Kecil Berhasil Membuat Perubahan Besar,  cukup provokatif dan menggelitik. Gladwell mengajak kita menelusuri ide-ide sederhana yang mampu menjalar bagai epidemi dan kemudian menghasilkan sebuah perubahan besar. Dan yang lebih penting dari semua itu, tentu saja, bagaimana membuat dan mengendalikan secara sengaja epidemi positif ciptaan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tipping point&lt;/span&gt; adalah sebutan untuk saat dramatis ketika segala sesuatu dapat berubah total secara sekaligus. Dalam kasus Hush Puppies di atas, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tipping poin&lt;/span&gt;t terjadi saat orang-orang mulai beramai-ramai mengikuti ulah iseng para remaja memakai sepatu Hush Puppies. Di situ ada tiga hal yang terjadi dan menjadi ciri khas sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tipping point&lt;/span&gt;, yaitu sifat menular, kenyataan bahwa perubahan itu berawal dari ide yang sederhana, dan adanya perubahan yang dramatis dalam kurun waktu relatif singkat. Kalau dalam kasus Hush Puppies &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tipping point&lt;/span&gt; itu terjadi secara tidak sengaja, lantas bagaimana kita merancang sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tipping point&lt;/span&gt; yang disengaja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gladwell menjelaskannya melalui tiga kaidah epidemi, yaitu Hukum yang sedikit (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the Law of the Few&lt;/span&gt;), Faktor Kelekatan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the Stickiness Factor&lt;/span&gt;) dan Kekuatan Konteks (t&lt;span style="font-style: italic;"&gt;he Power of Context&lt;/span&gt;). Gagasan mengenai tipping point memang tak bisa dilepaskan dari fenomena epidemi, penularan ‘penyakit’ secara cepat dan tak terelakkan. Ada tiga faktor berperan di situ, yaitu: orang yang bertindak sebagai peng-infeksi, sesuatu yang ditularkan dan lingkungan tempat terjadinya wabah. Jadi, hal pertama yang harus dimiliki untuk sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tipping point&lt;/span&gt; yang disengaja adalah: orang yang bertindak sebagai peng-infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum yang sedikit menjelaskan bahwa orang yang bisa berperan sebagai peng-infeksi itu jumlahnya tidak banyak. Ada sejenis ketrampilan sosial yang wajib dimiliki orang tersebut. Gladwell menyebut tiga kelompok orang, yaitu: para penghubung (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the connector&lt;/span&gt;), para bijak bestari (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mavens&lt;/span&gt;) dan para penjaja (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;salesman&lt;/span&gt;). Ketiganya berbeda hanya dalam cara mereka bekerja. Namun ada satu hal yang menyamakan mereka yakni adanya semacam bakat dan ketrampilan sosial yang khas. Baik penghubung, para bijak bestari maupun para penjaja, adalah orang-orang yang menarik, persuasif, peka, dan punya kepedulian yang tulus. Mereka dikenal dan mengenal banyak orang. Mereka mempunyai kemampuan menularkan emosi kepada orang lain (merujuk pada buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Emotional Contagion&lt;/span&gt;, E. Hatfield dan J. Cacioppo). Temukan mereka, dan Anda sudah punya satu modal untuk membuat sebuah tipping point terencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua adalah faktor kelekatan, berkaitan dengan pesan atau gejala yang ditularkan. Sebagaimana dimaklumi, era banjir informasi dewasa ini memberikan masalah tersendiri bagi penyampai pesan untuk menarik perhatian dan melekatkan informasi di benak khalayak. Di bagian ini Gladwell mengedepankan contoh tayangan Sesame Street dan Blue’s Clues, serta keberhasilan trik pemasaran sederhana Wunderman, yang dari contoh itu terbukti bahwa faktor kelekatan rupanya tidak melulu berkaitan dengan substansi/kualitas pesan yang ingin disampaikan tetapi justru pada sebuah gagasan sederhana tapi tepat waktu. ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Faktor Kelekatan menawarkan sesuatu yang berbeda sekali. Prinsip ini menyodorkan pandangan bahwa masalahnya mungkin tidak berhubungan sama sekali dengan konsepsi pesan secara keseluruhan.&lt;/span&gt;’ Pada tayangan Sesame Street dan Blue’s Clues, gagasan sederhana itu berupa pengulangan tayangan, penyampaian pesan dalam struktur naratif, dan melibatkan penonton secara aktif dalam keseluruhan pertunjukan. Mirip dengan ini, Wunderman yang menangani perusahaan rekaman Columbia membuat sebuah iklan interaktif di mana pemirsa TV yang melihat tanda kotak emas tertentu pada iklan Columbia di majalah, berhak mendapat hadiah menarik dari Columbia. Trik ini memaksa pemirsa untuk menunggu-nunggu dan melihat iklan Columbia di televisi serta memberi perhatian pada iklan Columbia versi cetak di majalah. Nah, tugas Anda yang kedua berkaitan dengan Faktor Kelekatan adalah keluar sebentar dari substansi pesan yang ingin disampaikan dan menemukan sebuah cara sederhana yang membuat pesan itu mengalir tak terbendung ke benak khalayak dan bertahan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan konteks menjadi bagian terbesar pembahasan di buku ini, kalau bukan faktor terpenting dari tiga syarat terjadinya tipping. ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kekuatan konteks merupakan argumen yang mengacu ke lingkungan (enviromentalism)...bahwa perilaku adalah sebuah fungsi dalam konteks sosial.&lt;/span&gt;’ Bedanya, Kekuatan Konteks mengacu pada hal-hal kecil yang berperan dalam sebuah perubahan. Gladwell mencontohkan kasus penurunan drastis kejahatan di kereta bawah tanah New York City awal tahun 90-an. Bukan karena sebuah gagasan besar atau tindakan luar biasa, tetapi karena ide sederhana menghapus grafiti dan menangkal aksi corat coret di kereta. ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kejahatan-kejahatan kecil, pelanggaran-pelanggaran remeh, yang lazimnya dianggap tidak signifikan....sesungguhnya merupakan Tipping Point menuju kejahatan-kejahatan besar&lt;/span&gt;.’ Lingkungan gerbong yang jorok penuh grafiti mengisyaratkan tidak adanya kendali di lingkungan itu yang akhirnya mendorong tindakan kejahatan yang lebih besar (teori &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Broken Windows&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya membuat lingkungan (konteks) yang tepat bagi sebuah tipping point agaknya menjadi upaya yang paling sulit dibanding dua upaya sebelumnya. Ini juga yang menjadi semacam hambatan bagi realisasi ide tipping point secara keseluruhan. Apalagi bila upaya itu ternyata tidak lagi bisa dianggap sebuah ‘upaya kecil’. Seperti misalnya pada contoh kasus menanggulangi dampak tembakau. Gladwell antara lain mengusulkan pengurangan kadar nikotin sampai pada batas di bawah kadar yang bisa menyebabkan ‘kelekatan’. Tentu ini membutuhkan intervensi pemerintah. Dalam konteks Indonesia, tentu ini menjadi upaya yang tidak kecil mengingat Pemerintah sendiri masih mendua menyikapi kebiasaan merokok ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak, gagasan tipping point ini memberi kita satu harapan pada perubahan positif dengan satu langkah (kecil) yang cerdas. Adakalanya usaha yang melibatkan sumberdaya yang besar tidak membawa perubahan yang diinginkan karena tidak melibatkan orang-orang yang tepat, cara yang sederhana namun cerdas, dan lingkungan yang mendukung terlaksananya perubahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-3253480486314399841?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/3253480486314399841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/09/menelisik-titik-lenting.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/3253480486314399841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/3253480486314399841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/09/menelisik-titik-lenting.html' title='Menelisik Titik Lenting'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SqiRgI2D29I/AAAAAAAAAIU/nJWjXTZeRdo/s72-c/Tipping_Point.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-1761170913585920806</id><published>2009-08-28T19:41:00.000-07:00</published><updated>2009-08-28T19:45:26.589-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='No-smoking Area'/><title type='text'>[Tipping Point] Amnesia Penanggulangan Rokok</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SpiVj_3ageI/AAAAAAAAAIE/xx7o6_q9B1U/s1600-h/cigarette_def.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 283px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SpiVj_3ageI/AAAAAAAAAIE/xx7o6_q9B1U/s400/cigarette_def.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375210600938504674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada peringatan hari tanpa tembakau sedunia tahun 2003 Menteri Kesehatan RI (saat itu Dr. Sujudi) menyatakan bahwa paling lambat tahun 2005 Indonesia akan memiliki Undang-Undang Anti rokok, menyusul kesepakatan negara-negara yang tergabung dalam badan kesehatan dunia (WHO) untuk mulai memberlakukan The WHO Framework Convention on Tobacco Control. Sayangnya, pernyataan Menkes seperti lenyap diterbangkan angin. Usulan UU anti rokok itu bahkan pernah ditolak DPR periode 2006-2007. Akhir tahun 2008 lalu usulan itu masuk lagi ke DPR, namun hingga kini belum ada tanda-tanda pembahasan undang-undang tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dimaksudkan dalam FCTC, paling tidak UU anti rokok itu bisa melarang kampanye perusahaan rokok yang tanpa kendali seperti sekarang ini. Sulit dipahami bahwa perusahaan rokok seperti dibebaskan melakukan segala hal untuk memengaruhi orang terutama dari usia belia untuk mulai merokok. Pembagian rokok gratis di mall, di konser musik bahkan di pertandingan olah raga, sudah bukan hal aneh lagi. Kita tahu, sebagaimana penelitian yang diungkap MG di Tipping Point, usia 12 tahun – 18 tahun adalah saat awal seseorang biasa mulai merokok. Jika pada usia tersebut mereka sudah merokok melebihi ambang batas tertentu (5 mg nikotin per hari), sangat mungkin mereka akan menjadi pencandu hingga tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, sangat penting untuk memutus mata rantai ini. &lt;span id="fullpost"&gt; Dan ini sepertinya disadari benar oleh industri rokok. Andai mereka tidak menggarap segmen usia remaja, sangat mungkin mata rantai itu putus. Saat para pecandu tua hilang dan tidak ada ‘penerusnya’, mereka harus siap-siap gulung tikar, beralih usaha atau memindahkannya ke negara lain, seperti yang dilakukan para ‘saudagar penyebar maut AS’ (meminjam istilah William Ecenbarger, America’s New Merchants of Death), di Indonesia. Ini pula yang mungkin menjadi ‘latar belakang’ betapa sulitnya meng-gol-kan sebuah UU anti rokok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar ilustrasi bagaimana para pelobi dari industri rokok memengaruhi para wakil rakyat di AS pada tahun 90-an, seperti dikutip George Milowe di situs &lt;a href="http://www.encognitive.com/node/7272"&gt;encognitive.com&lt;/a&gt; berikut ini : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;In the 1991-92 election period, tobacco lobbyists gave $2.3 million to Congressional candidates. Phillip Morris and RJR Nabisco were among the top seven corporate donors. Tobacco interests also gave $2.5 million to the Republican and Democratic parties." Also, under pressure from tobacco lobbyists in the 1980's, the U.S. Trade Representative helped to force open the markets of Japan, South Korea, Taiwan, and Thailand to U.S. tobacco companies, challenging these countries' and-tobacco health measures as unfair trade barriers, and insuring a tremendous growth of tobacco use, including amongst young people.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kegamangan dan amnesia para wakil rakyat dalam membahas dan mengesahkan UU anti rokok tersebut, langkah yang diambil beberapa perguruan tinggi seperti Unissula Semarang, Unsoed Purwokerta, dan belakangan juga UGM Yogyakarta yang melarang semua bentuk promosi rokok di wilayah kampus, perlu mendapat apresiasi yang tinggi. Harapan kita tentu langkah ini diikuti oleh semua perguruan tinggi di Indonesia. Dengan harapan, meminjam penalaran tipping point, bisa menjadi sebuah langkah kecil bagi sebuah perubahan besar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-1761170913585920806?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/1761170913585920806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/08/tipping-point-amnesia-penanggulangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/1761170913585920806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/1761170913585920806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/08/tipping-point-amnesia-penanggulangan.html' title='[Tipping Point] Amnesia Penanggulangan Rokok'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SpiVj_3ageI/AAAAAAAAAIE/xx7o6_q9B1U/s72-c/cigarette_def.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-4720085666068092066</id><published>2009-08-21T18:48:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T19:13:05.566-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='[Tipping Point]'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='No-smoking Area'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menurutku...'/><title type='text'>[Tipping Point] Tentang Brand Community</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/So9QYiZvi8I/AAAAAAAAAH0/dRy9NiCtopI/s1600-h/bango.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 141px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/So9QYiZvi8I/AAAAAAAAAH0/dRy9NiCtopI/s200/bango.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372601262958152642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Silih Agung Wasesa, pakar pemasaran dan public relation, beberapa waktu lalu menulis di majalah Marketing edisi Agustus 2009 tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Community Advertisement&lt;/span&gt;. Di situ dia mengungkapkan kecenderungan merek-merek untuk melakukan kegiatan aktivasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;brand community&lt;/span&gt;, yaitu sebuah upaya menanamkan kesadaran dan loyalitas merek melalui kegiatan yang melibatkan konsumen atau komunitas konsumen. Dia mencontohkan Nesvita yang membuat tantangan kolesterol, Lifebuoy dengan program Super-Dad-nya atau tantangan Rinso untuk ibu-ibu rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berlebihan jika banyak merek (terutama merek besar dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;market leader&lt;/span&gt;) rela mengguyurkan sejumlah dana untuk kegiatan itu. Toh jika program itu tepat sasaran biayanya masih jauh lebih rendah dibanding beriklan di media. ‘...untuk anggaran iklan 5 miliar, maka hanya dibutuhkan maksimal 2 miliar untuk mencapai efektifitas yang sama kuatnya (dengan program &lt;span style="font-style: italic;"&gt;community advertisement&lt;/span&gt;, ym)’. Sayangnya, masih menurut Silih Agung, beberapa kegiatan yang melibatkan komunitas tidak menuai hasil yang diharapkan. Penyebab yang paling menonjol setidaknya ada 2, yaitu: salah memilih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;brand endorser&lt;/span&gt; dari dalam komunitas yang digarap dan keliru menentukan issue atau informasi yang bisa membuat anggota komunitas menjadi bersemangat untuk berbagi.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pemaparan Silih Agung ini agaknya senada dengan penjelasan Malcolm Gladwell tentang syarat-syarat terjadinya sebuah epidemi perubahan (Tipping Point), yaitu: Hukum tentang Yang Sedikit (the Law of the Few), Faktor Kelekatan (the Stickiness Factor), dan Kekuatan Konteks (the Power of Context). Mengenai Hukum tentang Yang Sedikit, MG berkisah tentang orang (atau sekumpulan orang) yang memang memiliki kelebihan dalam hal menularkan sebuah informasi dan menjadikannya titik awal perubahan. Dalam istilah MG orang-orang yang memiliki ketrampilan sosial yang langka, yang dia kelompokkan menjadi tiga jenis manusia, yaitu Para Penghubung (Connector), Para Bijak Bestari (Mavens) dan para Penjaja (Salesman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Penghubung adalah mereka yang memiliki bakat khusus yang memungkinkan orang sedunia saling berhubungan. Kita tentu pernah mengenal orang-orang jenis ini, orang yang senang menghubungkan/mengenalkan kita dengan orang-orang lain. Sudah pasti mereka mengenal dan dikenal banyak orang. Kenal bukan dalam pengertian sok akrab atau agresif menjalin hubungan dengan orang lain karena ada ‘sesuatu’ yang diharapkan dari hubungan itu. MG menggambarkan Para Penghubung sebagai orang yang memiliki naluri untuk menjalin hubungan, senang bergaul dan tulus. ‘Ketika kebanyakan kita masih sibuk memilih siapa yang ingin kita sapa, dan menolak orang yang menurut kita kurang sepadan atau tinggal terlalu jauh atau sudah terlalu lama tidak jumpa, Lois dan Roger (Para Penghubung, ym) menyukai mereka semua.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, Para Bijak Bestari (Maven) adalah orang yang memecahkan masalahnya sendiri –memuaskan kebutuhan emosionalnya sendiri—lewat memecahkan masalah orang lain. Dari bahasa asalnya (bahasa Yiddish), maven berarti orang pintar atau orang yang memiliki pengetahuan sangat luas. Tidak hanya itu, mereka juga senang menolong orang dengan pengetahuan yang mereka miliki. Seorang maven akan senang sekali jika informasi yang mereka berikan bisa membantu orang lain. Dan mereka melakukannya tanpa pamrih. Dia mungkin seseorang yang dengan senang hati membantu kita memilih perangkat elektronik yang bagus karena dia paham benar ihwal perlengkapan elektronik tersebut. Atau merekomendasikan sebuah buku yang cocok untuk kita karena dia memiliki segudang informasi mengenai buku, penulis dan tema-teman yang cocok dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;personal interest&lt;/span&gt; kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seorang maven bukanlah seorang pembujuk. Mereka lebih seperti seorang guru. Adapun orang yang memiliki kemampuan untuk membujuk orang lain ketika orang itu belum yakin tentang sesuatu, disebut Salesman. Mereka tipe orang yang persuasif bahkan ketika mereka tidak sedang melakukan persuasi kepada kita. Dalam bukunya MG menguraikan bahwa persuasi tidak semata-mata bersifat verbal, justru yang non-verbal bisa memiliki efektifitas yang lebih besar karena sifatnya yang tersamar dan mudah merasuk. Faktor inilah yang membuat seorang Salesman bisa terlihat sangat menarik. Mereka menguasai seperangkat kemampuan komunikasi non-verbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian tentang Hukum yang Sedikit ini mungkin bisa menjadi salah satu panduan untuk memilih seorang (atau sekelompok orang) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;brand endorser&lt;/span&gt; yang tepat dalam sebuah komunitas, sebagaimana dijelaskan oleh Silih Agung. Tentu saja cara ini berbeda dengan cara-cara konvensional yang sering dilakukan pemilik merek. Biasanya mereka ‘membanjiri’ orang yang dianggap sebagai panutan dalam kelompok dengan hadiah berupa uang, merchandise ataupun fasilitas-fasilitas khusus. Cara tersebut jelas merupakan jalan pintas yang terbukti tidak efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah contoh kasus menarik di buku Tipping Point, yaitu bangkit kembalinya merek Hush Puppies. Sekitar tahun 1994, merek Hush Puppies sudah bisa dibilang mati. Penjualan sepatunya terus menurun, bahkan sempat terpikir untuk menghentikan produksi. Kemudian muncul sekelompok remaja di East Village dan Soho yang iseng memakai sepatu buatan Hush Puppies semata-mata karena ingin tampil beda. Keisengan ini kemudian menjalar ke remaja-remaja lain yang memuat toko-toko barang bekas diserbu pembeli. Sampai kemudian ada seorang desainer yang menggunakan sepatu Hush Puppies sebagai salah satu asesorinya. Sejak itu, pesanan terus mengalir dan dalam waktu dua tahun Hush Puppies kembali bangkit menjadi merek kelengkapan busana ngetren di Amerika. Uniknya, mereka tidak perlu mengeluarkan dana untuk membayar para remaja iseng tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-4720085666068092066?