Tampilkan postingan dengan label [Next]. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label [Next]. Tampilkan semua postingan

[Next] Mahluk transgenik bernama X.

>> Jumat, 03 Juli 2009

Salah satu film paling menjijikkan yang pernah kutonton adalah Island of Dr. Moreau, film akhir tahun 90-an. Di film itu bertebaran binatang-binatang ‘ciptaan’ Dr Moreau yang disisipi gen manusia. Konon untuk menekan sifat-sifat ‘kebinatangannya’. Setting waktu film itu adalah tahun 2010. Hmmm, tahun depan. Mungkinkah (dalam pengertian ‘dibenarkan secara moral’) binatang disisipi gen manusia? Apa nama ‘produk’ yang dihasilkan?

Di luar pertimbangan moral, kemungkinan itu terbuka lebar. Apalagi konon gen antara manusia dan simpanse hanya berbeda 1,5%. Mari tengok lebih dulu contoh ‘mahluk transgenik’ ini: buah tomat. Awalnya buah ini tidak bisa tumbuh baik di daerah bersuhu rendah. Maka dilakukan upaya modifikasi gen dengan menyisipkan gen ikan flounder (ikan yang hidup di air es), dan hasilnya tomat tahan segala cuaca.

Maka, menjadi ‘masuk akal’ ketika Crichton bercerita tentang penemuan orang utan Sumatra yang bisa bicara dan kakatua afrika yang cerdas, fasih berbicara dan menirukan bunyi-bunyian serta mampu berhitung. Dan cerita tentang ‘seekor simpanse’ bernama Dave. Wujudnya memang simpanse, tetapi tes darah menunjukkan bahwa darah yang mengalir di tubuh Dave adalah darah manusia. Bahkan simpanse itu kemudian bisa berbicara dengan lancar.

Dave adalah ‘buah’ eksperimen Henry Kendall, seorang ahli riset genetika. Henry pernah bekerja di National Institutes of Health (NIH) untuk meneliti masalah autisme. Ia pergi ke fasilitas primata untuk meneliti gen-gen yang bertanggung jawab atas perbedaan kemampuan komunikasi antara manusia dan monyet. Dan ia melakukan eksperimen dengan embrio simpanse dan gen miliknya sendiri. Hasilnya, lahirlah Dave, yang memanggil Henry dengan sebutan ibu (Ha ha ha...).

Diceritakan bahwa riset dengan melibatkan embrio simpanse dan gen manusia adalah riset ilegal. Karenanya hasil riset itu, Dave, juga menjadi produk ilegal. Persoalan menjadi pelik karena antara Henry dan Dave punya semacam ikatan emosional. Keputusan NIH untuk ‘melenyapkan’ Dave tak bisa diterima Henry. Dengan sembunyi-sembunyi Hanry melarikan Dave dari laboratorium NIH.

Sulit untuk membayangkan bagaimana jika eksperimen yang melibatkan gen-gen dari mahluk yang berbeda itu akan terus berlanjut. Bagaimana kita akan menyebut produk transgenik itu? Henry sendiri setengah tidak rela jika Dave disebut sebagai simpanse. Bahkan untuk menutupi identitas Dave yang sesungguhnya, dia mengatakan bahwa Dave adalah bocah laki-laki yang mengalami kelainan bawaan bernama Congenital Hypertrichosis Lanuginosa (bisa dilihat antara lain di http://emedicine.medscape.com/article/1072987-overview). Orang dengan kelainan itu akan mempunyai rupa mirip simpanse.

Jadi, mahluk apa sebenarnya si Dave ini? Juga mahluk jadi-jadian ‘karya’ Dr Moreau itu?

Baca selengkapnya...

[Next] Makna tubuh

Crichton mencuplik pernyataan Steven Weinberg (fisikawan AS, pemenang nobel fisika 1979) di pembuka novelnya: ‘Semakin alam semesta tampak bisa dipahami, semakin pula kelihatan tidak ada maknanya.’ Bagaimana pun cerita seputar rekayasa genetika membawa kita ke gambaran tubuh manusia sebagai benda kasar, seperti halnya mobil atau mesin jahit. Bagian-bagiannya bisa ditukar, diganti, atau diperjual-belikan secara terpisah. Bedanya, mobil dan mesin jahit tidak bisa memperbarui tubuhnya sendiri. Mual?