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/4720085666068092066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/08/tipping-point-tentang-brand-community.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/4720085666068092066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/4720085666068092066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/08/tipping-point-tentang-brand-community.html' title='[Tipping Point] Tentang Brand Community'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/So9QYiZvi8I/AAAAAAAAAH0/dRy9NiCtopI/s72-c/bango.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-640649783521611827</id><published>2009-08-19T18:15:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T19:13:05.567-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='[Tipping Point]'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='No-smoking Area'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menurutku...'/><title type='text'>[Tipping Point] Dahsyatnya kekuatan konteks</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SoykzzDvJqI/AAAAAAAAAHk/EOyobrZ5NiI/s1600-h/singapore_fine_city_tshirt.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 168px; height: 180px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SoykzzDvJqI/AAAAAAAAAHk/EOyobrZ5NiI/s200/singapore_fine_city_tshirt.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371849665332324002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Orang Indonesia yang datang ke Singapore mendadak bisa menjadi warga yang tertib. Membuang sampah pada tempatnya, mematuhi setiap rambu, bahkan untuk naik taksi pun mereka rela menunggu dalam antrian. Namun begitu kembali ke Indonesia, ‘sifat  aslinya’ kembali keluar. Tentu ini bukan cerita yang baru. Sekedar ilustrasi yang mirip dengan beberapa contoh yang dikemukakan MG dalam buku Tipping Point, berkaitan dengan kekuatan konteks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat contoh kasus lain yang menarik di buku itu. Tahun 1980-an, New York City adalah tempat yang sangat menakutkan dengan angka kejahatan yang luar biasa tinggi. Dalam setahun ada lebih dari 2.000 kasus pembunuhan (setidaknya 5 kasus per hari!), dan 600.000 tindak kekerasan serius. Di terowongan-terowongan kereta api bawah tanah, yang berlaku adalah hukum rimba. Hampir setiap hari ada kasus penembakan dalam kereta. Kebanyakan gerbong keretanya jorok, penuh coretan (grafitti) dan fasilitas umumnya jauh dari memadai. Namun, tanpa banyak orang yang memahaminya, mulai tahun 1990-an, tiba-tiba saja angka kejahatan itu turun drastis. Apa yang terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami fenomena ini, MG mengutip sebuah teori dari kriminolog James Q. Wilson dan George Kelling yang disebut teori &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Broken Windows&lt;/span&gt;. Gambaran singkat teori itu seperti ini: jika jendela sebuah rumah pecah namun dibiarkan saja, siapa pun yang lewat cenderung menyimpulkan pastilah di situ tidak ada yang peduli atau bahwa rumah itu tidak berpenghuni. Dalam waktu singkat, akan ada lagi jendelanya yang pecah dan belakangan berkembang anarki yang menyebar ke sekitar tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan tahun 80-an, Goerge Kelling disewa oleh New York Transit Authority sebagai konsultan untuk mengatasi masalah kejahatan di kereta api bawah tanah. Untuk itu, Kelling meminta jawatan itu menerapkan teori Broken Windows-nya. Berbeda dengan pendapat kebanyakan pejabat pemerintah yang menginginkan penanganan kejahatan secara langsung, Kelling bersama direktur baru urusan kereta api justru memulai aksinya dengan menangani tindak corat-coret yang marak di dalam gerbong kereta. Setiap kali sebuah rangkaian gerbong menyelesaikan satu rute, gerbong-gerbong itu langsung masuk ke fasilitas pembersihan. Semua grafiti akan dibersihkan sampai tuntas. Hanya gerbong-gerbong yang bersih yang boleh beroperasi. Jelas langkah ini membuat tukang corat-corat kecewa dan marah karena ‘hasil karya mereka’ selalu lenyap tak berbekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu bersamaan, polisi juga menangkap para penumpang yang nekat naik kereta tanpa karcis. Selama ini para petugas kereta api tidak berkutik menghadapi para penumpang gelap tersebut. Apa yang didapat oleh polisi dengan aksi tersebut ternyata lebih dari yang mereka duga. Sebagian penumpang gelap tersebut ternyata juga para pelaku kejahatan atau orang yang kedapatan membawa senjata dan sejenisnya. Di sinilah Kelling membuktikan teorinya, bahwa kejahatan-kejahatan kecil, pelanggaran-pelanggaran remeh yang lazimnya dianggap tidak signifikan, sesungguhnya merupakan Tipping Point menuju kejahatan-kejahatan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MG menyatakan bahwa teori Broken Windows ini sama dengan konsep Power of Context dalam pengertian sebuah gejala menular yang parah dapat diguncang lewat penanganan masalah-masalah kecil yang terjadi di lingkungan bersangkutan. Sebuah jendela yang rusak tidak akan dibiarkan berlama-lama dalam kondisi rusak yang bisa mengundang kerusakan lebih parah. Sama juga dengan kasus warga Indonesia yang datang ke Singapore, tidak diberi ruang sedikitpun untuk melakukan ‘pelanggaran kecil’. Di sana-sini ada ancaman denda yang siap dijatuhkan. Di setiap pojok ruang publik ada kamera pengintai yang siap menangkap basah para pelanggar. Apakah ini membuat warga Singapore menjadi ‘insan kamil’ di mana pun mereka berada? Tidak juga. Kalau kita melihat warga Singapore yang sedang berlibur ke pulau Bintan di kepulauan Riau, perilaku mereka tak beda jauh dengan warga Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MG juga mengemukakan satu studi menarik mengenai FAE (Fundamental Attribution Error), yaitu sebuah kesalahan dalam menafsirkan perilaku seseorang yang cenderung didasarkan pada bakat, karakter atau pembawaan dengan mengecilkan peran situasi atau konteks. Fenomena ini muncul karena kebanyakan kita jauh lebih paham terhadap petunjuk-petunjuk personal ketimbang pada petunjuk-petunjuk kontekstual. Agak mengejutkan bahwa dalam sebuah studi oleh dua orang peneliti di New York tahun 1920 diketahui bahwa sifat seperti Kejujuran bukanlah sifat yang mendasar (fundamental trait). Dari penelitian itu mereka menyimpulkan kejujuran itu sifatnya situasional. Di bagian ini kita menjadi sedikit pesimis dengan beberapa uji kepantasan dan kelayakan yang sering dilakukan terhadap seseorang yang hendak menjabat satu posisi penting. Seandainya pun didapat kandidat yang pantas (proper), itu mungkin tidak akan menjamin bahwa yang bersangkutan akan tetap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;proper &lt;/span&gt;sepanjang masa jabatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada contoh menarik dikemukakan di buku ini yaitu penelitian yang dilakukan oleh dua orang psikolog dari Princeton University, John Darley dan Daniel Batson, terhadap sekelompok siswa seminari. Para siswa itu diminta menyiapkan sebuah khotbah singkat mengenai keutamaan menolong orang lemah dan teraniaya berdasarkan literatur injil tentang orang Samaria yang Baik. Mereka kemudian diminta datang ke aula untuk menyampaikan khotbah itu. Di tengah perjalanan menuju aula itu, tanpa sepengetahuan para siswa, mereka akan dihadapkan pada situasi bertemu dengan seorang yang merintih-rintih di tepi jalan, kesakitan dan sangat menderita. Pertanyaannya, siapa diantara siswa itu yang akan tergerak untuk menolong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menarik dalam penelitian itu ketika para siswa seminari yang kelak menjadi pendeta atau pastor dan membaktikan hidupnya untuk menolong sesama, diminta untuk datang segera ke aula. Ketika diingatkan bahwa mereka kemungkinan akan terlambat sampai ke aula, hanya 10 persen dari para siswa itu yang tergerak untuk menolong orang yang kesakitan di pinggir jalan. Selebihnya, melewatinya begitu saja. Sementara kelompok siswa yang tidak diminta untuk tergesa-gesa, 63 persen mau berhenti dan memberikan pertolongan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘Yang ingin disiratkan dalam studi ini...adalah bahwa keyakinan dalam hati Anda dan isi sesungguhnya pikiran Anda pada akhirnya tidak terlalu berperan dalam mengarahkan perbuatan Anda dibanding konteks langsung perilaku Anda’&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-640649783521611827?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/640649783521611827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/08/orang-indonesia-yang-datang-ke.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/640649783521611827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/640649783521611827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/08/orang-indonesia-yang-datang-ke.html' title='[Tipping Point] Dahsyatnya kekuatan konteks'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SoykzzDvJqI/AAAAAAAAAHk/EOyobrZ5NiI/s72-c/singapore_fine_city_tshirt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-5282913972950073197</id><published>2009-08-16T22:17:00.001-07:00</published><updated>2009-08-21T19:13:05.567-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='[Tipping Point]'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='No-smoking Area'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>[Tipping Point] Melawan Rokok</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/So9QAwcgxbI/AAAAAAAAAHs/3S859TN0kG8/s1600-h/A_mild_cause_Cancer_small.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 141px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/So9QAwcgxbI/AAAAAAAAAHs/3S859TN0kG8/s200/A_mild_cause_Cancer_small.0.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372600854411003314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Harian Kompas edisi 10 Juli 2009 menurunkan tulisan di rubrik Fokus tentang industri rokok sebagai industri penuh tipu daya. Iklan rokok penuh kebohongan memadati tepian jalan protokol, ruang publik,  media cetak dan elektronik tanda kendali. Belum lagi kampanye pemasaran melalui konser musik atau olahraga.  Tujuannya tentu untuk membangun persepsi tentang kebiasaan merokok sebagai kebiasaan yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cool&lt;/span&gt;. Tak peduli bahwa iklan itu sama sekali tak masuk akal, bahwa kebiasaan itu sendiri sangat merusak, nyatanya 60 juta penduduk Indonesia sangat tergantung pada kebiasaan kotor itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu berkeyakinan bahwa cara yang cukup ampuh untuk menghadapi perilaku masokis vandalis merokok adalah dengan membangun persepsi negatif seputar kebiasaan itu. Persepsi dilawan dengan persepsi. Tinggal bagaimana missi ini bisa dijalankan untuk menandingi iklan-iklan rokok yang begitu masif. Sayangnya, untuk kampanye anti-rokok ini tidak tersedia dana sebesar yang dimiliki para pengusaha rokok (yang di Amerika sering disebut para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bad guy&lt;/span&gt;). Di titik ini, para aktivis anti-rokok seperti kehilangan semangat juangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di buku Tipping Point, MG menawarkan solusi yang cukup elegan berdasar kaidah kelekatan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;stickiness&lt;/span&gt;). Sebagaimana dinyatakan oleh penulis buku ini bahwa perubahan besar tidak selalu membutuhkan energi besar pula, maka perang melawan rokok bisa saja dihadapi tanpa harus bersaing dalam budget iklan dengan para bad guy itu. Menurut MG, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘kita hanya perlu menemukan tipping point untuk stickiness, kelekatan (dalam kebiasaan merokok, ym), dan titik itu adalah kaitan-kaitan dengan depresi dan ambang batas nikotin.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, mengenai depresi. Tahun 1986, dalam sebuah studi yang dilakukan oleh psikolog di Columbia University, ditemukan bahwa 60 persen perokok berat memiliki riwayat depresi yang parah. Sebaliknya, dalam studi lanjutannya, diketahui bahwa mereka yang pernah menderita gangguan jiwa serius, 74 persen merokok. Semakin besar gangguan jiwa yang diderita, semakin kuat korelasinya dengan merokok. Sebuah studi lainnya yang dilakukan beberapa psikiater di Inggris menemukan kaitan antara perilaku merokok anak usia belasan tahun dengan masalah emosi dan lingkungan sekitar mereka yang bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai kaitan ini, ada beberapa teori yang disampaikan. Antara lain, ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Semua hal yang dapat membuat seseorang rentan...merokok – rasa harga diri yang rendah, suasana rumah yang tidak sehat atau tidak bahagia – sama dengan semua hal yang dapat membuat seseorang mengalami depresi.’&lt;/span&gt; Bahkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘ada beberapa bukti awal bahwa kedua masalah tersebut (merokok dan depresi, ym) mungkin mempunyai akar genetik yang sama.’&lt;/span&gt; Sebagai contoh, depresi diyakini disebabkan antara lain oleh terganggunya produksi bahan kimia penting dalam otak yang disebut serotinin, dopamin dan norepineprin. Bahan kimia tadi berpengaruh terhadap rasa percaya diri, kemampuan menanggulangi masalah, kemampuan merasakan kenikmatan, dan mengatur mood. Para perokok yang menderita depresi menggunakan tembakau sebagai cara murah untuk menaikkan kadar bahan kimia otak tersebut agar berfungsi secara normal. Nikotin tampajnya menjalankan peran sebagai perangsang produksi dopamin dan norepineprin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini menyiratkan harapan bahwa tembakau bisa ditanggulangi dengan semacam obat yang bisa menggantikan fungsinya sebagai perangsang bahan kimia penting otak tersebut. Sebuah perusahaan farmasi bernama Glaxo Wellcome (tahun 2000 dimerger dengan Smithkline Beecham menjadi GlaxoSmithkline, GSK, &lt;a href="http://www.gsk.com/"&gt;www.gsk.com&lt;/a&gt;, ym) berhasil membuat obat dan memasarkannya dengan merek Zyban (&lt;a href="http://www.zyban.com/"&gt;www.zyban.com&lt;/a&gt;) . Obat ini telah diuji coba dan memberikan hasil yang cukup memuaskan pada perokok berat. Dalam kurun 4 minggu pemberian obat itu, 49 persen pecandu rokok berhenti merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, berkaitan dengan ambang batas nikotin. Ketika seorang remaja pertama kali mencoba merokok, dia tidak serta merta menjadi perokok. Sebagian besar justru tidak melanjutkan merokok dan sekitar sepertiganya yang meneruskan kebiasaan itu. Ketagihan nikotin bukan perkembangan yang mendadak. “Mereka menunggu beberapa tahun untuk sampai ke tingkat itu”, kata Neal Benowitz, pakar ketergantungan di University of California. Ketika seorang remaja limabelas tahun mencoba merokok, ia tidak sertamerta menjadi ketagihan. Artinya, ada ambang batas tertentu seseorang menjadi kecanduan dengan rokok. Jika ambang batas itu tidak terlampaui, maka sampai kapan pun dia tidak akan kecanduan. Tapi sekali ambang itu terlewati, ia sah menjadi seorang perokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar nikotin terkemuka dunia, Benowitz dan Henningfiled, menawarkan agar pabrik rokok diharuskan mengurangi kadar nikotin sehingga mereka yang merokok 30 batang sehari pun tidak sampai kemasukan nikotin lebih dari lima miligram dalam 24 jam, yang menjadi ambang batas kecanduan. Dengan mengurangi kadar nikotin sampai di bawah ambang batas kecanduan, maka merokok tidak lagi melekat. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘Merokok akan menjadi seperti penyakit batuk dan pilek biasa: mudah tertular tapi mudah diobati.’ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun, MG menegaskan di buku ini, mencegah seorang remaja agar tidak tergoda untuk mencoba merokok bukanlah usaha yang tepat karena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘coba-coba adalah sesuatu yang alami di kalangan anak-anak dan remaja’&lt;/span&gt;. Di bagian lain, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘alih-alih memerangi proses coba-coba itu adalah mengusahakan agar coba-coba tersebut tidak sampai berakibat serius.’ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi yang ditawarkan MG untuk mengatasi perilaku buruk merokok tersebut memang layak dikedepankan. Solusi pertama untuk mereka yang sudah menjadi pecandu rokok, dan solusi kedua untuk mengatasi remaja menjadi seorang pecandu. Setuju?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-5282913972950073197?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/5282913972950073197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/08/tipping-point-melawan-rokok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/5282913972950073197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/5282913972950073197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/08/tipping-point-melawan-rokok.html' title='[Tipping Point] Melawan Rokok'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/So9QAwcgxbI/AAAAAAAAAHs/3S859TN0kG8/s72-c/A_mild_cause_Cancer_small.0.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-2867511449411470123</id><published>2009-08-09T15:57:00.000-07:00</published><updated>2009-08-09T16:09:29.099-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menurutku...'/><title type='text'>Blues untuk Willy</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sn9XCvt9nHI/AAAAAAAAAHc/x9JlYZHJX_w/s1600-h/rendra_06s.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 141px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sn9XCvt9nHI/AAAAAAAAAHc/x9JlYZHJX_w/s200/rendra_06s.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368104985529523314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sn9Uslu27dI/AAAAAAAAAHE/CkvQ1rIG2sM/s1600-h/rendra.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 161px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sn9Uslu27dI/AAAAAAAAAHE/CkvQ1rIG2sM/s200/rendra.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368102405868547538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seniman besar itu telah berpulang, mewariskan antara lain satu buku kecil bersampul coklat. Bagi orang lain mungkin itu bukan karya terbaiknya, sayangnya aku sangat menyukainya. Aku pernah mendengar melalui pita kaset sang seniman membacakan dua puisi dari kumpulan itu. Ketika itu aku masih belia dan mudah terpesona. Cara dia membacakan puisi itu sungguh beda. Bahkan sampai hari ini aku masih bisa mengingatnya. Mengalun berirama dan terkadang jenaka. Puisi yang dia bacakan berjudul Rick dari Corona dan Nyanyian Angsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku coklat itu berjudul Blues untuk Bonnie. Dan seniman besar itu tentu saja W.S. Rendra. Terbit pertama kali tahun 1971, buku kumpulan puisi itu memuat 13 karya, salah satunya dijadikan judul buku kumpulan puisi itu, Blues untuk Bonnie. Sedikit beda dengan puisi-puisi ‘pemberontakan’ Rendra yang akrab bagi publik dan sering dicuplik, Blues untuk Bonnie jarang disebut. Seperti beberapa puisi naratif Rendra lainnya, di puisi ini aku mendapati cerita tentang kesepian, kepedihan, juga kekalahan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Blues untuk Bonnie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Boston lusuh dan layu&lt;br /&gt;kerna angin santer, udara jelek,&lt;br /&gt;dan malam larut yang celaka.&lt;br /&gt;Di dalam cafe itu&lt;br /&gt;seorang penyanyi Negro tua&lt;br /&gt;bergitar dan bernyanyi.&lt;br /&gt;Hampir-hampir tanpa penonton.&lt;br /&gt;Cuma tujuh pasang laki dan wanita&lt;br /&gt;berdusta dan bercintaan di dalam gelap&lt;br /&gt;mengepulkan asap rokok kelabu,&lt;br /&gt;seperti tungku-tungku yang menjengkelkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bernyanyi.&lt;br /&gt;Suaranya dalam.&lt;br /&gt;Lagu dan kata ia kawinkan&lt;br /&gt;Lagu beranak seratus makna.&lt;br /&gt;Georgia. Georgia yang jauh.&lt;br /&gt;Di sana gubug-gubug kaum Negro.&lt;br /&gt;Atap-atap yang bocor.&lt;br /&gt;Cacing tanah dan pellagra.&lt;br /&gt;Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang berhenti bicara&lt;br /&gt;Dalam cafe tak ada suara.&lt;br /&gt;Kecuali angin menggetarkan kaca jendela.&lt;br /&gt;Georgia.&lt;br /&gt;Dengan mata terpejam&lt;br /&gt;si Negro menegur sepi.&lt;br /&gt;Dan sepi menjawab&lt;br /&gt;dengan sebuah tendangan jitu&lt;br /&gt;tepat di perutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dalam blingsatan&lt;br /&gt;ia bertingkah bagai gorilla.&lt;br /&gt;Gorilla tua yang bongkok&lt;br /&gt;meraung-raung.&lt;br /&gt;Sembari jari-jari galak di gitarnya&lt;br /&gt;mencakar dan mencakar&lt;br /&gt;menggaruki rasa gatal di sukmanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Georgia.&lt;br /&gt;Tak ada lagi tamu baru.&lt;br /&gt;Udara di luar jekut.&lt;br /&gt;Anginnya tambah santer.&lt;br /&gt;Dan di hotel&lt;br /&gt;menunggu ranjang yang dingin.&lt;br /&gt;Srenta dilihat muka majikan cafe jadi kecut&lt;br /&gt;lantaran malam yang bangkrut.&lt;br /&gt;Negro itu menengadah&lt;br /&gt;Lehernya tegang.&lt;br /&gt;Matanya kering dan merah&lt;br /&gt;menatap surga.&lt;br /&gt;Dan surga&lt;br /&gt;melemparkan sebuah jala&lt;br /&gt;yang menyergap tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai ikan hitam&lt;br /&gt;ia menggelepar dalam jala.&lt;br /&gt;Jumpalitan&lt;br /&gt;dan sia-sia.&lt;br /&gt;Marah&lt;br /&gt;terhina&lt;br /&gt;dan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin bertalu-talu di alun-alun Boston.&lt;br /&gt;Bersuit-suit di menara gereje-gereja.&lt;br /&gt;Sehingga malam koyak moyak.&lt;br /&gt;Si Negro menghentakkan kakinya.&lt;br /&gt;Menyanyikan kutuk dan serapah.&lt;br /&gt;Giginya putih berkilatan&lt;br /&gt;meringis dalam dendam.&lt;br /&gt;Bagai batu lumutan&lt;br /&gt;wajahnya kotor, basah dan tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka waktu bagaikan air bah&lt;br /&gt;melanda sukmanya yang lelah.&lt;br /&gt;Sedang di tengah-tengah itu semua&lt;br /&gt;ia rasakan sentakan yang hebat&lt;br /&gt;pada kakinya.&lt;br /&gt;Kaget&lt;br /&gt;hampir-hampir tak percaya&lt;br /&gt;ia merasa&lt;br /&gt;encok yang pertama&lt;br /&gt;menyerang lututnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuruti adat pertunjukkan&lt;br /&gt;dengan kalem ia menahan kaget.&lt;br /&gt;Pelan-pelan berhenti.&lt;br /&gt;Pelan-pelan duduk di kursi.&lt;br /&gt;Seperti guci retak&lt;br /&gt;di toko tukang loak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setelah menarik napas panjang&lt;br /&gt;ia kembali menyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Georgia.&lt;br /&gt;Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya.&lt;br /&gt;Istrinya masih di sana.&lt;br /&gt;Setia tapi merana.&lt;br /&gt;Anak-anak Negro bermain di selokan&lt;br /&gt;tak krasan sekolah.&lt;br /&gt;Yang tua-tua jadi pemabuk dan pembual&lt;br /&gt;banyak hutangnya.&lt;br /&gt;Dan di hari minggu&lt;br /&gt;mereka pergi ke gereja yang khusus untuk Negro&lt;br /&gt;di sana bernyanyi&lt;br /&gt;terpesona pada harapan akherat&lt;br /&gt;kerna di dunia mereka tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Georgia.&lt;br /&gt;Lumpur yang lekat di sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubug-gubug yang kurang jendela.&lt;br /&gt;Duka dan dunia&lt;br /&gt;sama-sama telah tua.&lt;br /&gt;Sorga dan neraka&lt;br /&gt;keduanya usang pula.&lt;br /&gt;Dan Georgia?&lt;br /&gt;Ya, Tuhan&lt;br /&gt;Setelah begitu jauh melarikan diri,&lt;br /&gt;masih juga Georgia menguntitnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Georgia, Negro tua yang payah, lumpur yang lekat di sepatu, adalah idiom tentang tempat, pelaku dan nasib, yang mau tak mau menyeret kita pada banyak kisah hidup yang perih dan tak mudah bagi banyak orang, di mana pun tempatnya. Kalau membaca beberapa kisah kenangan tentang Rendra dalam berbagai media selepas kepergiannya itu, kita tahu bahwa jalan kesenian yang ditempuhnya pun, teater dan puisi, bukan sejenis jalan yang mudah. Sekalipun namanya dan nama kelompok teaternya sudah begitu dikenal publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di sisi lain puisi itu juga menyiratkan sebuah ‘perjuangan’ yang tak pernah selesai. Selalu saja ada Georgia, Negro papa, dan lumpur yang tak kunjung sirna. Menjelang ajalnya, Rendra masih konsisten naik pentas (terakhir kulihat di pentas The Candidate, Metro TV), ‘mencabik-cabik dawai gitarnya sendiri’, menyuarakan resah dari dalam sukmanya: korupsi itu seperti lumpur yang lekat di sepatu birokrasi kita. Pertanyaannya, siapa kini yang mau menempuh jalan tak mudah, menyuarakan kepedihan dan kebusukan itu melalui teater, puisi atau media ekspresi lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan ada, dan selalu akan ada orang-orang yang tak takut menempuh jalan tak mudah itu. Atau dalam bahasa Rendra disebut ‘pemberontak’. Dalam berbagai kesempatan, dia acapkali mengulang “Kalau kita tidak melawan kelaliman dan kezaliman, kita lebih baik tak jadi seniman. Kita sekarang butuh surga baru. Tanpa tangan kita kotor, kita tidak bisa ciptakan kembali itu firdaus...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-2867511449411470123?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/2867511449411470123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/08/blues-untuk-willy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/2867511449411470123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/2867511449411470123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/08/blues-untuk-willy.html' title='Blues untuk Willy'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sn9XCvt9nHI/AAAAAAAAAHc/x9JlYZHJX_w/s72-c/rendra_06s.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-3913724264483734343</id><published>2009-07-13T23:16:00.000-07:00</published><updated>2009-08-09T16:04:01.260-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Warna-warni Permadani</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SlwoQlTRN9I/AAAAAAAAAG8/X96aipNAx_g/s1600-h/rug+merchant.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 128px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SlwoQlTRN9I/AAAAAAAAAG8/X96aipNAx_g/s200/rug+merchant.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358201922019997650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jika setiap manusia pernah tinggal seorang diri di dalam rahim dan kelak juga sendiri saat dalam kubur, mengapa kesendirian sering membuat resah? Apakah karena kesendirian acapkali membuat seseorang menjadi salah tingkah? Tengoklah misalnya, Mr. Walt Kowalski, seorang veteran US army di film Gran Torino. Di masa tuanya ia tinggal menyendiri, ditemani Daisy (maaf, ini nama anjing beliau) dan mobil tuanya Ford Gran Torino. Anak dan cucu Mr. Kowalski lebih suka tinggal menjauh sembari berharap episode hidup Mr Kowalski segera berakhir dan warisan segera dibagi. Adapun kegiatan sehari-hari Mr Kowalski ini, mengelap mobil (yang tak pernah dikendarainya) sampai licin mengilap, kemudian memandangnya dengan takjub sambil minum bir dingin dan mengobrol dengan Daisy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Mr. Kowalski kesepian dalam kesendiriannya? Benarkah kesendirian sewarna dengan kesepian? Mari kita melihatnya dari kacamata Ushman, seorang pedagang permadani asal Iran di novel berjudul Rug Merchant, karya Meg Mullins. Edisi bahasa Indonesianya diterbitkan oleh PT Bentang Pustaka, Mei 2009. Bermodal ‘kartu hijau’ hasil undian, Ushman berangkat ke Amerika, meninggalkan Farak, istrinya, dan usaha permadani warisan keluarganya. Ia menyuruk di salah satu sudut kota New York, membuka toko permadani, dan perlahan mulai bisa menjejakkan kakinya dengan kokoh di kota super sibuk itu. Ketekunannya menjalin relasi dengan para pelanggan sejalan dengan kesungguhannya memelihara permadani impian di benaknya: membawa Farak ke Amerika dan memulai hidup sejahtera di sana. Awalnya, kesendirian tidak menjadi masalah bagi Ushman selama dia bisa merebahkan badannya di atas permadani impiannya itu. Sampai dia mendengar kabar istrinya itu menjalin hubungan dengan seorang pedagang dari Turki. Farak pun terang-terangan mengakuinya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah Ushman harus mengakui bahwa rajutan kisah hidupnya tak seindah pola-pola geometris permadani persia yang dijualnya. Kesepian mulai membayang saat impian di benaknya mulai berangsur pudar. Semakin kuat dia mempertahankan impiannya justru semakin terang gambaran kenyataan di mata sadarnya bahwa rumah tangganya bersama Farak telah hancur berantakan, menyisakan rongga kosong dalam hatinya. Di saat itulah Ushman bertemu Stella, gadis Amerika yang tengah menghadapi ‘kekosongannya’ sendiri: tak ada pesta dan kawan di hari ulang tahunnya yang ke sembilanbelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia Stella itu jelas terpaut jauh darinya, dan sudah pasti ia memiliki latar budaya yang berbeda dengan Ushman. Stella yang cerdas dan terbuka tak mendapatkan masalah yang berarti ketika hubungannya dengan Ushman semakin mendalam dan emosional. Sebaliknya, Ushman selalu diliputi keraguan dan gamang menyikapi hubungan mereka itu. Ushman merasa ‘tidak pantas’ mendapatkan Stella. Dia juga melihat cinta Stella kepadanya tumbuh di dalam diri Stella yang masih belia. Ada kekhawatiran suatu saat Stella akan meninggalkannya. ‘Bagian dari Stella yang belum berkembang adalah sama dengan bagian dari Stella yang mencintainya.... Saat Stella tumbuh dewasa, rasa hormat Stella untuknya akan layu...’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan mereka makin runyam dibayangi relasi Ushman dengan Ny. Roberts, salah seorang pelanggan setia Ushman. Bagi Ushman, Ny Roberts ‘hanyalah’ pelanggan kaya raya dengan selera yang sulit dipuaskan dan ‘keinginan aneh terhadap segala sesuatu yang tidak bisa dimiliki’ yang tak lain bentuk pelarian dari kesepian Ny Roberts sendiri. Tiga orang dengan kekosongan yang berbeda bertemu dan menuliskan kisahnya masing-masing layaknya pola warna-warni di atas hamparan permadani. Menjadi menarik ketika pola itu saling bersentuhan, berkelindan dan mempertahankan iramanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hubungannya dengan Stella berakhir, Ushman melanjutkan hidup tanpa harus merasa ada yang kosong. ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ti penso sempre&lt;/span&gt; (aku selalu memikirkanmu)’, kata Stella sebelum menutup telepon dia pergi. Dan Ushman, ‘meskipun air mata mengalir di pipinya, ia tersenyum’, seakan memaklumi bahwa relasi itu memang harus berhenti seperti ujung pola-pola permadani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ringan dengan plot sederhana ini diolah dengan lincah oleh Meg Mullins melalui dialog yang kadang tak terduga dan sesekali juga jenaka. Interaksi dua budaya menjadi momen yang menarik ketika masing-masing mulai menemukan titik persamaan. Di situs pribadinya, Mullins menceritakan bagaimana pemahamannya terhadap karakter Ushman didasari atas keyakinannya bahwa manusia selalu punya kesamaan satu dengan lainnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘The beauty of humanity is that none of us is so very different at our core. As I was writing about Ushman, I never felt he was unlike me. I certainly have a great respect for the vast differences in our cultures and our backgrounds, even our genders, but I loved discovering similarities, too. Love and pain, loneliness and desire are universal experiences and we are all linked by them.’ &lt;/span&gt;Kesamaan itu, apa pun bentuknya, barangkali memang bisa menjadi alasan paling mendasar untuk tidak perlu merasa sendiri dan sepi di tengah lingkungan manusia lain, di mana pun di bumi ini...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-3913724264483734343?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/3913724264483734343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/07/warna-warni-permadani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/3913724264483734343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/3913724264483734343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/07/warna-warni-permadani.html' title='Warna-warni Permadani'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SlwoQlTRN9I/AAAAAAAAAG8/X96aipNAx_g/s72-c/rug+merchant.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-3110165990167502509</id><published>2009-07-09T15:48:00.001-07:00</published><updated>2009-08-21T19:01:03.220-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='No-smoking Area'/><title type='text'>Setelah Penyesalan Kariso...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/So9RT1Ej7qI/AAAAAAAAAH8/y7RB-K6bQWA/s1600-h/PSA_smoking_kills.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 142px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/So9RT1Ej7qI/AAAAAAAAAH8/y7RB-K6bQWA/s200/PSA_smoking_kills.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372602281581866658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Usianya masih muda, 32 tahun. Semangatnya untuk menghirup manisnya hidup barangkali sedang di titik kulminasi. Istri dan anaknya yang berusia 4 tahun memompa semangat hidupnya hari ke hari. Seperti pagi itu, ketika Kariso mengisi botol-botol kosong dengan bensin di kios sederhananya di Kecamatan Sawangan, Depok. Tak ada yang menyangka, ketergantungannya pada nikotin menjadikan hari cerah akhir Juni lalu menjadi hari naas baginya. &lt;a href="http://www.mediaindonesia.com/read/2009/06/06/82850/37/5/Ibu-dan-Anak-Tewas-Terpanggang"&gt;Kios bensinnya meledak&lt;/a&gt;, menewaskan istri dan anak tercintanya. Kariso selamat dengan luka bakar parah. Tapi luka menganga di hatinya lebih parah lagi: penyesalan itu tidak akan tersembuhkan sampai kapan pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih harus mengetahui nasib Kariso. Lebih sedih lagi harus melihat kekalahan Indonesia menghadapi bisnis nikotin! Seperti dituliskan Kartono Mohamad di Kompas 27 Juni 2009. Mari, aku ingatkan kamu pada artikel itu. Ketika jumlah perokok di AS turun drastis dari 46 persen (1950) ke 21 persen (2004) dari penduduk AS, perusahaan rokok AS mencari pasar di luar AS termasuk Asia. Dengan senjata &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/GATT"&gt;GATT&lt;/a&gt;, AS merayu negara-negara padat penduduk untuk menerima racun berasap itu. Salah satunya Indonesia. Diantara 4 negara yang dibujuk, hanya Thailand yang berani menolak dengan alasan melindungi kesehatan rakyat. Indonesia menyerah tanpa syarat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan senjata GATT juga Indonesia berusaha memasukkan produk rokoknya ke AS. Sayangnya AS, terutama setelah Obama menandatangani UU bernama Family Smoking Protection and Tobacco Control Act, menolak menerima produk itu. Apalagi setelah FDA makin garang menghadapi rokok dengan melarang penggunaan kata &lt;i&gt;mild, light, low tar &lt;/i&gt;dan melarang penambahan rasa (termasuk cengkeh) ke dalam rokok. Bahkan pengadilan tinggi Washington DC mengatakan pabrik rokok telah melakukan pembohongan publik  dengan menggunakan kata-kata &lt;i&gt;mild, light, low tar &lt;/i&gt; itu. Dalam hal ini, Indonesia kalah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi lebih parah, ketika negara-negara lain sepakat membatasi bisnis madat ini, Indonesia justru ragu-ragu, bahkan cenderung membiarkan industri rokok berkembang dibanding memberi perhatian pada kesehatan rakyatnya. Buktinya, pemerintah menolak menandatangi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dari WHO. Sungguh ironis, setelah &lt;a href="http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/06/19/17120332/bentoel.dibeli.bat.kemunduran.buat.indonesia"&gt;Sampoerna dibeli oleh Philip Morris dan Bentoel dibeli oleh BAT&lt;/a&gt;, yang tersisa adalah penyakit dan kemiskinan yang menggerogoti rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyesalan Kariso, dan jutaan rakyak miskin yang diperbudak nikotin, tidakkah cukup?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-3110165990167502509?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/3110165990167502509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/07/setelah-penyesalan-kariso.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/3110165990167502509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/3110165990167502509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/07/setelah-penyesalan-kariso.html' title='Setelah Penyesalan Kariso...'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/So9RT1Ej7qI/AAAAAAAAAH8/y7RB-K6bQWA/s72-c/PSA_smoking_kills.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-1649681667970320722</id><published>2009-07-03T21:51:00.000-07:00</published><updated>2009-07-09T15:51:15.714-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='[Next]'/><title type='text'>[Next] Mahluk transgenik bernama X.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk7gNt9a_wI/AAAAAAAAAFY/IHmmicAJll0/s1600-h/Island_of_dr_moreau.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 108px; height: 160px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk7gNt9a_wI/AAAAAAAAAFY/IHmmicAJll0/s320/Island_of_dr_moreau.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354463533270236930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Salah satu film paling menjijikkan yang pernah kutonton adalah Island of Dr. Moreau, film akhir tahun 90-an. Di film itu bertebaran binatang-binatang ‘ciptaan’ Dr Moreau yang disisipi gen manusia. Konon untuk menekan sifat-sifat ‘kebinatangannya’. Setting waktu film itu adalah tahun 2010. Hmmm, tahun depan. Mungkinkah (dalam pengertian ‘dibenarkan secara moral’) binatang disisipi gen manusia? Apa nama ‘produk’ yang dihasilkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar pertimbangan moral, kemungkinan itu terbuka lebar. Apalagi konon gen antara manusia dan simpanse hanya berbeda 1,5%. Mari tengok lebih dulu contoh ‘mahluk transgenik’ ini: buah tomat. Awalnya buah ini tidak bisa tumbuh baik di daerah bersuhu rendah. Maka dilakukan upaya modifikasi gen dengan menyisipkan gen ikan flounder (ikan yang hidup di air es), dan hasilnya tomat tahan segala cuaca.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Maka, menjadi ‘masuk akal’ ketika Crichton bercerita tentang penemuan orang utan Sumatra yang bisa bicara dan kakatua afrika yang cerdas, fasih berbicara dan menirukan bunyi-bunyian serta mampu berhitung. Dan cerita tentang ‘seekor simpanse’ bernama Dave. Wujudnya memang simpanse, tetapi tes darah menunjukkan bahwa darah yang mengalir di tubuh Dave adalah darah manusia. Bahkan simpanse itu kemudian bisa berbicara dengan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dave adalah ‘buah’ eksperimen Henry Kendall, seorang ahli riset genetika. Henry pernah bekerja di National Institutes of Health (NIH) untuk meneliti masalah autisme. Ia pergi ke fasilitas primata untuk meneliti gen-gen yang bertanggung jawab atas perbedaan kemampuan komunikasi antara manusia dan monyet. Dan ia melakukan eksperimen dengan embrio simpanse dan gen miliknya sendiri. Hasilnya, lahirlah Dave, yang memanggil Henry dengan sebutan ibu (Ha ha ha...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan bahwa riset dengan melibatkan embrio simpanse dan gen manusia adalah riset ilegal. Karenanya hasil riset itu, Dave, juga menjadi produk ilegal. Persoalan menjadi pelik karena antara Henry dan Dave punya semacam ikatan emosional. Keputusan NIH untuk ‘melenyapkan’ Dave tak bisa diterima Henry. Dengan sembunyi-sembunyi Hanry melarikan Dave dari laboratorium NIH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit untuk membayangkan bagaimana jika eksperimen yang melibatkan gen-gen dari mahluk yang berbeda itu akan terus berlanjut. Bagaimana kita akan menyebut produk transgenik itu? Henry sendiri setengah tidak rela jika Dave disebut sebagai simpanse. Bahkan untuk menutupi identitas Dave yang sesungguhnya, dia mengatakan bahwa Dave adalah bocah laki-laki yang mengalami kelainan bawaan bernama Congenital Hypertrichosis Lanuginosa (bisa dilihat antara lain di http://emedicine.medscape.com/article/1072987-overview). Orang dengan kelainan itu akan mempunyai rupa mirip simpanse.