Cerita berikut ini akan membuatmu lebih mual. Seorang ibu bernama Georgia Bellarmino curiga dengan bekas luka memar di perut anak perempuannya. Sudah beberapa kali Georgia melihat luka semacam itu di perut Jennifer yang berusia enam belas tahun . Si anak bersikukuh itu luka biasa akibat benturan tak sengaja. Nalurinya sebagai ibu membawanya ke kamar anak perempuannya, memeriksa dengan teliti dan, wow, dia menemukan obat-obat fertilitas di plafon kamar mandi anaknya. Gerogia tercengang, apa yang terjadi dengan anaknya. Untuk apa dia menyuntikkan obat penyubur itu ke tubuhnya sendiri? Jawabannya datang dari salah satu teman kerja Georgia. Dia bercerita ,’...gadis-gadis remaja ini menyuntikkan hormon, memompa indung telur mereka, menjual sel telur...dan mendapatkan uang.”

Cerita utama di novel Next juga berkaitan dengan bagian tubuh yang diperjual belikan. Frank Burnett dikaruniai keistimewaan karena dalam tubuhnya terdapat rangkaian sel penghasil zat pemerang kanker, cytokine. Rangkaian sel itu ditemukan oleh dokter di UCLA, kemudian dipatenkan dan dijual lisensinya kepada perusahaan bioteknologi bernama BioGen. Sebagai pemegang lisensi atas rangkaian sel Burnett itu, BioGen merasa berhak memanen rangkaian sel Burnett kapan pun mereka membutuhkan dan menjualnya kepada yang membutuhkan. Bayangkan saja tubuh Burnett tak lebih dari ladang sel yang dimiliki BioGen. Ketika masalah ini dibawa ke pengadilan, Burnett kalah. Dia tidak punya hak atas tubuhnya sendiri di bawah ketentuan bernama eminent domain. Eminent domain mengacu pada hak negara untuk mengambil milik pribadi tanpa izin pemiliknya. Inilah problematika patent gen yang dikecam Crichton.

Lebih jauh Crichton juga tak sependapat dengan anggapan bahwa jaringan tubuh manusia yang sudah terlepas dari tubuh asalnya tidak memiliki ikatan lagi dengan pemilik asalnya. ‘Pendapat yang mengatakan jika kita sudah berpisah dengan jaringan kita, kita tidak lagi memiliki hak apa pun atasnya, adalah tidak masuk akal.’ Dia menekankan bahwa manusia memiliki ikatan emosional dengan bagian tubuh manapun yang dimilikinya. Ikatan itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Atau diputus secara paksa. Seakan Crichton ingin menggarisbawahi pemberian makna bagi tubuh manusia sebagai kesatuan utuh yang memiliki jiwa, dan tidak bisa disamakan dengan, katakan, mobil dengan businya atau mesin jahit dengan jarumnya.

Baca selengkapnya...

[Next] Periklanan Genomis

>> Kamis, 02 Juli 2009

Dunia periklanan seolah selalu haus ruang untuk aktualisasi diri. Tak cukup dengan billboard raksasa, lantai supermarket dan badan bus kota juga dijadikan tempat beriklan. Sudah cukup lama pula pintu lift dijadikan media iklan, seakan orang yang sedang menunggu di depan lift adalah mereka yang tengah ‘kosong’ pikirannya, dengan demikian menjadi sasaran empuk kampanye pemasaran.

Bagaimana jika para insan kreatif periklanan bertemu dengan ahli genetika? Hasilnya adalah periklanan genomis: makhluk hidup direkayasa secara genetis sehingga secara ‘alami’ akan menampilkan logo perusahaan di badan makhluk itu. Ada ikan hiu dengan logo Cadburry, belut laut menampakkan Mark& Spencer di permukaan kulitnya yang kehijauan, badak afrika bermerek Land Rover dan tentu saja Jaguar garang yang dipersembahkan oleh Jaguar. Wah...

Tentu saja ini akan membuat para pecinta lingkungan mual dan geram. Bagi kebanyakan orang mungkin ini mimpi buruk. Tapi bagi orang periklanan, dalam novel Next diwakili oleh tokoh bernama Gavin Koss, ini adalah upaya bisnis sekaligus budi daya. Spesies yang ‘disponsori’ perusahaan tertentu akan terlindung dari kepunahan karena perusahaan-perusahaan ini mencadangkan dananya untuk melindungi mereka. Bagi Koss, ini situasi win-win, bagi perusahaan, lingkungan hidup dan tentu saja bagi bidang periklanan.

Apakah ini hanya sekedar wacana? Sayangnya, di novel ini jawabannya adalah tidak. Diam-diam sudah ada yang berupaya ke arah itu. Di Pantai Tortuguero, Costa Rica, dua orang pengamat penyu melihat ada sinar lembayung yang aneh di cangkang beberapa penyu yang mereka amati. Cahaya yang berpendar saat gelap itu seperti menampakkan pola yang khas mirip logo sebuah perusahaan. Nah!

Baca selengkapnya...

[Next] Awalnya (hanya) tanaman transgenik

Ada yang baru menyadari bahwa tahu dan tempe bukan makanan ‘sembarangan’, karena bahan bakunya hampir 100% impor. Mirip mobil-mobil built up. Ketika akhir tahun 2007 harga kedele melonjak tajam seiring harga minyak, kita seakan baru sadar bahwa 70%an kedele adalah produk impor. Dan hampir dipastikan kedele asal AS itu adalah produk transgenik. Banyak juga yang kemudian gelisah menyangkut keamanan mengonsumsi produk transgenik dan olahannya. Apalagi Indonesia sepertinya belum memiliki regulasi yang jelas menyangkut bahan pangan transgenik ini. Memang ada PP No. 20 tahun 2005 yang meng-amanatkan pembentukan Tim Teknis Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan. Namun sampai sekarang tim itu belum terbentuk. Bahkan peraturan yang lebih lama yaitu PP No. 69 tahun 1999 mengharuskan produk pangan, termasuk yang transgenik, diberi label. Dengan label ini konsumen bisa menentukan pilihan, apakah mau memilih yang ‘alami’ atau yang transgenik. Sayangnya, sampai sekarang pelabelan itu pun tidak berjalan. Di negara-negara maju, sudah lazim disebutkan di label, bahwa makanan tersebut mengandung persentase tertentu materi transgenik.

Kedele, juga jagung, kapas, kentang, adalah produk yang sudah banyak dipasarkan dalam bentuk produk transgenik, atau lebih sering disebut GMF (Genetically Modified Food). Sering juga disebut, dengan sinis, sebagai frankenfood. Kedele ini dihasilkan melalui ‘pengayaan’ genetis, antara lain dengan menyisipkan bakteri tanah yang mampu menghasilkan pestisida alami. Dengan begitu, hama yang menyerang kedele itu akan mati dengan sendirinya. Uniknya, pengayaan genetis kedele itu banyak ragamnya. Bahkan ada yang ‘dirancang’ khusus untuk dijadikan makanan ternak. Wah, apakah konsumen tahu hal ini dan bisa membedakannya dengan kedele untuk dibuat tahu atau tempe?

Buru-buru menteri pertanian Dr. Anton Apriantono mengatakan bahwa ‘belum ada bukti bahwa kedele transgenik membahayakan kesehatan.’ Jangka pendek memang iya, bagaimana efek jangka panjangnya? Bahkan korban manusia akibat produk transgenik juga pernah ada (kasus suplemen kesehatan transgenik di AS yang memakan korban tewas 37 orang tahun 1989). Ada baiknya didengar juga pendapat mereka yang mewaspadai produk transgenik ini. Mereka umumnya keberatan atas 3 hal: pertama, bahaya terhadap lingkungan : kemungkinan tanaman termutasi ‘menulari’ tanaman lain sangat terbuka, misalnya melalu penyerbukan. Bisakah ini dikendalikan?

Kedua, sudah tentu kemungkinan bahayanya bagi manusia. Dalam kasus kedelai yang disisipi ‘gen pestisida’, bagaimana dampaknya bagi manusia dalam jangka panjang? Apalagi kedele dan produk turunannya termasuk makanan yang tingkat konsumsinya tinggi di Indonesia. Ketiga, secara ekonomis produk transgenik ini membuat ketergantungan negara berkembang kepada negara maju. Produk transgenik dikenal memiliki sifat ‘gene suicide’, ditanam untuk berbuah sekali dan mati. Buahnya pun steril, sehingga petani menjadi tergantung terhadap bibit pasokan negara-negara maju.