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mahluk apa sebenarnya si Dave ini? Juga mahluk jadi-jadian ‘karya’ Dr Moreau itu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-1649681667970320722?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/1649681667970320722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/07/next-mahluk-transgenik-bernama-x.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/1649681667970320722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/1649681667970320722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/07/next-mahluk-transgenik-bernama-x.html' title='[Next] Mahluk transgenik bernama X.'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk7gNt9a_wI/AAAAAAAAAFY/IHmmicAJll0/s72-c/Island_of_dr_moreau.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-7420170266720189079</id><published>2009-07-03T21:49:00.000-07:00</published><updated>2009-07-03T21:50:55.968-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='[Next]'/><title type='text'>[Next] Makna tubuh</title><content type='html'>Crichton mencuplik pernyataan Steven Weinberg (fisikawan AS, pemenang nobel fisika 1979) di pembuka novelnya: ‘Semakin alam semesta tampak bisa dipahami, semakin pula kelihatan tidak ada maknanya.’ Bagaimana pun cerita seputar rekayasa genetika membawa kita ke gambaran tubuh manusia sebagai benda kasar, seperti halnya mobil atau mesin jahit. Bagian-bagiannya bisa ditukar, diganti, atau diperjual-belikan secara terpisah. Bedanya, mobil dan mesin jahit tidak bisa memperbarui tubuhnya sendiri. Mual?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita berikut ini akan membuatmu lebih mual. Seorang ibu bernama Georgia Bellarmino curiga dengan bekas luka memar di perut anak perempuannya. Sudah beberapa kali Georgia melihat luka semacam itu di perut Jennifer yang berusia enam belas tahun . Si anak bersikukuh itu luka biasa akibat benturan tak sengaja. Nalurinya sebagai ibu membawanya ke kamar anak perempuannya, memeriksa dengan teliti dan, wow, dia menemukan obat-obat fertilitas di plafon kamar mandi anaknya. Gerogia tercengang, apa yang terjadi dengan anaknya. Untuk apa dia menyuntikkan obat penyubur itu ke tubuhnya sendiri? Jawabannya datang dari salah satu teman kerja Georgia. Dia bercerita ,’...gadis-gadis remaja ini menyuntikkan hormon, memompa indung telur mereka, menjual sel telur...dan mendapatkan uang.”&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cerita utama di novel Next juga berkaitan dengan bagian tubuh yang diperjual belikan. Frank Burnett dikaruniai keistimewaan karena dalam tubuhnya terdapat rangkaian sel penghasil zat pemerang kanker, cytokine. Rangkaian sel itu ditemukan oleh dokter di UCLA, kemudian dipatenkan dan dijual lisensinya kepada perusahaan bioteknologi bernama BioGen. Sebagai pemegang lisensi atas rangkaian sel Burnett itu, BioGen merasa berhak memanen rangkaian sel Burnett kapan pun mereka membutuhkan dan menjualnya kepada yang membutuhkan. Bayangkan saja tubuh Burnett tak lebih dari ladang sel yang dimiliki BioGen. Ketika masalah ini dibawa ke pengadilan, Burnett kalah. Dia tidak punya hak atas tubuhnya sendiri di bawah ketentuan bernama eminent domain. Eminent domain mengacu pada hak negara untuk mengambil milik pribadi tanpa izin pemiliknya. Inilah problematika patent gen yang dikecam Crichton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh Crichton juga tak sependapat dengan anggapan bahwa jaringan tubuh manusia yang sudah terlepas dari tubuh asalnya tidak memiliki ikatan lagi dengan pemilik asalnya. ‘Pendapat yang mengatakan jika kita sudah berpisah dengan jaringan kita, kita tidak lagi memiliki hak apa pun atasnya, adalah tidak masuk akal.’ Dia menekankan bahwa manusia memiliki ikatan emosional dengan bagian tubuh manapun yang dimilikinya. Ikatan itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Atau diputus secara paksa. Seakan Crichton ingin menggarisbawahi pemberian makna bagi tubuh manusia sebagai kesatuan utuh yang memiliki jiwa, dan tidak bisa disamakan dengan, katakan, mobil dengan businya atau mesin jahit dengan jarumnya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-7420170266720189079?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/7420170266720189079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/07/next-makna-tubuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/7420170266720189079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/7420170266720189079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/07/next-makna-tubuh.html' title='[Next] Makna tubuh'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-6692145894974813584</id><published>2009-07-02T21:51:00.000-07:00</published><updated>2009-07-02T21:53:57.985-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='[Next]'/><title type='text'>[Next] Periklanan Genomis</title><content type='html'>Dunia periklanan seolah selalu haus ruang untuk aktualisasi diri. Tak cukup dengan billboard raksasa, lantai supermarket dan badan bus kota juga dijadikan tempat beriklan. Sudah cukup lama pula pintu lift dijadikan media iklan, seakan orang yang sedang menunggu di depan lift adalah mereka yang tengah ‘kosong’ pikirannya, dengan demikian menjadi sasaran empuk kampanye pemasaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika para insan kreatif periklanan bertemu dengan ahli genetika? Hasilnya adalah periklanan genomis: makhluk hidup direkayasa secara genetis sehingga secara ‘alami’ akan menampilkan logo perusahaan di badan makhluk itu. Ada ikan hiu dengan logo Cadburry, belut laut menampakkan Mark&amp; Spencer di permukaan kulitnya yang kehijauan, badak afrika bermerek Land Rover dan tentu saja Jaguar garang yang dipersembahkan oleh Jaguar. Wah... &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ini akan membuat para pecinta lingkungan mual dan geram. Bagi kebanyakan orang mungkin ini mimpi buruk. Tapi bagi orang periklanan, dalam novel Next diwakili oleh tokoh bernama Gavin Koss, ini adalah upaya bisnis sekaligus budi daya. Spesies yang ‘disponsori’ perusahaan tertentu akan terlindung dari kepunahan karena perusahaan-perusahaan ini mencadangkan dananya untuk melindungi mereka. Bagi Koss, ini situasi win-win, bagi perusahaan, lingkungan hidup dan tentu saja bagi bidang periklanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini hanya sekedar wacana? Sayangnya, di novel ini jawabannya adalah tidak. Diam-diam sudah ada yang berupaya ke arah itu. Di Pantai Tortuguero, Costa Rica, dua orang pengamat penyu melihat ada sinar lembayung yang aneh di cangkang beberapa penyu yang mereka amati. Cahaya yang berpendar saat gelap itu seperti menampakkan pola yang khas mirip logo sebuah perusahaan. Nah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-6692145894974813584?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/6692145894974813584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/07/next-periklanan-genomis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/6692145894974813584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/6692145894974813584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/07/next-periklanan-genomis.html' title='[Next] Periklanan Genomis'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-3635722561431472399</id><published>2009-07-02T21:48:00.000-07:00</published><updated>2009-07-02T21:53:57.986-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='[Next]'/><title type='text'>[Next] Awalnya (hanya) tanaman transgenik</title><content type='html'>Ada yang baru menyadari bahwa tahu dan tempe bukan makanan ‘sembarangan’, karena bahan bakunya hampir 100% impor. Mirip mobil-mobil built up. Ketika akhir tahun 2007 harga kedele melonjak tajam seiring harga minyak, kita seakan baru sadar bahwa 70%an kedele adalah produk impor. Dan hampir dipastikan kedele asal AS itu adalah produk transgenik. Banyak juga yang kemudian gelisah menyangkut keamanan mengonsumsi produk transgenik dan olahannya. Apalagi Indonesia sepertinya belum memiliki regulasi yang jelas menyangkut bahan pangan transgenik ini. Memang ada PP No. 20 tahun 2005 yang meng-amanatkan pembentukan Tim Teknis Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan. Namun sampai sekarang tim itu belum terbentuk. Bahkan peraturan yang lebih lama yaitu PP No. 69 tahun 1999 mengharuskan produk pangan, termasuk yang transgenik, diberi label. Dengan label ini konsumen bisa menentukan pilihan, apakah mau memilih yang ‘alami’ atau yang transgenik. Sayangnya, sampai sekarang pelabelan itu pun tidak berjalan. Di negara-negara maju, sudah lazim disebutkan di label, bahwa makanan tersebut mengandung persentase tertentu materi transgenik. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kedele, juga jagung, kapas, kentang, adalah produk yang sudah banyak dipasarkan dalam bentuk produk transgenik, atau lebih sering disebut GMF (Genetically Modified Food). Sering juga disebut, dengan sinis, sebagai frankenfood. Kedele ini dihasilkan melalui ‘pengayaan’ genetis, antara lain dengan menyisipkan bakteri tanah yang mampu menghasilkan pestisida alami. Dengan begitu, hama yang menyerang kedele itu akan mati dengan sendirinya. Uniknya, pengayaan genetis kedele itu banyak ragamnya. Bahkan ada yang ‘dirancang’ khusus untuk dijadikan makanan ternak. Wah, apakah konsumen tahu hal ini dan bisa membedakannya dengan kedele untuk dibuat tahu atau tempe?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buru-buru menteri pertanian Dr. Anton Apriantono mengatakan bahwa ‘belum ada bukti bahwa kedele transgenik membahayakan kesehatan.’ Jangka pendek memang iya, bagaimana efek jangka panjangnya? Bahkan korban manusia akibat produk transgenik juga pernah ada (kasus suplemen kesehatan transgenik di AS yang memakan korban tewas 37 orang tahun 1989). Ada baiknya didengar juga pendapat mereka yang mewaspadai produk transgenik ini. Mereka umumnya keberatan atas 3 hal: pertama, bahaya terhadap lingkungan : kemungkinan tanaman termutasi ‘menulari’ tanaman lain sangat terbuka, misalnya melalu penyerbukan. Bisakah ini dikendalikan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sudah tentu kemungkinan bahayanya bagi manusia. Dalam kasus kedelai yang disisipi ‘gen pestisida’, bagaimana dampaknya bagi manusia dalam jangka panjang? Apalagi kedele dan produk turunannya termasuk makanan yang tingkat konsumsinya tinggi di Indonesia. Ketiga, secara ekonomis produk transgenik ini membuat ketergantungan negara berkembang kepada negara maju. Produk transgenik dikenal memiliki sifat ‘gene suicide’, ditanam untuk berbuah sekali dan mati. Buahnya pun steril, sehingga petani menjadi tergantung terhadap bibit pasokan negara-negara maju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dari berbagai sumber)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-3635722561431472399?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/3635722561431472399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/07/next-awalnya-hanya-tanaman-transgenik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/3635722561431472399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/3635722561431472399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/07/next-awalnya-hanya-tanaman-transgenik.html' title='[Next] Awalnya (hanya) tanaman transgenik'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-6485086974527034700</id><published>2009-07-01T03:15:00.000-07:00</published><updated>2009-07-01T03:18:12.444-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='[Next]'/><title type='text'>[Next] Penyembuhan penyakit melalui rekayasa genetika.</title><content type='html'>Harian Kompas tanggal 6 Juni menurunkan laporan penelitian ilmuwan Jepang di bidang rekayasa genetika. Dari penelitian tersebut ‘dihasilkan’ primata transgenik yang diharapkan bisa menjadi terobosan bagi pengembangan terapi mengatasi gangguan syaraf otak. Pemanfaatan teknologi genetika untuk mengatasi penyakit ini sudah lama dikembangkan sejak penemuan teknik kunci dalam genetika molekular pada pertengahan tahun 1970-an. Sejak itu para ahli genetika mencoba menemukan gen-gen yang ‘bertanggung jawab’ atas munculnya penyakit tertentu, khususnya penyakit yang bersifat menurun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah cerita menarik di novel Crichton ini. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seorang dokter ahli penyakit dalam tiba-tiba digugat oleh seorang wanita yang tidak dikenalnya. Wanita itu ternyata adalah ‘anak biologis’ sang dokter. Bagaimana mungkin? Rupanya sewaktu kuliah dulu, dokter itu pernah menyumbangkan sperma secara anonim kepada seorang ibu melalui bank sperma. Persoalannya, sperma dokter itu ternyata mengandung gen-gen kecanduan AGS3 (ketergantungan pada heroin). Gara-gara gen sialan itu, wanita ‘anak biologis’ tersebut menjadi seorang pecandu dan hidupnya terlunta-lunta. Dengan segala cara dia berusaha mencari siapa pemilik sprema ‘bermasalah’ itu. Kegigihannya itu membawa hasil dan kini ia menggugat, ‘Kau seharusnya tidak boleh menyumbangkan sperma yang kurang baik... Kau adalah aib bagi profesi kedokteran. Membebani orang lain dengan penyakit genetismu...’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan gen-gen ‘biang kerok’ itu tidak serta merta membawa harapan bagi seluruh manusia karena para ahli genetika itu kemudian sibuk mematenkan penemuannya. Ini salah satu yang dikecam Crichton sebagaimana dia tulis di catatan penutupnya. Mematenkan gen adalah langkah yang tidak masuk akal. ‘...Memberi hak paten atas gen sama saja dengan memberikan hak paten atas besi dan karbon.’ Problem paten atas gen ini menyeret manusia pada persoalan justru mencemaskan. Crichton memberi contoh pada kasus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). Penyakit menular ini memiliki tingkat kematian sepuluh persen dan telah menyebar ke puluhan negara seluruh dunia. Namun riset ilmiah untuk melawan penyakit ini justru terhambat gara-gara kekhawatiran menyangkut hak paten gen. Pada waktu itu ada tiga pihak yang secara bersamaan mengajukan paten atas genom SARS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan nomor satu dari Crichton berbunyi: hentikan membuat hak paten gen.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-6485086974527034700?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/6485086974527034700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/07/next-penyembuhan-penyakit-melalui.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/6485086974527034700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/6485086974527034700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/07/next-penyembuhan-penyakit-melalui.html' title='[Next] Penyembuhan penyakit melalui rekayasa genetika.'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-3354765120439932792</id><published>2009-07-01T03:00:00.000-07:00</published><updated>2009-07-01T03:18:37.025-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='[Next]'/><title type='text'>[Next] Bermain dengan Tuhan?</title><content type='html'>Banyak orang berpendapat bahwa dengan rekayasa genetika manusia seakan-akan sedang bermain dengan Tuhan. Mengenai pendapat ini, Crichton melalui tokohnya Dr. Robert Bellarmino mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Tuhan adalah pencipta DNA, yang menjadi dasar keanega ragaman hayati planet kita. Mungkin karena itulah beberapa kritikus rekayasa genetika mengatakan kita tidak boleh melakukannya karena ini seperti bermain dengan Tuhan. Beberapa doktrin ekologis juga mempunyai pandangan sama, bahwa alam itu sakral dan tak boleh diganggu gugat. Kepercayaan semacam itu tentunya sesat.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Tuhan memberi manusia tugas dan tanggung jawab untuk memelihara bumi dan semua makhluknya. Kita bukan bermain jadi Tuhan. Kita harus mempertanggung jawabkan pada Tuhan bila kita tidak menjadi penanggung jawab atas apa yang diberikan Tuhan kepada kita dalam segala keagungan dan keaneka ragaman hayatinya.....’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Rekayasa genetika menggunakan sarana yang diberikan Pencipta kepada kita untuk melakukan pekerjaan yang baik di planet ini. Tanaman yang tidak dilindungi dimakan hama atau mati beku dan kekeringan. Modifikasi genetis bisa mencegahnya...’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Rekayasa genetika hanya langkah lain dalam tradisi yang sudah lama diterima. Tidak menandai penyimpangan radikal dari masa lalu... Kadang-kadang kita mendengar opini bahwa kkta tidak seharusnya mengubah DNA, titik. Tapi, mengapa tidak? DNA tidak permanen. Seiring waktu DNA berubah....’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun berkaitan dengan penerapan rekayasa genetika pada manusia, Bellarmino tidak bisa menyembunyikan kegundahannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘...Jadi, kita memodifikasi DNA atau tidak? Ini pekerjaan Tuhan atau kesombongan manusia? Keputusan-keputusan tersebut tak boleh dianggap enteng. Begitu juga topik yang paling sensitif, penggunaan sel benih dan embrio....Saya sendiri tidak punya jawaban...Saya mengakui hati saya gundah.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian lain, dalam sebuah tanya jawab dengan siswa sekolah lanjutan, Bellarmino lagi-lagi harus menghadapi pertanyaan: ‘Bukankah kloning berarti bermain jadi Tuhan?’ Bellarmino menjawab:’Secara pribadi saya tidak mendefinisikan seperti itu. Kalau Tuhan menciptakan manusia dan menciptakan seisi dunia lainnya, sudah jelas Tuhan membuat alat rekayasa genetika....Itu karya Tuhan bukan manusia.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini tentu perdebatan akan mengarah ke ranah pemikiran spekulatif. Ahli-ahli di luar bidang rekayasa genetika mestinya dilibatkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-3354765120439932792?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/3354765120439932792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/07/next-bermain-dengan-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/3354765120439932792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/3354765120439932792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/07/next-bermain-dengan-tuhan.html' title='[Next] Bermain dengan Tuhan?'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-8785244451449482431</id><published>2009-06-29T02:29:00.000-07:00</published><updated>2009-07-05T22:40:18.124-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='[Next]'/><title type='text'>Next, setelah itu apa?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SlGNzsSc5uI/AAAAAAAAAGM/HFqVfp7XBMc/s1600-h/next.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 115px; height: 170px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SlGNzsSc5uI/AAAAAAAAAGM/HFqVfp7XBMc/s320/next.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355217351121626850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Michael Jackson, King of Pop itu telah mangkat. Ia meninggalkan kerajaan Neverland miliknya. Kita tahu, Neverland adalah situs metaforis tempat bersemayam Peter Pan, tokoh rekaan J.M. Barrie yang menolak menjadi tua. Bukan tanpa sengaja MJ memilih nama Neverland, dan hubungannya dengan Peter Pan serta ide tak pernah menjadi tua. MJ sendiri memang tak akan pernah mengalami masa tua karena His Story* selesai di usia setengah baya. Baiklah MJ, You’re not Alone*, sebab ide menolak tua itu telah ada sepanjang masa. Dan kini salah satu harapannya ada di tangan para ahli genetika. Benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita bayangkan kemungkinannya melalui novel Michael Crichton terbaru dan terakhir, Next. Edisi Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, April 2009. Bagi sebagian kita yang tidak mengikuti dengan seksama perkembangan teknologi genetika, penuturan Crichton di novel ini mungkin akan menimbulkan tanda tanya: sudah sejauh itukah manusia bermain-main dengan kode genetik? Coba tengok harian Kompas edisi 6 Juni 2009. Di situ diturunkan laporan berjudul ‘Primata Transgenik: kontroversial tetapi menjanjikan’. Itu hanya sebagian dari berbagai pencapaian di bidang rekayasa genetika dan sudah tentu dengan berbagai persoalan di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan novel Crichton lainnya, alur cerita Next tidak hanya terpusat pada satu atau dua tokoh sentral. Bahkan beberapa peristiwa tidak saling berhubungan satu dengan lainnya. Rangkaian cerita utamanya berpusat pada perusahaan bioteknologi bernama BioGen yang mengembangkan rangkaian sel penghasil zat pemerang kanker bernama cytokine. Sel-sel tersebut diambil dari tubuh seorang laki-laki bernama Frank Burnett. Burnett selama bertahun-tahun tidak menyadari bahwa sel-sel dari tubuhnya diambil oleh BioGen  dan digunakan untuk kepentingan komersial perusahaan itu. Dia dan anak perempuannya yang berprofesi pengacara menggugat ke pengadilan, dan Rick Diehl sang CEO BioGen, berupaya keras mempertahankan ‘kepemilikan’ mereka atas rangkaian sel Burnett yang telah dipatenkan. Sebuah ‘pertempuran’ seru terjadi, baik di dalam maupun di luar ruang sidang. Sementara itu, di laboratorium miliknya, Diehl juga mengembangkan gen lain yang disebut gen kedewasaan yang berkaitan dengan penyakit degeneratif syaraf (wah!). Pengembangan gen ini juga bukan tanpa masalah, bahkan sempat merenggut korban jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah-kisah lainnya, yang tidak berhubungan dengan alur cerita utama tadi, Crichton juga bercerita panjang lebar tentang topik-topik lain seputar rekayasa genetika. Seperti penemuan orang utan di Sumatra yang bisa berbicara; penyu di Costa Rica yang bisa mengeluarkan cahaya lembayung; seorang wanita yang menuntut ‘ayah biologisnya’ -- seorang dokter yang pernah menjadi donor sperma bagi ibunya dan beberapa kisah yang sepertinya dimasukkan Crichton untuk menjelaskan berbagai pandangan (termasuk pandangannya sendiri) mengenai rekayasa genetika. Termasuk yang berkaitan dengan ‘posisi’ Tuhan dalam persoalan ini. Melalui salah satu tokohnya Crichton menuliskan,’Rekayasa genetika memungkinkan kita membagikan kemurahan hati Tuhan....insulin murni untuk penderita diabetes, faktor pembeku murni untuk penderita hemofilia. Sebelumnya, para penderita ini banyak yang meninggal karena kontaminasi. Tentunya, yang menciptakan kemurnian ini adalah pekerjaan Tuhan. Siapa yang akan menyatakan sebaliknya?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini cukup nikmat diikuti karena Crichton membagi tiap peristiwa menjadi fragmen dalam bab-bab pendek dan terpisah. Bab ke-88 bahkan tak sampai satu halaman panjangnya, membuat kita bisa berhenti di mana pun dan masuk lagi ke fragmen berikutnya. Namun peristiwa-peristiwa yang berserakan, pendek dan begitu cair membuat kita tidak mendapatkan suasana yang benar-benar mencekam seperti pada novel Crichton lainnya, misalnya Congo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crichton juga membuat catatan khusus mengenai topik rekayasa genetika ini di akhir novelnya plus buku-buku yang menjadi rujukan. Seakan dia merasa tidak cukup puas memaparkan pendapatnya melalui tokoh-tokoh protagonis di novel ini. Melalui Next, Crichton menyikapi secara kritis perkembangan teknologi genetika dan menyodorkan tombol pilihan kepada kita: next/lanjut -- tanpa ada kemungkinan untuk kembali atau berhenti sampai di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan pemuliaan gen untuk kesejahteraan manusia sampai sekarang masih menjadi persoalan yang tak ada habisnya diperdebatkan. Di akhir tahun 80-an, Arifin C Noer mementaskan lakon Ozone di Bandung. Salah satu tokoh di drama itu bernama Waska. Tokoh Waska bahkan menolak untuk mati dan melalui teknologi khususnya rekayasa genetika, ia berhasil mengalahkan waktu. Namun di titik itulah tragedi muncul. Kehidupan ‘abadi’ itu tak lain sebuah hukuman yang jauh lebih menyakitkan dibanding hukuman mati. Dia melayang-layang di angkasa dalam pesawat khususnya, melihat kekerasan demi kekerasan di bumi, merasakan kesepian mencekam, iri pada kematian dan terus terjaga hingga hari kiamat tiba. Dalam hal ini, agaknya Arifin ingin mengatakan bahwa persoalan yang lebih relevan dikemukakan bukan seberapa lama seorang manusia mampu bertahan hidup di muka bumi ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) HIStory adalah salah satu album Michael Jackson, di mana lagu You’re Not Alone ada di dalamnya. Lagu yang memukau ini ditulis oleh R. Kelly, dirilis tahun 1995 menandai masa sulit yang sedang dialami Jacko waktu itu karena tuduhan melakukan ‘child abuse’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-8785244451449482431?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/8785244451449482431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/next-setelah-itu-apa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/8785244451449482431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/8785244451449482431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/next-setelah-itu-apa.html' title='Next, setelah itu apa?'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SlGNzsSc5uI/AAAAAAAAAGM/HFqVfp7XBMc/s72-c/next.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-2365802990856440401</id><published>2009-06-23T21:59:00.000-07:00</published><updated>2009-07-09T15:51:44.543-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koral Terserak'/><title type='text'>Pintu yang terketuk</title><content type='html'>Ada sebuah ruang dengan pintu tertutup rapat. Dalam ruang itu tersimpan segala sesuatu yang selama ini dianggap tak perlu. Sebenarnya bukan tak perlu, tetapi keseharian yang hiruk pikuk tak memberikan peluang baginya untuk menjadi berarti. Ketika usia merambat naik meninggalkan usia belia, pintu itu perlahan mengatup sampai akhirnya benar-benar tertutup. Dan sejak itu hidup serupa teka-teki silang, terkotak-kotak dengan isian pasti tak bisa ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aneh ketika dari dalam ruang tertutup itu aku mendengar suara ketukan di pintunya. Ketukan dari dalam. Seperti sebuah himbauan untuk membuka pintu yang lama berdebu. Tapi dengan membukanya berarti aku harus siap mengembara ke perjalanan penuh kejutan. Ketika tiap benda bisa bersuara, semua tempat bisa dijangkau sekedipan mata dan waktu membeku bisu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-2365802990856440401?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/2365802990856440401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/pintu-yang-terketuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/2365802990856440401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/2365802990856440401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/pintu-yang-terketuk.html' title='Pintu yang terketuk'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-6767755690288275322</id><published>2009-06-14T15:06:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T04:34:15.961-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Sebuah ruang untuk cinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjtHODvHGrI/AAAAAAAAADo/zWKNQWkfE6I/s1600-h/roomtoread.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 113px; height: 176px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjtHODvHGrI/AAAAAAAAADo/zWKNQWkfE6I/s320/roomtoread.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348947289279240882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mungkinkah seorang eksekutif Microsoft, dengan segala kehidupan gemerlapnya, rela meninggalkan perusahaan itu dan memilih mengurusi perpustakaan kecil sebuah sekolah dasar di Bahundanda (kuberitahu, ini nama sebuah desa di pelosok Nepal)? Jawabannya adalah: mungkin, jika orang itu bernama John Wood. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seminggu ini aku tak bisa lepas dari penuturan menakjubkan lelaki mantan eksekutif puncak di Microsoft itu, yang dalam salah satu fase hidupnya menyadari satu hal: ‘Apakah sungguh-sungguh penting berapa banyak salinan Windows yang kami jual di Taiwan bulan ini ketika jutaan anak tak memiliki akses ke buku?’ Pertanyaan ini seolah menandai perubahan radikal garis hidupnya seperti diungkap dalam memoar perjalanan yang ditulisnya, berjudul Room to Read (Penerbit Bentang, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran John Wood bermula dari perjalanan liburan panjangnya mengunjungi Himalaya tahun 1999. Dalam kunjungan itu dia bertemu dengan seorang penilik sekolah yang kemudian membawanya ke Bahundanda untuk melihat salah satu SD di situ. John sempat terkesima ketika diajak masuk ke perpustakaan sekolah yang nyaris tak memiliki buku sama sekali. Muncul keinginan yang kuat dalam dirinya untuk membantu sekolah itu mendapatkan buku-buku yang diperlukan para muridnya. Berawal dari ‘proyek kecil’ mengumpulkan buku bekas dari kawan-kawannya di Amerika, John tergerak untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Nepal tak hanya butuh perpustakaan karena di negri yang indah itu tujuh dari sepuluh anak ternyata buta huruf! Akses ke dunia pendidikan sangat minim, terutama bagi anak perempuan. Nepal membutuhkan lebih banyak gedung sekolah. Namun keinginan ini membawanya pada situasi sulit: membantu anak-anak mendapatkan pendidikan tak bisa berjalan seiring dengan karirnya di Microsoft yang menuntut totalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan tahun menjalani karir gemilang di perusahaan ternama, justru membawa John pada satu pemikiran: jika ia meninggalkan Microsoft, dalam waktu cepat perusahaan itu bisa mendapatkan pengganti (dari antrian panjang pelamar), sementara jika dia mengundurkan diri dari keinginan membantu jutaan anak agar bisa bersekolah, belum tentu ada satu orang yang mau mengambil alih peran itu. Kenyataan ini menguatkan tekadnya untuk segera bertindak. Dari sinilah John memulai organisasi nirlaba yang pada awalnya bernama Books for Nepal. Langkah berani yang diambilnya saat meninggalkan Microsoft menjadi salah satu &lt;i&gt;unique selling proposition&lt;/i&gt; untuk menarik bantuan para donatur. Bukan awal yang mudah, tapi John mampu melewatinya bahkan sebelum organisasinya menginjak dua tahun, dia sudah berekspansi ke negara kedua, Vietnam. Kemudian menyusul Kamboja, Srilanka dan India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, buku ini juga memberikan gambaran bagaimana sebuah organisasi nirlaba seharusnya dijalankan. Kiat sukses Room to Read membangun ribuan sekolah dan perpustakaan tak lepas dari model bisnis ‘ambil salah satu proyek’, dimana donatur bisa mendapatkan hubungan sebab-akibat yang kuat antara berapa besar sumbangannya dan  berapa banyak yang bisa diperbuat dengan sumbangan itu. Ini mungkin berbeda dengan beberapa organisasi nirlaba yang tidak menjelaskan ‘sebab-akibat’ dari dana yang disumbangkan para donaturnya. Model bisnis Room to Read mensyaratkan efisiensi biaya operasional dan keterlibatan komunitas yang dibantu. Dengan model bisnis ini, terbukti proyek-proyek mereka bisa berkelanjutan. Sekolah-sekolah yang mereka bangun bisa terus berkembang tanpa harus selalu bergantung pada bantuan Room to Read.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi banyak orang, terutama anak-anak yang berhasil mendapatkan pendidikan, John adalah seorang pahlawan. Sesungguhnya dia juga tidak bisa lepas dari dorongan manusiawinya untuk memiliki kehidupan pribadi sebagaimana orang lain. Di epilog buku ini John menggambarkan bagaimana ia memasuki usianya yang ke 40 tahun, tanpa seorang pendamping dan rumah yang masih berstatus sewa. ‘Jika anda mencintai apa yang anda lakukan dan dikelilingi oleh teman-teman dan keluarga yang baik, maka empat puluh atau lima puluh atau enam puluh hanyalah suatu angka bulat, bukan penyebab kepanikan.’ Di bagian lain John menuliskan salah satu motivasinya, ‘Saya telah menemukan satu hal yang selalu saya inginkan –sebuah  karir bermakna dan tentang hal ini saya merasakan gairah. Setiap bangun saya ingin sekali melompat dari tempat tidur dan pergi ke kantor dan saya bersemangat untuk hal apa saja yang hari itu saya kerjakan. Itulah kemewahan yang langka di dunia ini.’ Dan apa hadiah ulang tahun ke-40 John untuk dirinya sendiri? Sebuah keputusan untuk mencurahkan masa paling produktif hidupnya untuk pendidikan anak-anak negara miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang selalu menyedot emosi ketika membaca buku ini adalah kenyataan bahwa sebuah niat baik bisa berkembang begitu rupa. Seorang Andrew Carnegie bisa membangun 2.000 perpustakaan di Amerika seorang diri. Tapi John, yang tidak sekaya Andrew, dengan kekuatan jaringan Room to Read tidak hanya bisa membangun lebih banyak perpustakaan, tetapi juga sekolah dan beasiswa untuk ribuan pelajar di negara terbelakang. Ada ribuan orang terlibat dalam jaringan itu. Salah seorang diantaranya gadis berusia delapan tahun yang mampu menggalang dana bagi pembangunan sebuah sekolah baru di Nepal. Seakan menegaskan bahwa perbedaan latar belakang, prasangka ras, sekat geografis, dan apapun namanya, tak pernah menggerus habis kemanusiaan kita. Tetap saja ada ruang di hati kita yang tak bisa diganggu gugat. Sebuah ruang yang hangat untuk berbagi dengan sesama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-6767755690288275322?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/6767755690288275322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/sebuah-ruang-untuk-cinta_14.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/6767755690288275322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/6767755690288275322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/sebuah-ruang-untuk-cinta_14.html' title='Sebuah ruang untuk cinta'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjtHODvHGrI/AAAAAAAAADo/zWKNQWkfE6I/s72-c/roomtoread.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-2706518600216205267</id><published>2009-06-06T14:45:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T04:35:23.574-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menurutku...'/><title type='text'>Prita dan yang terhempas dan yang putus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjtBmoyd9dI/AAAAAAAAADI/-U8wiH99eCg/s1600-h/bebaskan_prita.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 251px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjtBmoyd9dI/AAAAAAAAADI/-U8wiH99eCg/s320/bebaskan_prita.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348941114472527314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tak sulit memahami situasi yang dihadapi Prita Mulyasari ketika membawa tubuhnya yang menggigil demam ke rumah sakit ‘itu’, you know who, malam hari 7 Agustus 2008 lalu. Kita semua mungkin pernah mengalami situasi yang sama. Bertemu dengan dokter, orang yang sebenarnya ingin kita hindari seumur hidup, berdialog singkat seperti diburu-buru, lantas pasrah pada apa pun yang kemudian terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bila menyimak isi e-mail keluhan Prita, menjadi jelas bahwa sejak awal tidak terjadi komunikasi yang semestinya antara pasien dan dokter, persis yang sering kita alami ketika berada di ruang dokter. Tulisan dr. Handrawan Nadesul di Kompas 6 Juni 2009 pun mengungkapkan hal yang sama, ‘Kasus Prita muncul karena tidak dibangun komunikasi dokter dengan pasien.’ Ada yang terputus di situ. Penjelasan dari rumah sakit ‘itu’, you know who, bahwa penanganan Prita sudah sesuai dengan SOP, pantas dipertanyakan. Apakah di SOP itu memuat butir yang berisi ‘melakukan komunikasi yang intensif dengan pasien berkaitan dengan semua keluhannya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang peneliti bidang kedokteran, Wendy Levinson, belum lama ini melakukan penelitian berkaitan dengan gugatan pasien terhadap dokternya. Hasil penelitian itu menyatakan bahwa dokter yang tidak pernah menghadapi gugatan pasien bersedia menyediakan waktu lebih lama 3 menit dibanding dokter yang pernah digugat oleh pasiennya. Hanya selisih 3 menit. Dengan kata lain, kebanyakan dokter diperkarakan bukan karena keahliannya tetapi karena mereka pelit waktu, enggan menjalin komunikasi yang menenangkan dengan orang yang dalam kondisi perlu bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi, saudara dokter. Apakah anda masih akan berpikir waktu adalah uang ketika waktu juga berhubungan dengan nyawa orang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Seorang dokter muda bernama Julian Sunan juga berpesan hal yang sama melalui situsnya: kalau mau berbisnis jadilah pedagang, bukan dokter. Ini dokter lo yang ngomong.....)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Photo: dari blog Tikabanget.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-2706518600216205267?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/2706518600216205267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/prita-dan-yang-terhempas-dan-yang-putus_19.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/2706518600216205267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/2706518600216205267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/prita-dan-yang-terhempas-dan-yang-putus_19.html' title='Prita dan yang terhempas dan yang putus'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjtBmoyd9dI/AAAAAAAAADI/-U8wiH99eCg/s72-c/bebaskan_prita.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-4606947295688707837</id><published>2009-06-05T00:23:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T04:34:15.961-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Sim Sala Blink!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sjs94SsfUXI/AAAAAAAAACo/3cr6yd1rmYU/s1600-h/blink+cover.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 101px; height: 154px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sjs94SsfUXI/AAAAAAAAACo/3cr6yd1rmYU/s320/blink+cover.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348937019733004658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rankin Fitch sedang dalam perjalanannya yang pertama di New Orleans dengan taxi. Dia melihat seuntai rosario menggantung di spion atas kemudi, sebuah photo wanita tua di dekat speedometer, dan selembar kartu parkir rumah sakit. Kepada sopir taxi yang tidak dikenalnya itu, Fitch menanyakan kabar ibunda sang sopir. Setengah heran, sang sopir bertanya,’bagaimana kamu tahu kalau ibuku sakit?’. Fitch kemudian menyambung,’ya, kamu baru saja menjemputnya dari rumah sakit. Istrimu sebenarnya ingin menitipkan ibumu di panti jompo tetapi kamu merasa bersalah karena bertentangan dengan keyakinan kristen. Menurutku, sebaiknya kamu pertimbangkan saran istrimu itu.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa tadi adalah sepenggal adegan di film Runaway Juri (2004), adaptasi novel John Grisham dan digarap oleh Gary Fleder. Bagaimana Fitch, diperankan dengan bagus oleh Gene Hackman, seperti tahu banyak mengenai kehidupan sopir taxi itu hanya dengan melihat beberapa benda di dalam taxinya? Itu yang disebut snap judgement (kesimpulan cepat), topik menarik yang dibahas Malcolm Gladwell di buku berjudul Blink (PT Gramedia PU, 2007). Ada banyak orang mempunyai kemampuan seperti itu, sebuah kemampuan membuat kesimpulan tepat berdasarkan ‘sedikit informasi’. Benarkah hanya dengan sedikit informasi? Apakah hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gladwell memulai pembahasannya tentang Blink dengan mengungkap sumber kemampuan membuat kesimpulan cepat, yaitu bagian otak bernama bawah sadar adaptif (adaptive unconscious), yang merujuk pada buku Strangers to Ourselves, Timothy D. Wilson. Di salah satu situsnya, Wilson menjelaskan pengertian yang sering dikaitkan dengan Sigmund Freud ini: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘...Freud’s view of an infantile, primitive unconscious has proved to be far too limited; the unconscious is much more sophisticated and powerful than he imagined. Humans possess a powerful set of psychological processes that are critical for survival and operate behind the conscious mental scene..’ &lt;/span&gt;Lebih lanjut Wilson mengatakan bahwa otak kita sebenarnya bolak balik bekerja dalam modus pikir sadar dan bawah sadar tergantung situasi. Dalam situasi bawah sadar itulah kesan sesaat dan kesimpulan spontan mengejawantah, misalnya saja ketika kita bertemu seseorang atau melihat benda tertentu pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari awal Gladwell sudah menggarisbawahi bahwa kesimpulan cepat itu bisa lebih baik dibanding kesimpulan hati-hati yang direnungkan lama sekali. Bahkan kemampuan mengambil kesimpulan cepat itu bisa dilatih dan dikendalikan. Dalam buku ini berlimpah contoh yang dipaparkan Gladwell dengan menarik untuk mendukung pernyataannya. Misalnya saja Vic Braden, seorang pelatih tenis kelas dunia yang bisa menyimpulkan dengan cepat dan tepat kapan seorang pemain akan melakukan double fault, sesuatu yang sangat jarang terjadi di pertandingan tenis profesional. Hanya dengan melihat bagaimana seorang pemain memantulkan bola, melambungkan ke udara, menarik raket, dan sebelum raket menyentuh bola &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;–blink!—&lt;/span&gt;Braden bisa menebak apakah pemain itu melakukan double fault!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Braden sendiri tidak bisa menjelaskan bagaimana keahlian seperti itu bisa dia miliki. Gladwell mencoba memaparkan bagaimana orang-orang seperti Braden mampu membuat kesimpulan cepat melalui sebuah pemahaman yang disebut teori cuplikan tipis (thin slicing). Dia bercerita tentang penelitian Gottman atas ribuan pasangan suami istri. Dengan melihat ribuan video percakapan pasangan-pasangan itu, Gottman menemukan bahwa pada tiap perkawinan ada sebuah pola yang khas, semacam DNA perkawinan. Secuil saja pemahaman mengenai pola ini, sudah cukup bagi Gottman untuk bisa ‘meramalkan’ pasangan mana yang akan bertahan sebagai suami istri setelah lima belas tahun berumah tangga. Menurut Gladwell, bawah sadar yang melakukan cuplikan tipis sama dengan Gottman mencuplik pola sebuah hubungan perkawinan. Untuk memperkuat argumennya, Gladwell melampiri pemikirannya dengan beberapa contoh lagi dari berbagai bidang, seperti kedokteran, militer, pemasaran, dan entertainment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun satu hal yang tak bisa dihindari bahwa kesimpulan cepat juga mempunyai sisi gelap. Gladwell mencontohkan bagaimana rakyat Amerika pernah ‘salah’ memilih presiden hanya karena melihat penampilannya yang rupawan. Juga bagaimana kita sering keliru menaksir kemampuan seseorang karena melihat warna kulit atau jenis kelaminnya. Tak bisa dihindari, snap judgement juga dipengaruhi oleh prasangka, perasaan suka-tak suka dan stereotypes. Berkaitan dengan ini Gladwell mengatakan ‘ ...kita dapat mengubah cara kita membuat cuplikan tipis dengan mengubah pengalaman yang berpengaruh terhadap kesan-kesan tersebut.’ Dengan kata lain, kemampuan kita membuat kesimpulan cepat itu bisa diperbaiki, dilatih dan disempurnakan. Kalau dicermati, contoh-contoh metode cuplikan tipis yang berhasil semuanya dilakukan oleh para experts, apakah itu ahli cicip makanan, pengamat seni, pegawai museum, produser musik, ataupun dokter. Sampai di sini mungkin pemaparan Gladwell jadi ‘kurang mengejutkan’. Kepiawaian membuat cuplikan tipis oleh bawah sadar itu tak bisa dilepaskan dari kemampuan sadar. Ia bersifat melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini, sebagaimana pemikiran Gladwell yang lain, tak sepi dari pembicaraan dan kritik. Salah satunya datang dari Michael R. LeGault yang menyoroti argumen blink yang seakan mereduksi pentingnya kemampuan manusia untuk think. LeGault menerbitkan buku dengan judul provokatif  Think, Why Crucial Decisions Can’t Be Made in the Blink of an Eye (terjemahannya ada di google books) -- menjadikan buku Gladwell ini makin menarik untuk disimak. Apalagi disampaikan dengan gaya yang akan memaksa kita untuk terus membacanya, penuh dengan kisah unik penambah wawasan dan boleh jadi mengusik rasa penasaran kita juga. Bahwa di tengah banjir informasi seperti sekarang ini, kemampuan membuat cuplikan tipis bisa memberikan perbedaan yang sangat besar.&lt;br /&gt;(Tertarik untuk menguasai ‘jurus maut’ ini?)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-4606947295688707837?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/4606947295688707837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/sim-sala-blink.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/4606947295688707837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/4606947295688707837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/sim-sala-blink.html' title='Sim Sala Blink!'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sjs94SsfUXI/AAAAAAAAACo/3cr6yd1rmYU/s72-c/blink+cover.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-5489375463799647503</id><published>2009-05-24T21:09:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T04:34:50.893-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>La Vie en Rose</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjsP5nwo0cI/AAAAAAAAACA/BpAnBx-SxWA/s1600-h/la-vie-en-rose.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 112px; height: 160px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjsP5nwo0cI/AAAAAAAAACA/BpAnBx-SxWA/s200/la-vie-en-rose.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348886465032540610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jazz, musik yang nikmat dan eksotis itu, konon muncul dari situasi yang sama sekali tidak nikmat. Bahkan ia lahir lewat getir, kelam dan kesepian*). Maka ketika minggu pagi aku dengar Louis Armstrong menyanyikan La Vie en Rose di sela suara trumpetnya, ingatanku melayang pada Edith Piaf, penyanyi Perancis yang menulis dan memopulerkan lagu itu pada tahun 1946. La Vie en Rose secara harfiah berarti ‘hidup (yang indah) dalam warna mawar’,  mungkin kurang tepat untuk menggambarkan kehidupan penulisnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edith Giovanna Gassion lahir dari orang tua yang berpisah. Ibunya penyanyi jalanan yang lelah dan putus asa, sementara ayahnya pemain akrobat di sirkus keliling. Dibesarkan oleh ayah yang bangkrut dan harus berpindah-pindah tempat, pernah dititipkan di rumah bordil selama beberapa tahun, membuat hidup Edith kecil hingga remaja bergantung pada jalanan dan receh yang didapat setiap kali mengamen. Sampai dia bertemu Louis Laplee yang bersedia mempekerjakan di kelab malam miliknya, memberi julukan ‘piaf’ (yang berarti burung pipit), dan yang terpenting, menyadarkan Edith pada anugerah suara yang dimilikinya. Itu pula yang menarik Raymond Asso, seorang penulis lagu dan pemandu bakat, untuk memoles Edith hingga menjadi penyanyi teater terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak serta merta hidup Edith menjadi seindah bunga mawar. Di film berjudul La Vie en Rose yang dirilis tahun 2007 lalu, diperlihatkan bagaimana Edith tak bisa lepas dari alkohol dan obat penghilang nyeri untuk menopang penampilannya yang tak kenal lelah dari satu pentas ke pentas berikutnya. Sering kali dia ambruk ketika menyanyi dan harus digotong keluar pentas. ‘Bukan hidup jika tak mengandung bahaya,’ begitu alasan Edith, dan manajemennya tak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya kembali naik ke atas pentas. Maka, dengan langkah tertatih Edith kembali menyeret tubuhnya yang lemah ke panggung, menemui para pencintanya yang telah siap dengan puluhan tangkai kembang mawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edith Piaf meninggal pada Oktober 1963 dengan kanker liver dan tubuh yang jauh lebih tua dari usianya yang belum setengah abad. Namun dia tidak pernah menyesalinya. Ratusan lagu, puluhan album, buku dan film menjadi saksi kesungguhan Edith menjalani peran hidupnya. Film La Vie en Rose yang mengantarkan Marion Cottilard sebagai pemeran Edith meraih Oscar untuk aktris terbaik tahun 2007, ditutup dengan penampilan terakhir Edith di Olympia Hall membawakan lagu ‘Non je ne regrette rien’. Lagu ini mungkin akrab di telinga kita dalam versi english, ‘No Regrets’, yang bagi Edith menggambarkan kehidupannya sendiri. Konon Edith mendedikasikan rekaman lagu ini untuk tentara Perancis yang waktu itu sedang berperang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang perlu disesali bila hidup telah dibaktikan begitu rupa. Memang berat, getir dan kadang terasa kelam tak berpengharapan. Tapi di sana selalu tersimpan kesempatan untuk menjadi berarti. Sebagaimana suara parau Louis Armstrong pagi itu, sekali pun kadang terdengar seperti rintihan, telah mewartakan padaku pengertian sederhana lewat liriknya:  ‘give your heart and soul.., and life will always be, La vie en rose...’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Have a great day, get your own La Vie en Rose..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*) Tentang jazz ini, aku mengetahuinya lewat penuturan Seno Gumira Ajidarma dalam Jazz, Parfum dan Insiden. Di bagian ‘Apakah Hidup Seperti Jazz’ dia menulis begini: ’Ketika penulis F. Scott Fitzgerald menyatakan datangnya abad jazz pada tahun ’20-an, ia maksudkan kata jazz untuk menjabarkan suatu sikap. Anda tidak usah tahu musiknya untuk memahami rasanya.....Itulah uniknya jazz bagiku. Ia seperti hiburan tapi hiburan yang pahit, sendu, mengungkit-ungkit rasa duka. Selalu ada luka dalam jazz, selalu ada keperihan...’ Namun di bagian lain, SGA juga menulis begini: ‘musik jazz, tentu saja, menyadarkan kita bahwa segala sesuatu tidak harus terikat kepada cara-cara tertentu. Begitu banyak cara lain, begitu banyak variasi. Kalau kita mendengarkan jazz...kita akan tahu betapa dahsyatnya musik sebagai pemantik imajinasi..’&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-5489375463799647503?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/5489375463799647503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/la-vie-en-rose.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/5489375463799647503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/5489375463799647503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/la-vie-en-rose.html' title='La Vie en Rose'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjsP5nwo0cI/AAAAAAAAACA/BpAnBx-SxWA/s72-c/la-vie-en-rose.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-7062355143283281454</id><published>2009-05-22T00:45:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T04:34:15.962-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Gado-gado rectoverso</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjtCTLEYcgI/AAAAAAAAADQ/COsTZ-NNCPE/s1600-h/rectoverso.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 98px; height: 143px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjtCTLEYcgI/AAAAAAAAADQ/COsTZ-NNCPE/s320/rectoverso.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348941879588712962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Memang cinta itu ada berapa macam?&lt;br /&gt;(rectoverso, p.56)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ada berapa macam cinta yang pernah kamu rasakan? Cinta dalam pengertiannya yang paling sederhana sebagai hubungan batin antara seorang pria dan wanita lazimnya sudah mulai hadir di masa-masa beliamu. Barangkali hingga kamu menemukan pasangan hidupmu kini kamu merasa cukup dengan satu jenis cinta, tak ada salahnya sejenak kamu menengok belasan jenis (cerita) cinta dalam buku Rectoverso, tulisan Dewi “dee” Lestari. Tak perlu menjadi terlalu serius dengan buku ini. Matikan laptopmu, ambil secangkir cappuccino dan nikmati saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini diawali dengan sebuah cerita pendek berjudul curhat buat sahabat. Mungkin disengaja cerita ini ditempatkan di awal, karena sepuluh cerpen berikutnya seperti curhat-curhat yang acapkali kita dengar dari sahabat yang sedang merasakan haru biru asmara. Tapi, tunggu dulu. Dee punya kepiawaian yang mengagumkan untuk menuliskan berbagai ‘curhat’ itu, apakah itu cinta terpendam, cinta tak bersambut, penantian, kejenuhan, juga kekaguman. Dee juga menghadirkan kisah cinta yang bukan monopoli para remaja: cinta seorang ibu (dalam cerpen tidur) dan cinta rahasia yang hadir kala usia tak terbilang muda (back to heaven’s light). Penuturan Dee yang liris memikat, mungkin akan membuatmu lupa pada cappuccinomu yang berangsur dingin tak tersentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan buku-buku sebelumnya seperti trilogi supernova, atau filosofi kopi, yang lebih serius, rectoverso ini terasa lebih intim, feminin dan segar. Apakah itu karena di setiap cerita pendek, dee menyisipkan puisi (syair lagu) yang berisi senada dengan ceritanya? Atau karena ada gambar/ilustrasi yang menyelip di bagian-bagian yang pas di tengah cerita? Bisa jadi. Aku sendiri punya kebiasaan membuat perumpamaan mengenai buku yang kubaca dengan makanan. Rectoverso ini mirip gado-gado yang mengundang selera. Bukan lantaran covernya yang hijau, tapi karena ramuan berbagai kesegaran dan bumbu di dalamnya, yang acapkali muncul seronok menohok lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berlebihan jika kamu mulai ‘menuliskan’ kisah cintamu sendiri setelah membaca buku ini. Tak perlu menjadi sebuah buku, tak perlu berbentuk cakram berisi lagu. Cukup melalui sebuah perghargaan atas semua bentuk cinta yang sekarang sedang ada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-7062355143283281454?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/7062355143283281454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/gado-gado-rectoverso.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/7062355143283281454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/7062355143283281454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/gado-gado-rectoverso.html' title='Gado-gado rectoverso'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjtCTLEYcgI/AAAAAAAAADQ/COsTZ-NNCPE/s72-c/rectoverso.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-2252299698898845864</id><published>2009-05-17T02:38:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T04:34:50.893-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>Para gajah, mari tonton Horton</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sji55D7PxII/AAAAAAAAAAk/TyvcbLs4gv0/s1600-h/horton2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 97px; height: 125px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sji55D7PxII/AAAAAAAAAAk/TyvcbLs4gv0/s320/horton2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348228947459949698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lelah dengan berbagai pemberitaan dari panggung politik di luar sana? Mari kita masuk ke dalam rumah, duduk tenang dan simaklah film adaptasi karya Dr Seuss berjudul Horton Hears a Who. Film animasi komputer 3D garapan Blue Sky Studio ini (sebelumnya menggarap Ice Age-2002) tak kalah canggih dalam menghidupkan tokoh maupun suasana dibanding film-film garapan Dreamworks Animation (Shrek-2001) ataupun Pixar Studio (Finding Nemo-2003). Film yang dirilis awal tahun 2008 ini tiba-tiba saja disodorkan oleh seorang sahabat hari jumat sore, tanggal 15 Mei kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kisah ini memang dimulai pada tanggal 15 Mei, saat Horton, seekor gajah yang baik hati, sedang menikmati cuaca cerah di hutan Nool. Entah bagaimana (mungkin karena telinganya yang ekstra lebar) Horton mendengar suara teriakan dari ‘sebutir debu’ yang melayang di depan matanya. Teriakan yang dipahami Horton sebagai panggilan minta tolong itu menggerakkan hatinya untuk mengikuti kemana debu itu diterbangkan angin. Sebutir debu yang berteriak minta tolong? Bagi binatang lain tentu saja pemahaman Horton ini sangat aneh, bahkan gila. Di mata pemimpin komunitas hewan di hutan Nool, sang kangguru yang kebetulan juga memiliki telinga berlebih, ‘sesuatu yang tidak bisa dilihat, didengar atau dirasa berarti tidak nyata.’ Karenanya, dia menganggap Horton telah melakukan kebohongan kepada publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, dalam debu itu memang ada kehidupan makhluk mikroskopis, sebuah komunitas makhluk Who yang mendiami Who-ville. Mc Dodd, walikota Who-ville, awalnya tidak percaya bahwa mereka hanyalah makhluk imut yang mendiami sebutir debu. Debu itu semula hinggap tenang di atas sekuntum bunga, sampai sebuah kejadian alam menerbangkannya, dan mempertemukannya dengan Horton. Sepanjang film ini kita menyaksikan bagaimana Horton berjuang mati-matian mengembalikan debu Who-ville itu ke tempat yang aman. Bukan perjuangan yang mudah di tengah ‘masyarakat yang penuh prasangka dan tidak peka’. Bahkan pada puncaknya, Horton harus diadili di muka umum, dipenjara dan menyaksikan debu itu terancam masuk ke minyak panas. Untunglah teriakan berjamaah seluruh penduduk Who-ville akhirnya terdengar oleh salah satu binatang selain Horton, yaitu anak sang kangguru. Maka selamatlah debu Who-ville. Warga hutan Nool dan makhluk Who merayakannya bersama, diiringi lagu (yang, huh, sangat menyentuh) ‘can’t fight this filling’ yang dipopularkan band Reo Speedwagon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Dr. Seuss ini mengingatkanku pada catatan pinggir Goenawan Mohamad di majalah Tempo edisi 13 April lalu. Di caping itu gm menceritakan pengalamannya masuk bilik suara pemilu legislatif. Dia membuka tulisannya dengan ‘Di bilik suara itu aku tertegun: di sini aku sendiri, satu di antara jutaan suara lain, satu noktah di dalam arus 170 juta manusia, mungkin patahan bisik yang tak akan terdengar. Ini sebuah pemilihan umum; statusku: sebuah angka.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setitik noktah yang tak terdengar, satu diantara 170 juta, sebuah angka tanpa nama, seperti makhluk Who (sesuatu tanpa nama) di cerita Dr. Seuss itu. Begitu jugakah yang kamu rasakan kemarin? Benarkah ‘suara kita menentukan masa depan bangsa’ sebagaimana bunyi spanduk? Aku tindak ingin menyeret tulisan ini kepada diskusi berkepanjangan tentang hak politik warga negara. Satu saja yang ingin kusampaikan, sebagaimana pesan moral dari film Horton Hears a Who: ‘a person is a person no matter how small...’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Adakah gajah yang punya telinga cukup peka di sini?)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-2252299698898845864?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/2252299698898845864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/para-gajah-mari-tonton-horton.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/2252299698898845864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/2252299698898845864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/para-gajah-mari-tonton-horton.html' title='Para gajah, mari tonton Horton'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sji55D7PxII/AAAAAAAAAAk/TyvcbLs4gv0/s72-c/horton2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-6909938887739193825</id><published>2009-05-12T02:55:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T04:34:15.962-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Sukses yang tak berdiri sendiri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sjds2AcgFwI/AAAAAAAAAAU/_7cXokKUhq8/s1600-h/Outliers.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 165px; height: 250px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sjds2AcgFwI/AAAAAAAAAAU/_7cXokKUhq8/s320/Outliers.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347862757614032642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Benarkah ada orang-orang tertentu yang memang diberkati sejak lahir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kuliah dulu aku sempat ‘curiga’ dengan fenomena menghilangnya beberapa teman dari ruang kuliah gara-gara terkena DO atau mengundurkan diri dengan berat hati. Padahal mereka adalah para mahasiswa terpilih dari seluruh penjuru tanah air yang kecerdasannya tak perlu diragukan lagi. Dengan nada getir kita sering menyebutnya sebagai seleksi alam. Benarkah? Apakah orang yang tidak mampu secara ekonomi tidak berhak mengenyam pendidikan tinggi? Dengan demikian juga tidak berhak atas sebuah ‘kesuksesan’?