(dari berbagai sumber)

Baca selengkapnya...

[Next] Penyembuhan penyakit melalui rekayasa genetika.

>> Rabu, 01 Juli 2009

Harian Kompas tanggal 6 Juni menurunkan laporan penelitian ilmuwan Jepang di bidang rekayasa genetika. Dari penelitian tersebut ‘dihasilkan’ primata transgenik yang diharapkan bisa menjadi terobosan bagi pengembangan terapi mengatasi gangguan syaraf otak. Pemanfaatan teknologi genetika untuk mengatasi penyakit ini sudah lama dikembangkan sejak penemuan teknik kunci dalam genetika molekular pada pertengahan tahun 1970-an. Sejak itu para ahli genetika mencoba menemukan gen-gen yang ‘bertanggung jawab’ atas munculnya penyakit tertentu, khususnya penyakit yang bersifat menurun.

Ada sebuah cerita menarik di novel Crichton ini.

Seorang dokter ahli penyakit dalam tiba-tiba digugat oleh seorang wanita yang tidak dikenalnya. Wanita itu ternyata adalah ‘anak biologis’ sang dokter. Bagaimana mungkin? Rupanya sewaktu kuliah dulu, dokter itu pernah menyumbangkan sperma secara anonim kepada seorang ibu melalui bank sperma. Persoalannya, sperma dokter itu ternyata mengandung gen-gen kecanduan AGS3 (ketergantungan pada heroin). Gara-gara gen sialan itu, wanita ‘anak biologis’ tersebut menjadi seorang pecandu dan hidupnya terlunta-lunta. Dengan segala cara dia berusaha mencari siapa pemilik sprema ‘bermasalah’ itu. Kegigihannya itu membawa hasil dan kini ia menggugat, ‘Kau seharusnya tidak boleh menyumbangkan sperma yang kurang baik... Kau adalah aib bagi profesi kedokteran. Membebani orang lain dengan penyakit genetismu...’

Penemuan gen-gen ‘biang kerok’ itu tidak serta merta membawa harapan bagi seluruh manusia karena para ahli genetika itu kemudian sibuk mematenkan penemuannya. Ini salah satu yang dikecam Crichton sebagaimana dia tulis di catatan penutupnya. Mematenkan gen adalah langkah yang tidak masuk akal. ‘...Memberi hak paten atas gen sama saja dengan memberikan hak paten atas besi dan karbon.’ Problem paten atas gen ini menyeret manusia pada persoalan justru mencemaskan. Crichton memberi contoh pada kasus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). Penyakit menular ini memiliki tingkat kematian sepuluh persen dan telah menyebar ke puluhan negara seluruh dunia. Namun riset ilmiah untuk melawan penyakit ini justru terhambat gara-gara kekhawatiran menyangkut hak paten gen. Pada waktu itu ada tiga pihak yang secara bersamaan mengajukan paten atas genom SARS.

Catatan nomor satu dari Crichton berbunyi: hentikan membuat hak paten gen.

Baca selengkapnya...

[Next] Bermain dengan Tuhan?

Banyak orang berpendapat bahwa dengan rekayasa genetika manusia seakan-akan sedang bermain dengan Tuhan. Mengenai pendapat ini, Crichton melalui tokohnya Dr. Robert Bellarmino mengatakan:

‘Tuhan adalah pencipta DNA, yang menjadi dasar keanega ragaman hayati planet kita. Mungkin karena itulah beberapa kritikus rekayasa genetika mengatakan kita tidak boleh melakukannya karena ini seperti bermain dengan Tuhan. Beberapa doktrin ekologis juga mempunyai pandangan sama, bahwa alam itu sakral dan tak boleh diganggu gugat. Kepercayaan semacam itu tentunya sesat.’

Selanjutnya:



‘Tuhan memberi manusia tugas dan tanggung jawab untuk memelihara bumi dan semua makhluknya. Kita bukan bermain jadi Tuhan. Kita harus mempertanggung jawabkan pada Tuhan bila kita tidak menjadi penanggung jawab atas apa yang diberikan Tuhan kepada kita dalam segala keagungan dan keaneka ragaman hayatinya.....’

‘Rekayasa genetika menggunakan sarana yang diberikan Pencipta kepada kita untuk melakukan pekerjaan yang baik di planet ini. Tanaman yang tidak dilindungi dimakan hama atau mati beku dan kekeringan. Modifikasi genetis bisa mencegahnya...’

‘Rekayasa genetika hanya langkah lain dalam tradisi yang sudah lama diterima. Tidak menandai penyimpangan radikal dari masa lalu... Kadang-kadang kita mendengar opini bahwa kkta tidak seharusnya mengubah DNA, titik. Tapi, mengapa tidak? DNA tidak permanen. Seiring waktu DNA berubah....’

Namun berkaitan dengan penerapan rekayasa genetika pada manusia, Bellarmino tidak bisa menyembunyikan kegundahannya :

‘...Jadi, kita memodifikasi DNA atau tidak? Ini pekerjaan Tuhan atau kesombongan manusia? Keputusan-keputusan tersebut tak boleh dianggap enteng. Begitu juga topik yang paling sensitif, penggunaan sel benih dan embrio....Saya sendiri tidak punya jawaban...Saya mengakui hati saya gundah.’

Di bagian lain, dalam sebuah tanya jawab dengan siswa sekolah lanjutan, Bellarmino lagi-lagi harus menghadapi pertanyaan: ‘Bukankah kloning berarti bermain jadi Tuhan?’ Bellarmino menjawab:’Secara pribadi saya tidak mendefinisikan seperti itu. Kalau Tuhan menciptakan manusia dan menciptakan seisi dunia lainnya, sudah jelas Tuhan membuat alat rekayasa genetika....Itu karya Tuhan bukan manusia.’

Sampai di sini tentu perdebatan akan mengarah ke ranah pemikiran spekulatif. Ahli-ahli di luar bidang rekayasa genetika mestinya dilibatkan.

Baca selengkapnya...

Next, setelah itu apa?

>> Senin, 29 Juni 2009

Michael Jackson, King of Pop itu telah mangkat. Ia meninggalkan kerajaan Neverland miliknya. Kita tahu, Neverland adalah situs metaforis tempat bersemayam Peter Pan, tokoh rekaan J.M. Barrie yang menolak menjadi tua. Bukan tanpa sengaja MJ memilih nama Neverland, dan hubungannya dengan Peter Pan serta ide tak pernah menjadi tua. MJ sendiri memang tak akan pernah mengalami masa tua karena His Story* selesai di usia setengah baya. Baiklah MJ, You’re not Alone*, sebab ide menolak tua itu telah ada sepanjang masa. Dan kini salah satu harapannya ada di tangan para ahli genetika. Benarkah?

Mari kita bayangkan kemungkinannya melalui novel Michael Crichton terbaru dan terakhir, Next. Edisi Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, April 2009. Bagi sebagian kita yang tidak mengikuti dengan seksama perkembangan teknologi genetika, penuturan Crichton di novel ini mungkin akan menimbulkan tanda tanya: sudah sejauh itukah manusia bermain-main dengan kode genetik? Coba tengok harian Kompas edisi 6 Juni 2009. Di situ diturunkan laporan berjudul ‘Primata Transgenik: kontroversial tetapi menjanjikan’. Itu hanya sebagian dari berbagai pencapaian di bidang rekayasa genetika dan sudah tentu dengan berbagai persoalan di sekitarnya.

Berbeda dengan novel Crichton lainnya, alur cerita Next tidak hanya terpusat pada satu atau dua tokoh sentral. Bahkan beberapa peristiwa tidak saling berhubungan satu dengan lainnya. Rangkaian cerita utamanya berpusat pada perusahaan bioteknologi bernama BioGen yang mengembangkan rangkaian sel penghasil zat pemerang kanker bernama cytokine. Sel-sel tersebut diambil dari tubuh seorang laki-laki bernama Frank Burnett. Burnett selama bertahun-tahun tidak menyadari bahwa sel-sel dari tubuhnya diambil oleh BioGen dan digunakan untuk kepentingan komersial perusahaan itu. Dia dan anak perempuannya yang berprofesi pengacara menggugat ke pengadilan, dan Rick Diehl sang CEO BioGen, berupaya keras mempertahankan ‘kepemilikan’ mereka atas rangkaian sel Burnett yang telah dipatenkan. Sebuah ‘pertempuran’ seru terjadi, baik di dalam maupun di luar ruang sidang. Sementara itu, di laboratorium miliknya, Diehl juga mengembangkan gen lain yang disebut gen kedewasaan yang berkaitan dengan penyakit degeneratif syaraf (wah!). Pengembangan gen ini juga bukan tanpa masalah, bahkan sempat merenggut korban jiwa.