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan memang bukan pengertian yang mudah dijelaskan. Anggaplah ia berupa sebuah pencapaian ‘duniawi’ seperti kedudukan, harta benda maupun popularitas. Maka buku berjudul Outliers tulisan Malcolm Gladwell menggambarkan dengan menarik bagaimana kesuksesan itu tidak pernah berdiri sendiri. Orang tidak pernah berjuang dari nol menuju sesuatu, sebagaimana selama ini sering diceritakan dalam kisah-kisah sukses para tokoh. Orang sukses, para outliers, ‘...mereka tanpa kecuali adalah penerima berbagai keuntungan yang tersembunyi, kesempatan yang luar biasa, dan warisan kebudayaan yang membuat mereka bisa belajar dan bekerja keras serta menghadapi dunia ini dalam cara yang tidak bisa dilakukan orang lain.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gladwell mengajak kita menilai kesuksesan dengan cara yang lebih rendah hati. Pertama, kesuksesan sebagai ‘keuntungan yang terakumulasi’. Ambil contoh, apakah sebuah kebetulan jika para tokoh di dunia teknologi informasi dilahirkan di tahun yang hampir sama: Bill Gates (Microsoft, 1955), Paul Allen (Microsoft, 1953), Steve Ballmer (Microsoft, 1956), Steve Jobs (Apple, 1955), empat sekawan pendiri Sun Microsystem: Bill Joy (1954), Scott McNealy (1954), Vinod Khosla (1955), Andy Bechtolseim (1955) dan Eric Schmidt (Novell, 1955)? Bukan sebuah kebetulan, karena ketika revolusi komputer pribadi tahun 1975 terjadi, merekalah yang sedang dalam posisi (usia) terbaik untuk mengambil keuntungan dari revolusi itu. Gladwell juga menyorot lebih detil riwayat  Gates yang, tanpa mengecilkan kerja kerasnya, bertemu serangkaian kesempatan yang sangat langka. Dalam hal ini Gates sendiri manyatakan,’aku memiliki pengalaman yang lebih baik...dibandingkan orang lain dalam masa yang sama dan semua karena serangkaian peristiwa yang benar-benar menguntungkan bagi diriku.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpaduan antara kaya (Gates anak pengacara kaya raya), cerdas, dan ‘serangkaian peristiwa menguntungkan’ adalah kombinasi yang sangat jarang. Gladwell mengambil contoh seorang genius bernama Chris Langan (IQ 195, bandingkan dengan Einstein yang IQ-nya ‘cuma’150), yang tidak memiliki kombinasi langka itu, harus gagal meraih gelar sarjana karena keluarganya yang miskin dan berantakan dan kini cukup puas dengan ‘sebuah peternakan kuda yang sedikit rusak di utara Missouri’. Meskipun pembahasan mengenai IQ ini terasa sedikit ‘kuno’, namun Gladwell menyajikan beberapa penelitian tentang IQ yang cukup menarik untuk disimak. Misalnya penelitian Lewis Terman yang mengumpulkan ribuan anak ber-IQ di atas 140 dan mengamati perkembangan mereka hingga dewasa. Di akhir pengamatan, Terman mendapati fakta yang menyedihkan: anak-anak genius dari keluarga kurang mampu gagal meraih kesuksesan dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian kedua bukunya, Gladwell mengungkap pengaruh budaya pada kinerja seseorang (dengan demikian juga kesempatan untuk meraih sukses) melalui cerita yang unik, salah satunya teori etnik mengenai jatuhnya pesawat. Banyak kecelakaan pesawat terbang terjadi karena ko-pilot merasa sungkan untuk mengingatkan pilot pada situasi darurat. Dan itu terjadi pada awak pesawat di negara dengan Power Distance Index yang tinggi, yaitu negara yang masih menganggap hirarki kekuasaan sebagai hal yang ‘terlalu penting’, termasuk rasa sungkan bawahan untuk mengingatkan atasan. Pada bagian ini Gladwell juga bercerita bagaimana orang berupaya mengatasi ‘pengaruh budaya’ yang kurang relevan dengan dunia kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya Gladwell menyimpulkan bahwa kesuksesan adalah hadiah. ‘Outliers adalah mereka yang telah diberikan serangkaian kesempatan  dan mereka yang memiliki kekuatan dan kegigihan untuk meraihnya.’ Mungkin benar bahwa ada sebagian orang yang memang diberkati sejak lahir berupa kejeniusan. Itu sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan. Tetapi kesempatan untuk semua orang adalah hal yang bisa diusahakan. Sebagaimana Gladwell menulis (hemm...ini bagian yang aku suka): ‘untuk membangun dunia yang lebih baik, kita harus menggantikan serangkaian keberuntungan dan kelebihan yang hari ini menjadi penentu kesuksesan ....dengan masyarakat yang memberikan kesempatan untuk semuanya...’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(kamu setuju?)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-6909938887739193825?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/6909938887739193825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/sukses-yang-tak-berdiri-sendiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/6909938887739193825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/6909938887739193825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/sukses-yang-tak-berdiri-sendiri.html' title='Sukses yang tak berdiri sendiri'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sjds2AcgFwI/AAAAAAAAAAU/_7cXokKUhq8/s72-c/Outliers.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-4620490501519661907</id><published>2009-05-08T02:46:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T04:34:15.962-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Menggubris metamorfosis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sji7ndzxrbI/AAAAAAAAAAs/Opui4rfrEPM/s1600-h/metamorfosis.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 76px; height: 118px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sji7ndzxrbI/AAAAAAAAAAs/Opui4rfrEPM/s320/metamorfosis.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348230844193549746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati, manusia bisa bermetamorfosis menjadi kutu. Berbeda dengan influenza yang terasa gejalanya, metamorfosis ini sangat sulit dikenali tanda-tandanya. Seorang pria bernama Gregor tahu-tahu sudah berubah menjadi binatang menjijikkan itu ketika bangun dari tidurnya yang gelisah. Masih belum percaya? Baca saja novel pendek Kafka, Metamorfosis, dan bersiaplah menghadapi teror menakutkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah seminar motivasi beberapa waktu yang lalu, ada seorang karyawan yang mengeluh betapa ‘hidupnya sangat membosankan’. Mengawali hari dengan bangun tidur tergesa-gesa, mengisinya dengan memeras keringat hingga tak bersisa, dan menutupnya kembali dengan tidur di samping alarm yang begitu berkuasa. Begitu berulang-ulang seperti tak ada pilihan lain yang lebih menarik. Sama dengan yang dialami Gregor di novel Kafka itu. Bekerja 15 tahun tanpa pernah ijin sakit, menjadi tulang punggung keluarga (ayah dan ibu yang sudah renta dan seorang adik perempuan belia) dan diliputi kebosanan yang sama. Sebagai seorang sales person dia harus berhadapan dengan ‘...kutukan perjalanan, khawatir tentang jadwal kereta, makanan yang buruk dan tidak tentu, berhubungan dengan orang yang berbeda setiap saat, dengan demikian kau tidak pernah dapat mengenal siapa pun dengan baik....’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan hidup Gregor adalah kisah manusia from hero to zero, dari pahlawan bagi keluarga hingga menjadi orang paling tidak diinginkan bahkan aib di dalam keluarga. Kafka menguliti secara dingin nasib Gregor yang dicampakkan, bahkan berusaha dilenyapkan sebagaimana nasib binatang yang menjijikkan pada umumnya. Menjelang akhir novel Kafka menyudahi kepahitan hidup Gregor dalam sebuah kamar sempit, gelap tapi ‘...ia seperti melihat cahaya di mana-mana di luar jendela...’ Apakah dunia kerja memang semacam kepompong yang mengubah seseorang menjadi bentuk lain tanpa disadari sama sekali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu dulu. Beberapa waktu lalu aku membaca kisah Toyotomi Hideyoshi, The Swordless Samurai, di kolom Arvan Pradiansyah di situs web.bisnis.com. Pengabdian seumur hidup Hideyoshi sebagai pelayan Lord Nabunaga seolah dilalui dengan ringan tanpa mengubahnya menjadi sebentuk makhluk buruk. Atau kisah lain di pembuka buku Malcolm Gladwell, Outliers, sedikit banyak menggambarkan bagaimana kerja keras penduduk Roseto, wilayah kecil di Pennsylvania timur, tidak serta merta membawa mereka pada kondisi yang mengkhawatirkan. Bahkan sebaliknya, ‘...Tidak ada kasus bunuh diri, tidak ada penyalahgunaan alkohol, tidak ada kecanduan obat terlarang...’ Gladwell bercerita bagaimana penduduk Roseto ‘...saling berkunjung antara satu dengan yang lain, berhenti untuk mengobrol dalam bahasa italia di jalanan, atau memasak untuk tetangganya di halaman belakang rumahnya...’ Kalau pun penduduk Roseto meninggal, itu karena memang sudah uzur, dan bukan karena menjadi kutu yang tumpas dilibas alas kaki yang gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bangunlah, dan katakan padaku untuk tidak pernah menyerah...)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-4620490501519661907?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/4620490501519661907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/menggubris-metamorfosis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/4620490501519661907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/4620490501519661907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/menggubris-metamorfosis.html' title='Menggubris metamorfosis'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sji7ndzxrbI/AAAAAAAAAAs/Opui4rfrEPM/s72-c/metamorfosis.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-7632875487677614665</id><published>2009-04-12T00:28:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T04:34:15.962-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Teh Perdamaian Mortenson</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sjs_xbgUgpI/AAAAAAAAAC4/LA9_xUo1SoI/s1600-h/three_cups.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sjs_xbgUgpI/AAAAAAAAAC4/LA9_xUo1SoI/s320/three_cups.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348939100862055058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mana sebenarnya yang lebih penting: melakukan sesuatu yang besar atau berbuat sesuatu yang berarti? Mana yang lebih luar biasa: menaklukkan puncak tertinggi pegunungan Karakoram atau mendirikan sekolah untuk anak-anak miskin? Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat menghidangkan Three Cups of Tea (penerbit: Hikmah, Januari 2009), sebuah buku yang sangat inspiratif tentang  perjuangan Greg Mortenson, seorang pendaki gunung ternama, yang membangun satu demi satu sekolah di wilayah paling ekstrem di bumi ini: pegunungan yang sulit dijangkau dan diliputi peperangan demi peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1993, Greg Mortenson terpaksa harus berdamai dengan kegagalannya menaklukkan puncak K2, titik tertinggi di jajaran pegunungan Karakoram, Pakistan. Namun kegagalan itu memberinya berkah tersembunyi, perkenalan dengan penduduk desa Korphe dan Haji Ali sang tetua desa, yang mengubah garis hidupnya dari seorang pendaki gunung menjadi pekerja kemanusiaan selama bertahun-tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan membayangkan bahwa Mortenson adalah seorang kaya raya, atau setidaknya punya akses ke para hartawan. Di buku ini kita bisa menyimak perjuangannya mulai dari nol besar, menyisihkan setiap dolar penghasilannya, mengorbankan benda-benda kesayangannya, ‘mengamen’ melalui presentasi yang kadang hanya dihadiri segelintir orang dan ‘mengorbankan harga diri’ di depan orang yang semula diharapkan bisa menjadi donatur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tetap saja bagian yang paling menyentuh adalah ketika niat baik Mortenson berkembang biak, bertemu dengan ketulusan (dan kepolosan) orang-orang yang kemudian mendukungnya dengan sepenuh hati. Mereka terutama adalah para tetua desa dan pemuka agama di wilayah terpencil Pakistan dan Afghanistan. Dari situlah Mortenson semakin yakin bahwa, di tengah perang absurd melawan terorisme pasca 9/11,  perdamaian bisa diwujudkan tidak dengan bom tetapi dengan buku, dengan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui bahwa David Oliver Relin, penulis buku ini, berhasil mendokumentasikan perjuangan Mortenson dengan sangat bagus. Kesaksian tokoh-tokoh kunci yang hadir di dalam ‘orbit Mortenson’ diramu sangat memikat, hidup, dengan kata-kata terpilih yang memesona. Buku ini ibarat secangkir teh yang nikmat dan berharga, bisa diresapi kapan saja, bahkan jika harus mengorbankan sebagaian waktu istirahat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir bukunya, Mortenson mengungkap motivasinya melakukan semua upaya ini: “...ketika aku menatap mata anak-anak di Pakistan dan Afghanistan, aku melihat mata anak-anakku sendiri yang penuh ketakjuban – dan berharap bahwa kita semua melakukan bagian masing-masing guna mewariskan perdamaian pada mereka dan bukannya lingkaran tanpa akhir dari kekerasan, perang, terorisme, rasisme, eksploitasi, dan prasangka yang masih belum berhasil kita taklukkan.” (p. 622)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Seorang teman menuliskan review-nya begini: “pesan terdekat yang terbetik dalam benakku...: di bidang pengabdian apa pun kau menemukan dirimu hari ini, lakukan itu dengan tulus dan sungguh-sungguh. jejak yang kau buat akan tak kalah berarti dalam skalanya sendiri dengan apa yang dibuat Dr Greg di puncak-puncak dataran tinggi Baltistan sana.”)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-7632875487677614665?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/7632875487677614665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/teh-perdamaian-mortenson.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/7632875487677614665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/7632875487677614665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/teh-perdamaian-mortenson.html' title='Teh Perdamaian Mortenson'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sjs_xbgUgpI/AAAAAAAAAC4/LA9_xUo1SoI/s72-c/three_cups.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-4475646383051913908</id><published>2009-04-08T22:20:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T04:34:50.893-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>Menikmati Atonement</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjnO0IKarkI/AAAAAAAAABU/XxBM9JIETBw/s1600-h/Atonement.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 136px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjnO0IKarkI/AAAAAAAAABU/XxBM9JIETBw/s200/Atonement.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348533427418869314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah terpapar sangat serius oleh pemandangan karya instalasi para caleg yang menyemak di sepanjang jalan, mata ini rasanya butuh semacam detoksifikasi visual. Memandang matahari rebah di horison pantai panjang bengkulu, sedikit banyak mengobati kejenuhan indera penglihatan ini. Tapi jamuan lezat untuk mata yang sesungguhnya aku nikmati malam harinya ketika menonton (kembali) sebuah film berjudul atonement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Ian McEwan ini bercerita tentang imajinasi penebusan dosa briony tallis, seorang penulis novel ternama yang di akhir perjalanan kreatifnya menulis novel berdasarkan kisah nyata hidupnya sendiri. Film diawali dengan penggambaran kisah cinta terpendam antara cecilia, kakak briony, dengan kekasihnya, robbie, yang tak bisa sepenuhnya dipahami oleh briony kecil saat berusia 13 tahun. Kepolosan, keinginan diperhatikan dan kecemburuan usia belia membangun persepsi bias di benak briony tentang robbie, yang tak lain adalah anak tukang kebun keluarga briony. Hingga kesalahan fatal itu terjadi: briony memberikan kesaksian palsu atas kejahatan yang tidak dilakukan oleh robbie, dan memaksa sang kakak harus terpisah dari kekasihnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun robbie harus menjalani hukuman penjara, sampai dia memutuskan untuk memilih masuk angkatan darat inggris sebelum masa hukumannya berakhir. Cecilia sempat bertemu sang kekasih beberapa saat sebelum perang merenggut robbie dan memisahkan mereka untuk selama-lamanya. Di akhir film briony sang penulis novel mengakui kecerobohan masa kecilnya yang tak (sempat) termaafkan karena ajal telah terlebih dahulu menjemput baik cecilia maupun robbie. Untuk ‘menebus’ kesalahannya itu, briony ‘membelokkan’ bagian akhir novelnya dengan memberikan kesempatan kepada cecilia dan robbie untuk menikmati kebahagiaan. Satu hal yang tak mereka dapatkan di dunia nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini sangat menarik bukan hanya karena ceritanya yang memikat (joe wright, sutradara, lumayan berhasil ‘mengantarkan’ cerita yang konon cukup rumit ini) tetapi juga karena suguhan karya sinematografinya yang memukau (mendapat nominasi oscar ke 80 untuk pencapaian sinematografi). Sejak film dibuka, penonton sudah dimanjakan oleh pemandangan sebuah mansion awal abad 20 yang asri berikut penghuninya dalam balutan kostum yang didominasi warna coklat tanah, hijau tunas, abu-abu dan biru muda. Gambar-gambar indah dengan saturasi terjaga tetap tersaji sekalipun seting telah bergeser ke arena pertempuran, dan inggris pasca perang tahun 1940. Tampaknya, seamus mcgarvey (sinematography) dan sarah greenwood  (art director) berupaya maksimal menampilkan keindahan bahasa gambar untuk mengimbangi narasi mcewan yang diakui sang sutradara sangat brilian. Hasilnya? Lumayan sedap dinikmati sembari meneduhkan mata di malam yang mulai larut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(maaf, ada yang terlupa. pemeran cecilia di film ini adalah keira knightley…)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-4475646383051913908?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/4475646383051913908/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/menikmati-atonement.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/4475646383051913908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/4475646383051913908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/menikmati-atonement.html' title='Menikmati Atonement'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjnO0IKarkI/AAAAAAAAABU/XxBM9JIETBw/s72-c/Atonement.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-2982709482763863240</id><published>2009-03-18T02:40:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T04:35:23.574-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menurutku...'/><title type='text'>Perkara senyum</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sometimes I just forget to smile  (judul lagu michael franks)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara senyum membawaku kepada dialog dengan seorang pengamen di sebuah kedai di jakarta beberapa waktu yang lalu. Lelaki kurus berambut panjang dan sebagian besar sudah beruban itu melayangkan protes gara-gara aku tak membalas senyumnya usai sebuah lagu mengalir dari mulutnya. Aku berusaha membela diri karena ‘merasa’ sudah membalas senyumannya itu. Baiklah, waktu itu aku memang tidak begitu mempedulikannya. Dan ketika di depan cermin aku me-rekonstruksi kejadiannya, sadarlah bahwa sekalipun hatiku merasa sudah tersenyum ternyata wajahku sama sekali tidak mempertontonkan seulas senyum pun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum tak berbalas mungkin sama menyakitkan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Suatu ketika aku pernah bertanya kepada beberapa staf frontliner di tempatku bekerja. Mengapa mereka sulit sekali tersenyum, terutama kepada para pelanggan? Dalih yang mereka berikan: mereka pernah berkali-kali memberikan senyum kepada pelanggan dan senyum itu tak berbalas sama sekali. Mereka menjadi ragu, dan mungkin juga sakit hati. Katakan padaku, bila kamu datang ke sebuah restoran atau departemen store, dan di pintu masuknya ada seorang gadis menyambut dengan salam dan senyum terindahnya, apa yang kamu lakukan? Membalasnya ataukah berlalu seakan mereka itu sejenis patung penghias pintu masuk? Berapa ratus kali sehari gadis itu tersakiti hatinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi berpikir, sudah begitu sulitkah kita tersenyum? Ataukah kita lupa cara tersenyum yang tidak hanya dalam hati tetapi juga lahir dalam bentuknya yang paling indah? Berapa kali dalam sehari kita tersenyum untuk orang-orang di sekitar kita? Istri/suami, anak, tetangga, staff, atasan, rekan usaha, sudahkah mereka mendapatkan haknya atas senyum kita? Ingatkah kamu bagaimana joker dalam film batman the dark knight mengajari orang cara untuk tersenyum? Benar sekali, dengan cara membuat sayatan ke atas dengan pisau di kedua ujung bibir kita. Kamu ingin belajar dari joker atau mencoba sendiri menemukan semua alasan untuk bisa tersenyum setiap hari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-2982709482763863240?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/2982709482763863240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/perkara-senyum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/2982709482763863240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/2982709482763863240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/perkara-senyum.html' title='Perkara senyum'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-6433444267325898118</id><published>2009-03-09T21:07:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T04:35:23.574-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menurutku...'/><title type='text'>Beri aku jeda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sjs8x3eKQkI/AAAAAAAAACY/g63Bbn8dgJQ/s1600-h/broken_clock.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 187px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sjs8x3eKQkI/AAAAAAAAACY/g63Bbn8dgJQ/s200/broken_clock.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348935809834304066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang membayangkan sebuah cuti yang terasa seperti libur panjang masa sekolah dulu. Waktunya sudah terjadwal dan ditunggu penuh rasa tak sabar. Apa yang nikmat dalam libur sekolah? Ini dia: tak ada peraturan sekolah, sepi dari perintah dan hardikan guru, bebas menikmati waktu, bertemu teman tanpa pembicaraan materi pelajaran, bisa berdiam diri seharian di kamar atau pergi tanpa seorang pun peduli. Apakah ada yang terlewat? Baiklah, mungkin juga saat libur itu ada diantara kita menemukan cinta pertama. Umumnya, semuanya mengalir begitu saja, ringan dan tak terbeban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ingat lagi, sudah berapa lama tidak menikmati kemewahan seperti itu? Sudah beberapa kali aku mendapat cuti sepanjang masa kerja. Biasanya, libur tahunan itu hanyalah jeda, sebuah spasi untuk statement berikutnya. Aku bisa mengambilnya kapan saja, tapi saat aku berada di dalamnya, sering kali bukan spasi itu yang kunikmati. Dengan hp yang siap menyalak setiap saat, libur itu lebih mirip tidur panjang dengan mimpi buruk. Jadi ingat bob munro (robin williams) dalam film runaway vacation. Wisata bareng keluarga memang sebaiknya tak membawa laptop, blackberry dan hp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya, jeda yang bernama cuti itu tidak melulu persoalan waktu tapi juga berkaitan dengan ruang. Lihatlah bagaimana pikiran mulai menegang kembali bahkan ketika waktu cuti masih satu dua hari lagi. Aku gagal menciptakan ruang yang lapang untuk memulai kembali aktifitas keseharian. Ruang dalam hati dan pikiranku masih berantakan, fragmented, dan terasa sempit hingga sulit bergerak bahkan untuk sekedar mengambil nafas. Ini yang membuatku kadang jadi kurang sensitif, tak kreatif, bahkan melakukan tindakan bodoh yang kusesali kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau cuti dan tak ada salahnya punya agenda membenahi ruang yang berantakan itu. Kurasa, masih banyak tempat kosong untuk berdiri dan -- dalam jarak yang cukup dan pandangan yang jelas tak terhalang, melihat ke dalam diriku. Mengenalinya apa adanya. Bukan aku sebagaimana selama ini direfleksikan oleh penilaian orang lain, oleh pencapaian-pencapaian (jika pun itu ada dan bukan sekedar ilusi), pun oleh kegagalan-kegagalan. Aku yang telanjang dan bisa merasakan udara yang bergerak di sekitarku, mendengar bisikan hati yang selama ini terabaikan dan melihat tanpa bantuan kacamata penuh distorsi. Kuharap dengan begitu aku bisa mendapatkan jeda yang sebenarnya dan tak perlu khawatir kekurangan tempat saat cuti itu usai…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Apakah kamu selalu berhasil dengan cutimu?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*photo: "Beyond Space Time" karya Sun Shaoqun&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-6433444267325898118?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/6433444267325898118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/beri-aku-jeda_18.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/6433444267325898118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/6433444267325898118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/beri-aku-jeda_18.html' title='Beri aku jeda'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sjs8x3eKQkI/AAAAAAAAACY/g63Bbn8dgJQ/s72-c/broken_clock.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-8854094354163521094</id><published>2009-03-05T22:11:00.000-08:00</published><updated>2009-06-23T04:35:23.575-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menurutku...'/><title type='text'>Rantai kebencian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjnMwMQqXfI/AAAAAAAAABM/xgcIAKBaSOA/s1600-h/akuingin.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 95px; height: 160px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjnMwMQqXfI/AAAAAAAAABM/xgcIAKBaSOA/s320/akuingin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348531160776072690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai benci, aku ingat pada kalimat heroik yang  dulu menghiasi setiap sudut kampus: hanya ada satu kata, lawan! Kamu tentu tahu, kalimat itu berasal dari puisi wiji thukul berjudul peringatan. Aku menemukannya (lagi) di buku kumpulan puisinya yang berjudul aku ingin jadi peluru, terbitan indonesiatera tahun 2004. Mari kita sejenak bernostalgia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika rakyat pergi&lt;br /&gt;ketika penguasa pidato&lt;br /&gt;kita harus hati-hati&lt;br /&gt;barangkali mereka putus asa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau rakyat sembunyi&lt;br /&gt;dan berbisik-bisik&lt;br /&gt;ketika membicarakan masalahnya sendiri&lt;br /&gt;penguasa harus waspada dan belajar mendengar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila rakyat tidak berani mengeluh&lt;br /&gt;itu artinya sudah gawat&lt;br /&gt;dan bila omongan penguasa&lt;br /&gt;tidak boleh dibantah&lt;br /&gt;kebenaran pasti terancam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila usul ditolak tanpa ditimbang&lt;br /&gt;suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan&lt;br /&gt;dituduh subversif dan mengganggu keamanan&lt;br /&gt;maka hanya ada satu kata: lawan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan kalimat-kalimat yang merdu, memang. Sang penulis barangkali menorehkan penanya dengan tangan bergetar. Darimanakah sumber kebencian itu? Kalau menyimak puisi-puisi wiji thukul, sepertinya sumber itu tidak asing lagi. Siapa yang tak pernah sakit hati kepada penguasa, mengalami represi, tak bebas menyuarakan pendapat, merasa terancam oleh orang yang harusnya melindungi, terintimidasi, dibakar cemburu, dll. Makanya aku khawatir, jangan-jangan kebencian itu juga ada di sebuah tempat tersembunyi di hati kita. Dan dia laten.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis kebencian yang lain kudapati beberapa waktu lalu saat aku menonton film you don’t mess with the zohan. Bukan film yang bagus, tapi di film itu kebencian ditertawakan. Pertikaian palestina-israel yang tak berkesudahan sampai batas yang sulit dimengerti oleh sebagian penduduk negeri itu yang diwakili dalia, jelita palestina, dan zohan, mantan agen rahasia israel. Kebencian diwariskan turun temurun seperti tak ada ujungnya. Sampai kapan? Tak ada yang tahu. Ah, aku jadi ingin membaca buku how to cure fanatic, tulisan amos oz (ada yang punya?). Paling tidak dalam salah satu bagian buku itu dia menawarkan resolusi untuk menyudahi kebencian berantai: bring a bucket of water and throw it on the fire, and if you don’t have a bucket, bring a glass, and if you don’t have a glass, use a teaspoon—everyone has a teaspoon. And yes, I know a teaspoon is little and the fire is huge, but there are millions of us and each one of us has a teaspoon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, kebencian sepertinya tidak pernah berdiri sendiri. Si pembuat spanduk bernada kebencian di perempatan jalan, bisa jadi seorang fanatik. Tetapi bisa juga sekedar orang yang terluka di masa lalu, laiknya wiji thukul, dan tiba-tiba menemukan alasan untuk meneriakkan rasa sakitnya dalam bentuk yang menyerupai fanatisme. Aku tak tahu pasti. Sebagaimana aku ingin ada yang bisa menjelaskan bahwa dalam diri kita tersimpan juga puluhan birat luka semacam itu, bahwa kita pada hakekatnya cuma produk sejarah, storehouse of all the past? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai saja kita punya imajinasi seperti amoz os, bersedia menyiapkan sesendok air untuk setiap api yang muncul di sekitar kita, kurasa kita bisa membuat sedikit perbedaan (kalau bukan perubahan).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-8854094354163521094?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/8854094354163521094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/rantai-kebencian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/8854094354163521094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/8854094354163521094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/rantai-kebencian.html' title='Rantai kebencian'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/SjnMwMQqXfI/AAAAAAAAABM/xgcIAKBaSOA/s72-c/akuingin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-5015698042604403907</id><published>2009-02-28T03:27:00.000-08:00</published><updated>2009-06-23T04:35:23.575-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menurutku...'/><title type='text'>Warna-warni Imajinasi</title><content type='html'>Ini salah satu episode favoritku. Suatu hari, Spongebob Squarepants menerima satu paket yang dibungkus dus besar. Dia melonjak kegirangan. Sobatnya, Patrick, juga ikut gembira. Demi melihat keduanya, Squidward seperti biasa merasa kurang senang. Paket dibuka. Isinya satu buah televisi berwarna ukuran besar. Spongebob memang memesannya. Squidward heran, bagaimana Spongebob bisa membeli TV besar itu? Lebih heran lagi, ternyata Spongebob tak butuh TV-nya, tetapi justru mengambil dus/kotak pembungkusnya! TV-nya diberikan kepada Squidward. Kenapa? Dengan ringan Spongebob menjawab: aku tak butuh TV-nya, karena aku sudah punya imajinasi. (sejenak ada gambar pelangi melingkupi wajah kotak berwarna kuning itu). Dengan kardus pembungkus TV itu, Spongebob dan Patrick bermain dengan serunya, lebih seru dan asyik dibanding menonton TV. Belakangan Squidward pun tergoda untuk bermain di dalam kardus TV itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serial Spongebob memang acapkali menyuguhkan narasi yang mengejutkan. Sulit dibayangkan bahwa pencipta karakter unik itu, Stephen Hillenburg, awalnya adalah seorang guru biologi kelautan. Namun dia juga menyukai animasi, bidang yang barangkali tak ada kaitannya dengan profesi sebagai guru. Mungkin ini yang dimaksudkan oleh daniel pink dalam a whole new mind sebagai six sense, kemampuan memadukan berbagai hal yang sepertinya tidak berhubungan: mengajar biologi dan membuat animasi. Banyak perusahaan di amerika kini getol memberi perhatian pada six sense ini. Konon di perusahaan besar seperti 3m, xerox, bahkan di nasa, para eksekutifnya mendapat pelajaran khusus story telling, bercerita. Ya, kemampuan bercerita adalah salah satu dari six sense yang menurut daniel pink diturunkan oleh kemampuan otak kanan manusia, right directed aptitude.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak penuturan jeffrey l. cruikshank dalam the apple way, kita tahu betapa imajinasi telah menyelamatkan apple corps. dari (beberapa kali) situasi sulit. Kemampuan steve job berpikir menerobos sekat kaku desain produk melahirkan produk-produk inspiratif mulai dari imac, ipod, iphone (yang paling aduhai inspiratif tentu logo apelnya itu). Aku jadi berpikir, berapa banyak engineer (itb terutama) punya kemampuan seperti itu? Apakah pendidikan (teknologi) kita juga meliputi pelajaran melatih sisi imajinatif? Ah, terlalu berlebihan barangkali kalau aku membayangkan ada mkdu story telling di kampus ganesha 10 itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tahukah kamu, pagi yang bergairah dimulai dari bikini bottom…)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-5015698042604403907?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/5015698042604403907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/warna-warni-imajinasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/5015698042604403907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/5015698042604403907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/warna-warni-imajinasi.html' title='Warna-warni Imajinasi'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-695248879130908530.post-3448866851201080098</id><published>2009-02-18T18:11:00.000-08:00</published><updated>2009-07-09T15:50:47.215-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='No-smoking Area'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menurutku...'/><title type='text'>Perihal Tembakau</title><content type='html'>Ada yang menggembirakanku sebulan terakhir ini. Yuan, temanku yang ganteng itu, bertekad berhenti merokok. Beberapa hari lalu, supri, temanku yang kribo itu, mendeklarasikan diri sudah 3 tahun berhenti merokok. Kebetulan kami bertiga dulu adalah anggota presidium studi teater mahasiswa itb, unit kesenian yang secara tidak resmi menjadi promotor kebiasaan buruk merokok itu. Syukurlah, pada akhirnya kami, the three musketeers, bisa bersatu kembali untuk menolak menambah tebal pundi-pundi kekayaan para raja industri rokok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata tidak pada rokok memang tidak gampang. Siapa yang tahan bila reptilian brain dijejali rayuan iklan provokatif serba menonjolkan kejantanan, keberanian dan cita rasa tinggi. Siapa yang tidak tergoda oleh citra (semu) yang ditawarkan justru di masa belia saat sedang membentuk jati diri. Dan kita semua tahu, sekali tergoda dan menyerahkan pembentukan jati diri pada citra semu itu, bisa-bisa seumur hidup kita jadi pabrik asap bagi korporasi candu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repotnya, di sisi lain kampanye anti-rokok tersaji sangat tidak menarik, tidak kreatif, dan monoton. Selalu menonjolkan ribuan zat berbahaya yang terkandung dalam asap rokok. Siapa takut. Bahkan peringatan bahaya serangan jantung, impotensi, dan kanker pun jelas tidak membuat goyah. Apalagi fatwa ataupun perda. Tanpa mengecilkan perjuangan mas imam prasodjo dan kawan-kawan yang mendesak pemerintah meratifikasi konvensi pengendalian tembakau, pertempuran sesungguhnya melawan nikotin bukan di gedung parlemen atau ruang publik, tetapi di limbic system kepala manusia. Yang dibutuhkan adalah kampanye dan iklan yang tak kalah kreatif, provokatif dan mampu meruntuhkan citra dari kebiasaan buruk itu. Ayo, kita mulai…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skenario satu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki paruh baya berjalan gontai masuk ke rumahnya. Wajahnya kusut masai seperti menanggung beban yang sangat berat. Dihempaskan badannya di sofa. Berbagai persoalan di tempat kerja menghimpitnya, membuat semestanya seakan mengkerut membuatnya sesak. Ditatapnya photo keluarga yang tertempel di dinding tak jauh dari tempatnya duduk. Dia, istri dan ketiga anaknya. Karena merekalah dia mampu bertahan. Untuk mereka lah semua jerih payah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gundah, diambilnya satu batang rokok dari saku baju. Asap tebal mulai mengambang di udara membuat anak bungsunya yang tengah bermain tak jauh dari situ menatapnya dengan wajahnya polos penuh tanda tanya. Dengan suara jernih namun tanpa daya, anak itu bertanya dalam hati:”ayah, nggak kasihan sama adik ya?”. Kemudian muncul tulisan dan narasi di bagian bawah layar: Jangan kotori perjuangan anda dengan kebiasaan buruk ini. Selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap eros djarot berminat memoles cerita di atas menjadi lebih bagus lagi. Bersama saudaranya, slamet rahardjo djarot, mereka kemudian memproduksi iklan layanan masyarakat itu dengan sponsor dari yayasan nurani dunia, komnas ham, dan komnas perlindungan anak. Melalui departemen kesehatan dan departemen komunikasi dan informasi, iklan tersebut wajib ditayangkan oleh semua stasiun televisi pada jam prime time minimal 10 kali sehari, sebagai bentuk kepedulian media terhadap bahaya merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Halo, mas imam prasodjo dan kawan-kawan, apa bisa di-copy?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skenario dua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pesta ulang tahun yang sangat meriah: kue ulang tahun, hadiah, musik ceria, makanan dan minuman berlimpah. Seorang anak laki-kali berusia lima tahun begitu gembira di tengah kedua orang tua yang menyayanginya dan teman-teman sekolah yang ikut larut dalam suasana gembira. Lihatlah anak yang tampan dengan bola mata jernih dan senyum yang mampu meluluhkan hati setiap orang yang melihatnya itu. Orang tua manapun pasti rela melakukan segalanya demi tetap terkembangnya senyum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana menjadi hening sesaat ketika sang ayah menanyakan hadiah apa yang ingin diminta sang anak darinya.&lt;br /&gt;“Apakah ayah berjanji akan mengabulkan permintaanku?” tanya sang anak.&lt;br /&gt;“Tentu saja, sayang.” Jawab sang ayah pasti.&lt;br /&gt;“Janji?” sang anak ingin diyakinkan.&lt;br /&gt;“Katakan saja, ayah pasti mengabulkannya.”sang ayah tak sabar menerima permintaan dari anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin…..ayah berhenti merokok!” jawab anak itu singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika buah hati anda memintanya dari anda, apakah anda mau mengabulkannya? Sebuah permintaan yang tak lain wujud kecintaan sang anak kepada anda, ayahnya. Tak butuh keberanian seorang pendekar. Pun tak perlu pengorbanan kekayaan seorang hartawan. Bahagiakan buah hati anda. Bahagiakan orang-orang di sekitar anda dengan langkah kecil yang sangat berarti: berhenti merokok!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Katakan padaku, sayangkah anda kepada buah hati anda?)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/695248879130908530-3448866851201080098?l=pulaucaptiva.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/feeds/3448866851201080098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/perihal-tembakau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/3448866851201080098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/695248879130908530/posts/default/3448866851201080098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pulaucaptiva.blogspot.com/2009/06/perihal-tembakau.html' title='Perihal Tembakau'/><author><name>Yahya Mahmud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01431603276862820125</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uk0v60-axJI/Sk8DYBC1qVI/AAAAAAAAAFk/iZZjyxNu6jA/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