Dalam kisah-kisah lainnya, yang tidak berhubungan dengan alur cerita utama tadi, Crichton juga bercerita panjang lebar tentang topik-topik lain seputar rekayasa genetika. Seperti penemuan orang utan di Sumatra yang bisa berbicara; penyu di Costa Rica yang bisa mengeluarkan cahaya lembayung; seorang wanita yang menuntut ‘ayah biologisnya’ -- seorang dokter yang pernah menjadi donor sperma bagi ibunya dan beberapa kisah yang sepertinya dimasukkan Crichton untuk menjelaskan berbagai pandangan (termasuk pandangannya sendiri) mengenai rekayasa genetika. Termasuk yang berkaitan dengan ‘posisi’ Tuhan dalam persoalan ini. Melalui salah satu tokohnya Crichton menuliskan,’Rekayasa genetika memungkinkan kita membagikan kemurahan hati Tuhan....insulin murni untuk penderita diabetes, faktor pembeku murni untuk penderita hemofilia. Sebelumnya, para penderita ini banyak yang meninggal karena kontaminasi. Tentunya, yang menciptakan kemurnian ini adalah pekerjaan Tuhan. Siapa yang akan menyatakan sebaliknya?’

Novel ini cukup nikmat diikuti karena Crichton membagi tiap peristiwa menjadi fragmen dalam bab-bab pendek dan terpisah. Bab ke-88 bahkan tak sampai satu halaman panjangnya, membuat kita bisa berhenti di mana pun dan masuk lagi ke fragmen berikutnya. Namun peristiwa-peristiwa yang berserakan, pendek dan begitu cair membuat kita tidak mendapatkan suasana yang benar-benar mencekam seperti pada novel Crichton lainnya, misalnya Congo.

Crichton juga membuat catatan khusus mengenai topik rekayasa genetika ini di akhir novelnya plus buku-buku yang menjadi rujukan. Seakan dia merasa tidak cukup puas memaparkan pendapatnya melalui tokoh-tokoh protagonis di novel ini. Melalui Next, Crichton menyikapi secara kritis perkembangan teknologi genetika dan menyodorkan tombol pilihan kepada kita: next/lanjut -- tanpa ada kemungkinan untuk kembali atau berhenti sampai di sini.

Gagasan pemuliaan gen untuk kesejahteraan manusia sampai sekarang masih menjadi persoalan yang tak ada habisnya diperdebatkan. Di akhir tahun 80-an, Arifin C Noer mementaskan lakon Ozone di Bandung. Salah satu tokoh di drama itu bernama Waska. Tokoh Waska bahkan menolak untuk mati dan melalui teknologi khususnya rekayasa genetika, ia berhasil mengalahkan waktu. Namun di titik itulah tragedi muncul. Kehidupan ‘abadi’ itu tak lain sebuah hukuman yang jauh lebih menyakitkan dibanding hukuman mati. Dia melayang-layang di angkasa dalam pesawat khususnya, melihat kekerasan demi kekerasan di bumi, merasakan kesepian mencekam, iri pada kematian dan terus terjaga hingga hari kiamat tiba. Dalam hal ini, agaknya Arifin ingin mengatakan bahwa persoalan yang lebih relevan dikemukakan bukan seberapa lama seorang manusia mampu bertahan hidup di muka bumi ini...



*) HIStory adalah salah satu album Michael Jackson, di mana lagu You’re Not Alone ada di dalamnya. Lagu yang memukau ini ditulis oleh R. Kelly, dirilis tahun 1995 menandai masa sulit yang sedang dialami Jacko waktu itu karena tuduhan melakukan ‘child abuse’.






Baca selengkapnya...

Pengikut

  © Blogger template Palm by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP